3 Alasan Film ‘Fifty Shades Darker’ Harusnya Tayang di Indonesia. Biar Penggemar Film Lebih Bijak!

Bagi beberapa orang, tiada bulan yang paling romantis ketimbang bukan Februari. Nuansa kasih sayang begitu melekat. Wajar jika produser film Fifty Shades Darker, sebuah film sekuel Fifty Shades of Grey, memilih momen hari kasih sayang sebagai waktu launching filmnya tersebut. Namun sayangnya, banyak orang di Indonesia pesimis film tersebut bakal tayang di Indonesia. Pasalnya, Fifty Shades Darker diprediksi memiliki banyak adegan seksual di dalamnya, sehingga wajar jika banyak pihak yang meragukan Lembaga Sensor Film (LSF) bakal mengizinkan film tersebut ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia.

Advertisement

Namun kali ini, Hipwee Boys mau ngasih alasan ah kenapa film Fifty Shades Darker harusnya tayang di Indonesia. Setuju atau nggak, ya, nanti tergantung individu masing-masing saja. Daripada panjang lebar, langsung simak aja yuk, pembahasannya!

Yakin, film ini bikin penasaran banyak orang. Masa harus menunggu sampai ada bajakannya. Pelarangan justru jadi efek buruk, lho

Masa nunggu bajakan :(

Masa nunggu bajakan 🙁 via cdn3-www.comingsoon.net

Film pertama, Fifty Shade of Grey, sebenarnya bisa saja tayang di Indonesia, tapi kala itu Lembaga Lulus Sensor (LSF) tak mengizinkannya. Namun minat pecinta film untuk menonton film tersebut tak hilang. Beberapa orang bahkan sampai ada yang terbang ke Singapore demi menyaksikan Fifty Shades of Grey. Sisanya, mereka menonton film tersebut secara ilegal, termasuk menonton via layanan nonton film secara streaming.

Berdasarkan data yang Hipwee Boys peroleh dari situs Bioskop Keren, ada sekitar 289 ribu orang yang telah menonton film tersebut secara ilegal. Bayangkan, itu baru satu situs, belum situs-situs penyedia nonton film streaming. Nah, nasib serupa diprediksi bakal menaungi perjalanan Fifty Shades Darker. Takkan diizinkan LSF tayang, tapi bakal tetap memancing orang untuk menonton, termasuk secara ilegal. Ini jelas jadi tindakan yang paradoks. Katanya memerangi pembajakan, tapi malah menikmati hasil pembajakan.

Advertisement

Sudah saatnya berhenti melihat film cuma dari satu sisi saja. Film adalah sebuah karya seni, termasuk Fifty Shades of Grey. Lagipula ini bukan film porno kok

Ceritanya juga menarik

Ceritanya juga menarik via a.abcnews.com

Persis seperti film pada umumnya, Fifty Shades Darker adalah sebuah karya seni. Para produser jelas tak ujug-ujug dalam menciptakannya. Ada beberapa elemen yang turut membangun sebuah film, seperti narasi, dialog, artistik, teknik kamera, sampai teknik pencahayaan yang membuat film tersebut layak disebut karya seni. Jadi salah jika kamu hanya memandang Fifty Shades Darker sebagai film yang cuma menonjolkan adegan porno. Lagipula, jika dibandingkan dengan film-film semi lain, seperti Blue is The Warmest Color atau The Dreamer, film Fifty Shades of Grey (film sebelumnya dari Fifty Shades Darker) bisa dibilang tak terlalu syur. Lalu, bukankah setiap film biasanya punya pengkategorian soal batas umur? Jadi nggak terlalu bermasalah juga jika yang nonton itu mereka yang wajib telah memenuhi batasan umur.

Menanti cerita yang bakal disuguhkan. Film jelas akan terasa lebih mengena ceritanya jika didukung oleh fasilitas keren di bioskop

Fifty Shades of Grey berhasil membuat banyak penonton di seluruh dunia tertarik. Kisah romansa yang dibarengi oleh kelainan seksual sadomasokis membuatnya jadi berbeda dengan film-film lainnya. Sejumlah pihak bahkan berani menilai bahwa film tersebut lebih baik dari novelnya. Sebuah anomali yang jarang ditemukan dalam film adaptasi. Sebuah media internasional, The Guardian, jadi salah satu pihak yang setuju, dan mengatakannya, “Lebih baik daripada adaptasinya (novelnya)”.

Hal ini tentu bikin orang-orang yang pernah menonton film Fifty Shades of Grey penasaran dengan sekuel filmnya. Membuat sekuel sebuah film merupakan sebuah pertaruhan, lantaran banyak contoh film sekuel yang tak sebagus film pertamanya. Tak heran jika banyak orang menunggu cerita selanjutnya dengan dukungan visual dan audio yang mengesankan lewat fasilitas bioskop. Ini jadi salah satu alasan urgensi film Fifty Shades Darker tayang di Indonesia. Bayangkan jika film La La Land tak ditayangkan di bioskop Indonesia. Kita takkan merasakan pengalaman menonton bioskop rasa drama teater yang mengesankan.

