“Would you know my name

If I saw you in heaven?

Would it be the same

If I saw you in heaven?”

Eric Clapton – Tears in Heaven

Dalam hati, kita pasti akan menjawab, “Yes, I would”, ketika mengilustrasikan mendiang Muhammad Ali-lah yang bertanya.

Advertisement

Awan kelam menyelimuti hati banyak orang di seluruh dunia. Bagaimana tidak, dunia harus kehilangan sosok yang sudah menjadi legenda, Muhammad Ali. Hampir semua orang berbondong-bondong mengucapkan doa dan rasa kehilangannya, entah secara nyata maupun lewat media-media sosial.

Ia tak hanya berjuang di ring tinju, tapi juga untuk orang-orang yang kerap menerima ketidakadilan. Muhammad Ali bukanlah seorang petinju biasa. Kisah-kisah selama hidupnya yang sungguh menginspirasi banyak orang, utamanya untuk laki-laki. Kali ini, Hipwee menghimpun fakta-fakta tentang Muhammad Ali yang inspirati buat kamu, guys!

Meskipun di kelilingi banyak wanita, Ali adalah sosok teladan bagi banyak laki-laki dalam hal sayang anak.

Sosok yang sayang anak.

Sosok yang sayang anak. via ronemy927charlotte.files.wordpress.com

Setiap orang memang mempunyai kisah cintanya masing-masing. Selama hidupnya, Muhammad Ali dikelilingi oleh banyak wanita cantik dan banyak istri. Tapi lihatlah Muhammad Ali dari sisi lain. Ali adalah sosok ayah yang sangat dekat dengan anaknya. Kalau tak percaya, tontonlah  sebuah film dokumenter tentangnya berjudul ‘I Am Ali’.

Advertisement

Dalam beberapa adegan, Ali tampak intim dengan anak-anaknya, seperti Hana Ali dan Laila Ali. Ia adalah tipe ayah yang sangat diidam-idamkan setiap anak. Pada bagian film lainnya, ia terekam dalam suara sedang akrab dengan putrinya, May May Ali. “Ini adalah mikrofon dan ketika kamu menjadi gadis dewasa nanti, aku akan memainkannya lagi sehingga kamu dapat mendengar ini,” begitulah yang dikatakan Ali.

Sosok Ali yang jauh berbeda dengan di atas ring juga disampaikan May May dalam film dokumenter ini. “Ayah saya punya banyak sisi dan Anda mendengar tentang pertarungan. Anda tidak mendengar banyak tentang keluarga dan apa artinya bagi dia,” demikian kata May May Ali.

Bukan cuma lihai bertinju, Ali juga cakap dalam merangkai sebuah kata-kata. Puisi juga bisa lho!

Juga seorang perangkai kata yang handal.

Juga seorang perangkai kata yang handal. via i.dailymail.co.uk

Enggak heran sih kalau banyak yang kecantol sama Ali. Wong orangnya jago banget memainkan kata-kata. Dari kata-kata yang puitis, romantis sampai kata-kata yang bisa membakar semangat orang-orang. Kalau enggak percaya, coba aja cek saja sendiri akun Instagramnya. Bukan foto atau gambarnya, guys, tapi caption-nya. Quotable.

Pada satu sesi wawancara dengan salah satu program acara, Muhammad Ali ditantang membaca sebuah puisi oleh sang pembawa acara. Tapi ya bukan Ali namanya kalau enggak berani. bahkan berani tampil untuk membaca puisi.

Better far from all I see

To die fighting to be free

What more fitting end could be?

(Selengkapnya simak video di bawah ini)

Ketika banyak orang memilih bungkam, ia jadi sosok penentang ketidakadilan.

muhammad-ali-quote-views-world

Dengerin tuhhh.. via www.theironsamurai.com

Beberapa saat setelah berita meninggalnya legenda tinju tersebut merebak dan menjadi topik hangat orang-orang seluruh dunia, Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, menulis surat yang cukup membuat para pembacanya terbawa suasana. Dalam suratnya, ia menyandingkan sosok Ali seperti Nelson Mandela sebagai pejuang kemanusiaan.

