Belum lama ini, dunia pendidikan Indonesia dibuat heboh lagi dengan berita meninggalnya tiga mahasiswa yang sedang mengikuti pendidikan dasar sebuah organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) di Gunung Lawu, Jawa Timur. Jika kejadian tersebut adalah murni sebuah kecelakaan, seperti mahasiswa tersesat dan hilang berhari-hari atau terpleset ke jurang gara-gara kondisi tanah yang basah, mungkin media tak akan seintens ini memberitakan. Paling mentok ekspos media berhenti sampai momen di mana mahasiswa tersebut ditemukan oleh tim SAR, dan jika meninggal, bisa jadi berita berhenti untuk diproduksi paska mereka dimakamkan.

Namun kali ini jelas berbeda. Ketiga mahasiswa UII tersebut meninggal karena berada dalam kondisi di mana mereka sedang mengikuti pendidikan dasar sebuah organisasi pecinta alam. Yang lebih janggal, kenapa mereka bisa sampai keluar darah dari dubur, kenapa mereka tidak dibawa ke rumah sakit terdekat, dan kenapa panitia tidak segera mengabari keluarga setelah tahu salah satu calon anggotanya sedang berada di titik terlemah dalam hidupnya. Maraknya kejanggalan dan munculnya indikasi adanya penganiyayan — yang katanya ulah oknum senior — itulah yang membuat media massa bukan cuma mengambarkan, tapi juga jadi pengawas dan pengawal kasus tersebut. Tak heran, kabar meninggalnya tiga mahasiswa UII tersebut menggema ke seantero negeri, baik itu media online, cetak, TV, radio, maupun media sosial. Kasus mahasiswa UII hanyalah satu dari banyak kasus yang mencoreng nama pecinta alam. Kali ini Hipwee Boys ingin membahas bagaimana oknum-oknum nggak bertanggung jawab itu merusak nama pecinta alam. Yuk, langsung disimak aja!

Kasus tersebut berefek buruk pada citra para pecinta alam. Mereka pecinta alam sejati pasti menyayangkan kejadian tersebut

Yang tabah, bu...

Yang tabah, bu… via cdn2.tstatic.net

Advertisement

Atas pengeksposan kasus tersebut, cap buruk tak cuma menghinggapi Mapala UII. Organisasi pecinta alam serupa yang berada di bawah naungan sekolah atau kampus lainnya secara tak langsung mendapatkan citra buruk. Bayangkan saja, kalau benar ada tindak kekerasan yang ‘di luar batas’ terjadi pada pendidikan dasar tersebut, betapa miringnya masyarakat luas memandang jelek organisasi pecinta alam.

Orang-orang yang tadinya mungkin tertarik jadi anggota pecinta alam, bisa mengurungkan niat. Atau orangtua yang tadinya cukup percaya atau hendak percaya pada organisasi pecinta alam dalam menitipkan anaknya belajar dengan alam, berlatih fisik dan kekuatan mental, bisa jadi punya perasaan waswas.

Eros Ainurrahman, seorang alumni organisasi pecinta alam Palasigma UGM, menyayangkan kejadian tersebut. Dia bahkan tak segan menyebut biadab kepada para pelaku. “Saya menaruh rasa hormat pada Mapala Unisi. Sebenarnya mereka itu berprestasi. Beberapa orang yang saya kenal pun punya ketangkasan di atas rata-rata sebagai penggiat pecinta alam. Namun kita nggak bisa memungkiri, perbuatan biadab itu pasti ulah oknum yang nggak bertanggungjawab. Saya pikir ini kelewatan,” tutur Eros ketika dihubungi Hipwee.

Advertisement

Di sisi lain, seorang alumni pecinta alam Gempala asal Tasikmalaya, Idham Ramadhan, menceritakan pengalamannya dalam menjalani pendidikan dasar. Idham menuturkan bahwa jika para korban sampai disebutkan mengeluarkan darah dari dubur, rasanya sudah ada yang berlebihan terjadi. “Sudah di luar batas wajar,” kata Idham kepada Hipwee.

Hukuman bagi orang yang sedang mengikuti Diksar, kata Idham, biasanya cuma hukuman yang bentuknya melatih daya tahan fisik, seperti push up sampai squat jump. “Dulu waktu masih zamanku, paling parah jika ada yang melanggar aturan, ya, paling sekadar tamparan jari-jari. Tamparannya cuma sekadar jari-jarinya yang mengenai kami, bukan telapak tangan utama,” ungkapnya.

“Memang ada kontak fisik, tapi, ya, sekadar itu tadi. Sekarang saya dengar sudah tak diperbolehkan aturan tersebut digunakan. Di jajaran dunia pecinta alam biasanya mengenal istilah teguran kalau kita teledor. Diharapkan dengan adanya hukuman tersebut, para calon pecinta alam sadar bahwa tamparan alam bisa lebih kejam daripada tamparan manusia,” lanjut Idham.

Kasus tersebut jelas mencoreng nama pecinta alam beserta organisasi-organisasi sejenisnya. Bagaimana pun harus ada kejelasan tentang kasus dan benar-benar diusut supaya tak banyak orang berspekulasi atau menilai buruk pecinta alam lainnya. Ngomong-ngomong, kalau kasus di atas tadi bisa dengan jelas merusak nama, adakah hal lain yang mampu membuat jelek nama percinta alam? Yuk digeser aja layarnya ke bawah!