Pada akhirnya, keputusan ada pada pihak yang berwenang soal Fifty Shades Darker. Kami cuma mau mengungkapkan apa yang ada di pikiran saja soal pesimisme para pecinta film tentang kemungkinan tayang Fifty Shades Darker di Indonesia. Lagian, memangnya orang Indonesia ini makhluk tak punya otak yang pasti akan melakukan kejahatan seksual setelah melihat film ini apa? Nggak juga, ‘kan? Selain itu, dalam beberapa sisi, padahal film-film superhero dari Marvel yang kental dengan doktrin superioritas barat malah justru lebih bahaya dibanding film ini. Kalau menurutmu gimana? Ditunggu pendapatnya di kolom komentar, ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

A brocoli person.

40 Comments

  1. Saya sudah menonton nya wajar sj sbnarnya hnya di indonesia sendiri mungkin terlalu tabuh di banding negara2 tetangga yg legalitasny sudah ad pd negara.. tp memang btas umur utu perlu dterapkn ap lgi memasuki bioskop seenggk nya hrus mnunjukn ktp ato id card sblm masuk ke dlm studio movie. Thanx

  2. Stevani Zhang berkata:

    Tidak Kepo Maka Tak Sayang, Makanya….
    Yukk Kepoin Dulu Sahabatkartu(.)com
    BBM : 2*B*C*D*B*E*E*2

  3. Keke Haruka berkata:

    HARI GINI MASIH AJA DUDUK DIAM ?TANPA USAHA ?? HMM…
    REJEKI TIDAK AKAN DATANG KALO HANYA DI TUNGGU LOH !! : )

    REJEKI BUKAN DI TUNGGU TAPI DI KEJAR : ) KEJAR NYA DI http://WWW.IDOLAPOKER.COM
    TEMPAT PALING PASTI MEMBERIKAN REJEKI DI SAAT KANTONG BOLONG : )

    PERMAINAN GAME ONLINE YANG SUDAH DI AKUI 100 % TERPERCAYA,TERBAIK,DAN AMAN DI KALANGAN GAME POKER ONLINE,DOMINO DAN CAPSA SUSUN

    BUKTIKAN SENDIRI YA FAKTA NYA : )

    1 User ID Bisa Di- mainkan untuk 6 Games ;
    ( Texas Poker, Domino QQ, AduQ, BandarQ, Capsa Susun, dan Bandar Poker )

    NO ROBOT, NO ADMIN, NO TIPU MENIPU > 100 % REAL GAME, FUN, LUCKY IPAD > IPHONE
    – Proses DEPO Dan WITHDRAW yang sangat cepat dan mudah hanya membutuhkan waktu 2-3 menit

    SUDAH DI PASTIKAN IDOLAPOKER.COM TEMPAT NYA BAGI BAGI REJEKI UNTUK KANTONG BOLONG : ) BURUAN DAFTAR YA GUYS.., KALO TIDAK MAU KETINGGALAN REJEKI : )

    LINK ALTERNATIF : IDOLAPOKER.COM / IDOLAPOKER.NET / IDOLAPKR.COM

    Pin BBM : 7AFF4A66
    YM : cs.idolapoker
    Wechat : idolapoker
    Line : cs.idolapoker
    Telepon : 081269903693

  4. Desi Setiani berkata:

    sebenernya sihh gapapa ditayangin di indonesia CUMA pengawasan mengenai batasan umur harus benar2 ketat (harus dicek KTP dan Kartu Mahasiswa minimal, anak SMA jgn sampai boleh lihat/masuk), walaupun bakal bikin antri banget tapi harus bener2 ketat pengawasannya..

  5. Rekod Vindiana berkata:

    Film yg pertama fifty shade of grey aja bikin nerinding ya romantisnya grey.. gak melulu masalah adegan nya. Tpi inti dari cerita nya juga tersampaikan dan bikin penasaran buat kelanjutanya.. kalo bisa berharap sihh bisa tayang di bioskop.. biar sy gak liat yg ilegal..

  6. Ahmad Robi berkata:

    Setuju biar para pedagang timun laris. :v

  7. Ari Ardhana berkata:

    ayolah kawan,,,,
    mungkin kita bisa anggap film ini biasa aja, atau mikir ga ada pornonya…
    tapi kan itu kita,,, yg lebih dewasa dan mampu mengontrol diri..

    trus bagaimana dengan anak anak kecil??
    anak anak yg sangat mudah tertarik dengan hal seperti itu..
    mungkin akan lebih baik kita protektif asalkan kita tidak membuat anak anak terjerumus di usianya yg belum tepat..
    kalaupun dengan pengawasan dibawah umur apa bisa bioskop kita narikin KTP untuk tau usia, dan juga tingkat kewasaan juga ga selalu sesuai dengan batas umur dewasa di KTP..

    akan lebih banyak manfaatnya jika kita bijak menyikapinya 🙂
    dan gak papa kan kalau kita menyelamatkan generasi bangsa… 🙂 terutama anak anak..

    😀

  8. Meutya Amir berkata:

    Padahal film horor indonesia lbh banyak scene mesumnya drpd fifty shades���

  9. Syiva Nooraini berkata:

    Bisa saja, waktu teman saya mau nonton film 18+ dia gak dibolehin sama yg jual tiket. Karena dia diminta KTP-nya dan dia masih 17th

  10. Imelda Imel berkata:

    Setuju banget, bahkan saya sampai terbang ke singapore untuk menonton ini. Seharusnya orang melihat dari sisi positifnya, mungkin tentang batas umur yang harus diperhatikan aja. film ini bagus loh terutama novelnya.

CLOSE