“Ia tegak berdiri dalam kondisi sulit, dan ia lantang bersuara ketika yang lainnya bungkam. Pertarungannya di atas ring akan membuatnya kehilangan gelar dan juga kehilangan panggung di depan publik,” tulis Presiden Amerika Serikat kulit pertama tersebut.

“Pertarungan bisa membuatnya memiliki musuh di samping kanan dan kiri, dibenci, dan nyaris masuk penjara. Tapi Ali tegak berdiri mempertahankan kepercayaannya. Dan kemenangannya membantu kami untuk menjadi Amerika Serikat yang kita kenal saat ini,” tambahnya.

Muhammad Ali memang kerap jadi sosok antagonis, tapi itu ia perankan hanya di ring tinju. Tidak untuk di luar ring.

Di ring boleh antagonis...

Di ring boleh antagonis… via pbs.twimg.com

Saat masih remaja, namanya tercantum sebagai calon tentara Angkatan Darat AS. Namun, Ali tidak lolos karena nilai tes mental dan IQ yang cuma mencapai 78. Di tahun yang sama, di usia 18 tahun, ia malah berhasil mengejutkan banyak orang dengan memenangkan medali emas Olimpiade 1960.

Pada 1966, ketika karirnya sebagai petinju sedang  naik, Angkatan Darat AS menurunkan persyaratan soal hasil tes dan memberikan kesempatan bagi orang yang bernilai mental dal IQ rendah untuk bergabung. Ali pun akhirnya diterima dan langsung dimasukkan ke dalam Angkatan Darat AS dan berkesempatan ikut ke Vietnam untuk berperang. Merebaknya kabar tersebut membuat Ali langsung menyatakan penolakannya.

Mending dipenjara daripada membunuh sesama manusia.

Mending dipenjara daripada membunuh sesama manusia. via i2.wp.com

“Hati nurani takkan membiarkan saya pergi untuk menembak saudara saya, atau beberapa orang yang lebih gelap, atau beberapa orang miskin yang kelaparan untuk menunjukan kekuatan besar Amerika. Dan, untuk apa menembak mereka? Mereka tidak pernah memanggil saya negro, mereka tidak pernah mengkeroyok saya, mereka tidak menyamakan anjing dengan saya, tidak juga merenggut status kebangsaan saya, memperkosa atau membunuh ibu dan ayah saya,” kata Ali.

“Untuk apa? Bagaimana mungkin saya bisa menembak mereka? Bawa saja saya ke penjara.”

Begitulah Ali. Dalam kehidupan sesungguhnya, Ali adalah sosok yang protagonis. Berbeda dengan sosoknya di ring tinju yang antagonis.

Sesosok manusia bermulut besar, tapi seimbang dengan prestasinya, baik di dalam maupun luar ring.

Seimbang dengan mulut besarnya.

Seimbang dengan mulut besarnya. via i.guim.co.uk

Muhammad Ali memang dikenal sebagai orang bermulut besar yang bisa diimbangi dengan prestasinya. Namun, atas dasar itu, tak sedikit orang-orang hebat yang mengaguminya. Salah satu pesepakbola yang punya tabiat sama: banyak omong, yaitu Zlatan Ibrahimovic.

Secara implisit, Ibrahimovic mengatakan bahwa seorang Ali adalah role model dalam kehidupannya. “Saya mengakui kalau ia (Ali) memang orang yang bermulut besar. Namun, mulut besarnya itu sebanding dengan kemampuan yang ia miliki,” kata Ibrahimovic.

“Ia membuktikannya di dalam ring dengan mengalahkan lawan-lawannya. Bagi saya, ia berbicara sesuai dengan kemampuan yang ia miliki.

Setuju atau tidak, semakin banyak seseorang berbicara, semakin banyak orang-orang yang menagihnya. Tanpa terkecuali Muhammad Ali. Tapi apa yang dimiliki Ali tak perlu kita risauka. Ia bisa menjawabnya dengan prestasi dan sematan yang akan melegenda: The Greatest.

Sosok Muhammad Ali memang sungguh inspirasional bagi kita semua, terlebih buat cowok-cowok. Jasadnya mungkin kini telah berbalut kain putih dan tertimbun tanah, tapi semua kebaikan dan kisahnya akan kita ingat sepanjang masa. Semoga tenang di sana, Muhammad ‘The Greatest’ Ali! Terima kasih telah menginspirasi kita semua.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya