Dalam kehidupan bersosial, kita tak akan pernah bisa jauh dengan sosok-sosok manusia yang disebut ‘teman’. Sekumpulan orang dengan latar belakang berbeda yang mempunyai hubungan dengan kita. Tak sedikit yang dengan yakin mengatakan, salah satu harta yang paling berharga setelah keluarga adalah teman.

Kita, manusia, pada dasarnya adalah makhluk homososial. Sebelum adanya ikatan pernikahan, cowok akan lebih lekat berkawan dengan cowok, dan cewek akan berkawan dengan cewek. Pada dasarnya memang begitu. Tapi nyatanya, tak semua begitu. Kita kini hidup di mana latar belakang jenis kelamin tak lagi jadi perkara dalam menciptakan pertemanan atau persahabatan. Namun, karena melekatnya cap kalau cowok dan cewek hanya bisa hidup di dunia homososial, orang-orang di sekitar kita kerap menilai yang tidak-tidak ketika melihat seorang cowok dan seorang cewek berteman intim.

Catatlah: ketika dua insan berbeda jenis kelamin berada dalam satu ruangan tertutup, tidak selalu melibatkan sex. 

Bisa juga berisi obrolan intelektual di dalamnya. via static.pexels.com

Advertisement

Sebagai sekelompok orang yang tak membatasi pertemanan dan persahabatan, kami kerap mendapatkan tudingan atau prasangka yang miring dari mereka. Apalagi ketika mereka tahu kami sangat dekat, bahkan tak sungkan untuk saling berbagi cerita dalam satu ruangan hanya berdua. Mereka cuma berpikir kalau seorang cowok ditambah seorang cewek sama dengan seks. Hell, no! Kolot sekali pikirannya.

Hubungan kami hanya sebatas persahabatan. Kami sering berjalan bersama, membicarakan problem asmara kami masing-masing, berbagi cerita soal kehidupan, mendiskusikan hal-hal intelek, bahkan hingga saling mengingatkan soal agama. Akan tetapi, kuping kami selalu terasa panas dengan orang-orang yang punya penilaian miring terhadap jenis pertemanan kami. Kami sebenarnya biasa saja awalnya, tapi lama-lama punya perasaan risih juga dengan pola pikir orang-orang kolot seperti itu. Mereka pikir kami punya hubungan asmara, bahkan sampai menuduh kami melakukan yang tidak-tidak.

Catat: ketika cowok dan cewek bersama, hal-hal yang mereka bahasa tidak hanya soal sex, guys!

Persahabatan kami punya istilah bernama Platonis. Persahabatan yang juga bisa membawa kami lebih dekat dengan Tuhan kami masing-masing.

“Eh udah solat belum lu? Solat cepet sana!” via s-media-cache-ak0.pinimg.com

Advertisement

Siapa bilang persahabatan macam ini adalah sebuah anomali? Persahabatan seperti ini digambarkan filsuf Yunani kuno, Plato, sebagai sebuah hubungan yang tak soal kebutuhan fisik – atau yang kita sebut dengan cemewew – melainkan masalah spiritual murni. Jika seorang cewek dan seorang cowok mempunyai hubungan sepanjang waktu tapi tak punya status sebagai pacar, kekasih atau pasangan resmi, maka sebutan persahabatan mereka disebut Platonis.

Merujuk kepada tulisan-tulisan Plato, cinta persahabatan Platonis ditandai dengan tidak adanya minat hubungan fisik atau seksual. Plato memang mengakui kalau orang seperti kami punya hasrat fisik, tetapi jika dua orang benar-benar terinspirasi satu sama lain, cinta mereka lebih ke arah spiritual atau ideal yang akan membawa keduanya lebih dekat kepada Tuhan.

Jadi, bisa saja persahabatan berbeda jenis kelamin itu saling memberikan masukan, atau bahkan saling mendorong dalam masalah spiritual ‘kan? Sangat bisa.

Ketika kami berdua, kami juga punya alasan bahwa setiap makhluk punya cara pikir berbeda. Cowok dengan logikanya, cewek dengan perasaannya. 

Karena kami perlu sudut pandang lain. via i.huffpost.com

Dengan segala hormat, untuk lahirnya persahabatan dua individu berbeda jenis kelamin, tak perlu ada salah satu individu yang menyimpang orientasi seksualnya. Orang-orang mungkin bakal lebih memahami itu ketimbang dua individu yang sama-sama tak memiliki orientasi seksual yang menyimpang.

Kami merasa tak ada yang salah dengan pertemanan seperti ini. Kami benar-benar merasa nyaman setiap kali pertemuan dan obrolan kami cuma dilakukan dua orang, tanpa teman yang lain. Isi pembicaraan kami bisa lebih intim (kami yakin akan ada yang miskonsepsi dengan kata ini), kami bisa lebih mengutarakan isi hati kami, tanpa intervensi atau interupsi dari orang lain. Kami pun nggak perlu merepotkan diri sendiri menyamakan obrolan supaya orang lain ikut dalam alur pembicaraan kami.

Kami tak sepenuhnya menyalahkan orang-orang yang mungkin terpengaruh karena norma dan nilai yang berada di masyarakat, ditambah peran media di dalamnya. Sebab kami memang hidup di negara yang budaya ketimuran. Namun tetap saja, lama-lama kami jengah dengan tudingan yang tidak-tidak dari masyarakat. Karena bukanlah individu yang tidak-tidak seperti yang masyarakat luas pikirkan. Atau kami pikir, jangan-jangan, yang tidak-tidak itu adalah cuma pikiran mereka.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya