Kamis malam di awal bulan November, saat sedang menghabiskan waktu dengan ngopi di sebuah kedai Kopi Jos sekitaran Stasiun Tugu Yogyakarta, saya melihat tiga Sales Promotion Girl (SPG) berpencar dan berjalan ke sana ke mari menawarkan sebungkus rokok. Hampir setiap orang yang sedang melakukan aktivitas sama dengan saya, nggak cewek-nggak cowok, mereka sambangi.

Namun yang menarik pada malam itu bukanlah tentang produk rokok — yang kata para SPG — baru dan punya rasa berbeda dengan rokok pada umumnya (saya nggak peduli sebab bukan perokok). Bukan pula tentang wajah bingung yang menggemaskan salah seorang SPG saat mencari kedai yang bisa menerima tukaran uang untuk kembalian seorang konsumen, melainkan momen di mana beberapa cowok dari tempat duduk yang berbeda melemparkan cat call pada SPG tersebut.

Melihat realitas tersebut, saya tersenyum. Bukan karena terhibur tapi merasa miris. Sebuah senyuman yang spontan hadir bukan tanpa alasan. Sebab, tepat dua hari sebelumnya, saya melakukan komunikasi dua arah yang mendalam (bisa dibilang wawancara) dengan seorang SPG.

“Kami bekerja menawarkan barang, bukan menawarkan diri. Itu yang perlu dipahami semua orang.”

Itulah kata-kata paling saya ingat pada percakapan tersebut. Penasaran dengan percakapan yang terjadi antara saya dengan seorang SPG asal Yogyakarta, Alisa (bukan nama sesungguhnya)? Yuk langsung simak!

Di antara motif-motif lain, motif ekonomilah yang paling bisa mendorong seseorang menerima segala risiko buruk jadi seorang SPG

Advertisement

Karena motif ekonomi via www.gaikindo.or.id

Tidak bisa dipungkiri bahwa alasan utama orang bekerja adalah kondisi ekonomi. Kebutuhan primer yang harganya makin meninggi (apalagi soal papan), godaan iklan-iklan produk barang teknologi yang bikin konsumen ingin membeli, pun biaya pendidikan yang makin tinggi, membuat seorang manusia harus bekerja untuk mendapatkan itu semua. Hal-hal tersebutlah yang jadi alasan Alisa untuk memilih pekerjaan di bidang promosi penjualan sebagai SPG.

“Sebelum memutuskan kuliah, aku sempat kerja dan fokus di online shop. Aku nggak langsung kuliah karena aku mikir-mikir lagi soal biaya. Orangtua keberatan karena nggak ada kesiapan ekonomi gitu. Makanya aku baru kuliah setelah dua tahun lulus SMA. Itupun aku pakai tabunganku sendiri. Ya, bisa dibilang telat sih, tapi nggak masalah menurutku,” kata Alisa soal motif utamanya kerja jadi SPG.

Alisa, yang telah ditinggal meninggal ibunya, kini mengaku bersyukur bisa hidup lebih mandiri. Urusan kuliah pun dia sendiri yang membiayai. Beberapa barang yang jadi penunjang mobilitas berhasil dia dapat dengan jerih payahnya sendiri. Sedikit-banyak, Alisa pun bisa ikut membiayai adiknya yang masih sekolah di salah satu SMP negeri Yogyakarta.

Dia bisa jadi anak yang mandiri dan nggak berpangku tangan pada orangtua. Bahkan bisa ikut biayai adiknya sendiri.

Pekerjaan SPG itu rawan dengan pelecehan seksual, entah itu secara verbal maupun non-verbal

Pelecehan verbal dan non verbal via bukajasa.co.id

Untuk terjun menjadi seorang SPG, menurut Alisa, bukanlah pekerjaan yang mudah. Seperti kita ketahui, masyarakat beranggapan kerja menjadi seorang SPG itu bisa dengan mudah mendatangkan rupiah. Cukup modal fisik, isi dompet jadi asik.

Namun siapa yang menyangka di balik pekerjaan tersebut terdapat pertentangan bathin para cewek yang kerja di jenis pekerjaan tersebut. Kesiapan menerima pandangan miring dari orang-orang sekitarnya, sampai potensi-potensi pelecehan yang bisa diterima saat bekerja, jadi hal yang kerap jadi bahan pertentangan bathin para penggiatnya. Seperti yang pernah dialami Alisa pada sebuah gelaran pameran alat-alat militer di sebuah mall.

“Aku pernah jual produk di Jogja City Mall. Aku masih inget banget. Soalnya, belum lama kejadiannya. Nah waktu itu kebetulan lagi ada pameran alat-alat TNI dan banyak bapak-bapak di sana. Kalau sebagai SPG. ya, aku biasalah nawari produk ke beliau-beliau pake nada persuasif,” kata Alisa.

Menurut Alisa, ada satu bapak yang mau beli tapi dengan syarat. Kamu pasti mafhum apa syarat yang diminta pria, yang kata Alisa, paruh baya. Namun dengan tegas ditolak oleh Alisa.

Cewek yang lahir tahun 1994 tersebut berkata, “Keliatan bangetlah muka-muka pengen dari bapaknya. Terus dia minta pin BBM-ku. Aku bilang, ‘Haduh, aku nggak main BBM, Pak. Maaf ya, Pak’. Aku sama partnerku sesama SPG ngerti ini.”

Sejauh pengalaman terjun di pekerjaan ini, menurutnya, itulah yang paling tindakan-tindakan yang paling parah pernah dialami. Kalau senggol-senggol sedikit mah, kata Alisa, bisa diatasi sendiri dan untungnya SPG itu selalu dijaga sama orang perusahaan terkait.

Sudah saatnya menghentikan pengidentikan seorang SPG dengan hal esek-esek. Baiknya kita tahu dulu apa yang ada di baliknya

Kalau nggak tau, jangan asal ngecap via kompas.com

Stigma negatif terhadap SPG sudah terlanjur tersebar di masyarakat. Namun nggak ada salahnya untuk kita lebih menghargai pekerjaan tersebut dan berhenti memandang SPG buruk. Kita juga harus berpikir ulang kala melihat SPG, kemudian mengidentikannya dengan pekerjaan esek-esek.

“Aku pernah kesal sama salah satu temanku yang nebar kebencian waktu presentasi kuliah. Dia bilang, ‘SPG itu kerjanya harus dengan cara-cara nakal biar produk laku’. Lebay banget ‘kan sampai menilai dan menyebut SPG kudu genit dan nakal?” kata Alisa dengan nada serius.

Alisa yang tak terima, mengaku langsung mendamprat temannya tersebut secara langsung saat itu juga. Pembelaan, kata Alisa, itu harus supaya nggak jelek citra SPG.

“Waktu dia presentasi, aku langsung interupsi dia dan bilang, ‘Nggak kayak gitu ya! Nggak sampai nakal-nakal gitu. Kita nggak semurahan itu. Sebagai SPG, ya, hanya menawarkan barang dengan cara persuasif’,” jelas Alisa saat menceritakan sergahannya terhadap teman kuliahnya.

Kalau ada godaan, Alisa mengatakan harus ingat dosa. Apalagi soal orangtuanya yang sudah memberikan kepercayaan

Sayang keluarga adalah pasti via www.life-magazine.be

Ketika kamu mendengar pengakuan ini, sangat mungkin kamu mengatakan ini sebuah pembelaan dan bisa jadi Alisa hanya berbohong. Namun saya sama sekali merasakan tak ada kebohongan yang dia ucap saat wawancara. Alisa sangat lancar menjawab apa yang saya tanyakan. Tak ada gestur-gestur keraguan atau bahasa tubuh yang bisa kita kenali kalau dia bohong.

Lanjut ke isi obrolan yang kami lakukan, Alisa mengaku tipe orang yang bisa menjaga diri. Dia mengaku di pundaknya ada nama baik dirinya, keluarganya, sampai ibunya sendiri yang telah meninggalkannya lebih dahulu. “Orangtuaku tahu kalau aku kerja seperti ini. Beliau nggak melarang, tapi aku selalu ingat titipan beliau supaya bisa hati-hati dan jaga diri,” tutur Alisa.

“Jadi SPG itu harus pintar membawa dan menjaga diri, mas. Kalau nggak, ya, nanti kamu bisa terjerumus sama hal yang nggak-nggak. Dan yang perlu diingat adalah orang-orang yang nakal seperti itu memang ada. Namun, nggak semua begitu,” kata cewek yang mengaku bisa mendapatkan penghasilan Rp 150.000 – Rp 300.000 per harinya saat ikut sebuah event.

Terakhir, inilah pesan dari Alisa yang sangat mungkin mewakili cewek-cewek lain yang juga kerja sebagai SPG

nawari produk, bukan diri! via 4.bp.blogspot.com

Tidak salah jika orang memandang jelek pekerjaan SPG. Sebab, mereka yang terlibat dengan masalah esek-esek itu memang ada, tapi nggak semua SPG seperti itu. Nggak usah memukul rata. Persis seperti mereka yang kerja jadi wakil rakyat. Yang korupsi memang ada, tapi nggak semuanya. Nggak semuanya busuk. Pun begitu dengan polisi. Mereka yang suka morotin memang ada, tapi nggak semua kayak gitu.

“Kenapa sih kebanyakan masyarakat harus mukul rata. Mereka yang begitu memang ada, tapi nggak banyak. Aku suka kesel sendiri kalau ada nyinyiran simpanan om-om atau orang ketiga rumah tangga orang. Aku heran, masyarakat kayaknya gampang banget menaruh penilaian negatif sama SPG,” tutur Alisa.

Menurut Alisa, masyarakat nggak tahu aja di balik perjuangan para SPG. Apalagi ketika melihat teman-temannya sepekerjaan, Alisa kerap menemukan mereka yang single parent. Sebenarnya, kata Alisa, di dalam pekerjaan ini ada banyak orang yang bekerja justru demi orang lain. Entah itu membantu orangtua, atau pun untuk menghidupi keluarga dan anak sendiri.

Lebih lanjut, Alisa mengaku kerap risih ketika menerima godaan-godaan dari para cowok hidung belang, tapi untungnya dia bisa mengatasi. Dengan tegas Alisa berkata, “Kami mah lempeng-lempeng aja. Orang ini harus profesional. Kami bekerja menawarkan barang, bukan menawarkan diri. Itu yang perlu dipahami semua orang.”

Ihwal nyinyiran dari kebanyakan masyarakat pun Alisa berani menjamin kalau uang yang dia dapat itu halal. “Duit kita dapat dengan kerja keras, pontang-panting, kadang seharian penuh, kadang nggak ada liburnya, pulang bisa paling akhir kalau ada acara, dan ada target juga. Terus kenapa bisa dengan mudah menilai kalau SPG itu kerjaannya gampang?”

Percakapan serius antara saya dan Alisa pun selesai bertepatan dengan adzan Isya yang berkumandang. Dan siapa — termasuk saya — yang sangka, kalau kemudian dia meminta izin ke belakang dan mencari musola untuk menunaikan solat Isya.

“Kenapa harus nilai akhlak seseorang dari pekerjaannya?” ucap saya dalam hati.

PS: Maaf kalau judul nggak sesuai sama isi. Sengaja saya kasih judul seperti itu, sebab kita biasanya lebih tertarik dengan hal-hal yang buruk, ketimbang mengetahui kebaikan seseorang. When you’re good, no one remembers. When you’re bad, no one forgets.