Vandalisme merupakan sebuah perbuatan terkutuk bagi para pecinta alam. Kalau ada yang sampai melakukannya, bisa tercoreng nama pecinta alam

Tangannya gatel amat ya? Sini garukin pake piso~

Tangannya gatel amat ya? Sini garukin pake piso~ via 1.bp.blogspot.com

Beberapa tahun lalu. kita dikejutkan dengna aksi vandalisme sekelompok orang di Gunung Fuji. Masih ingat? Mereka yang tak bertanggungjawab membuat nama Indonesia tercoreng. Bertuliskan ‘CLA-X INDONESIA’, coretan tersebut tergores di atas salah satu batu gunung termasyhur di Jepang tersebut. Ini jelas memalukan, lantaran masyarakat Jepang sangat menganggap mulia dan sakral alam.

Hipwee sih meyakini coretan yang membuat orang Indonesia malu tersebut bukanlah produk tangan para pecinta alam. Namun, jika hal yang Hipwee yakini salah. Bisa tercoreng nama segenap pecinta alam Indonesia.

Jangan pernah meninggalkan apa pun di alam, kecuali jejak kaki. Apalagi sampai ninggalin sampah plastik, itu haram hukumnya

Katanya pecinta alam. Tanggungjawab dong sama sampahnya sendiri

Katanya pecinta alam. Tanggungjawab dong sama sampahnya sendiri via 4.bp.blogspot.com

Leave nothing but footprint,” begitulah salah satu poin isi etika lingkungan hidup universal. Kamu boleh membawa berbagai macam barang untuk kebutuhanmu saat beraktivitas di alam liar. Akan tetapi, jangan lupa dengan sampah anorganik yang kamu hasilkan untuk dibawa kembali dan dibuang ke tempat sampah. Andai ada orang-orang pecinta alam ketahuan membuang sampah sembarangan, bisa hilang esensi dari kata “pecinta alam” itu sendiri. Cuma bikin malu para pecinta alam yang bertanggungjawab aja!

Para pecinta alam seharusnya tak mengedepankan ego demi setangkai bunga dengan mitos cinta abadi

Jangan dipetik!

Jangan dipetik! via www.exploregunung.com

Orang-orang kerap salah kaprah dengan bunga edelweis. Terutama bagi para pendaki yang kegiatan mendakinya cuma sebagai legitimasi dari tren film ‘5 cm’ atau bisa juga demi kekasih hanya karena mitos cinta abadi. Namun kalau kamu termasuk pecinta alam sejati, kamu pasti paham bahwa bunga edelweis kini keberadaannya sudah langka dan dilindungi. Cuma pecinta alam karbitan saja yang dengan kejam mengurangi populasi bunga tersebut demi dibawa pulang dan pura-pura hidup di sebuah vas bunga. Orang-orang jahat seperti ini nggak pantas disebut pecinta alam, melainkan perusak alam. Ingat dua poin etika lingkungan hidup; Take nothing but picture (Jangan ambil apa-apa kecuali foto) dan Kill noting but time (Jangan membunuh apa pun kecuali waktu).

Bertindak asusila adalah perbuatan yang sangat dilarang. Ingat, kamu tidak cuma hidup sendiri di alam terbuka

Jangan! Dosa!

Jangan! Dosa! via 2.bp.blogspot.com

Menikmati alam memang sangat menyenangkan jika dilakukan dengan pasangan. Namun momen tersebut harusnya nggak disusupi kepentingan nafsu. Bagi para pecinta alam, alam bisa menunjukan kekuatannya jika mereka diusik dengan perbuatan-perbuatan yang tak sopan. Maka dari itu, tindakan asusila sangat dilarang oleh para pecinta alam. Pun ada oknum yang melakukan perbuatan tersebut, mereka cuma mempermalukan para pecinta alam yang sudah berkomitmen menghormati alam dengan menjaga kesopanan.

Menasbihkan diri sebagai pecinta alam artinya adalah ada tanggungjawab besar yang harus dipikul. Bukan sekadar untuk gaya-gayaan atau supaya disegani. Jika niat utama tak benar-benar untuk ikut mecintai alam, bisa jadi kamu malah jadi perusak alam. Ingat, alam adalah sesuatu yang sakral dan mulia.

Dan kedua, pun tajuknya pendidikan dasar bagi calon anggota, bukankah ada baiknya jika kegiatan tersebut dijauhkan dengan kegiatan kontak fisik yang berlebihan? Melatih fisik dan mental memang sebuah keharusan yang dimiliki para calon anggota demi kesiapan mereka dalam menghadapi momen-momen genting yang mungkin terjadi di alam terbuka, tapi arti melatih jelas berbeda dengan merusak. Apa yang telah dilakukan beberapa oknum Mapala UII jelas bukan sesuatu yang bijak. Bahkan jauh dari kata bijak, dan dekat dengan kata biadab.

Tearakhir, walaupun masih dalam tahap penyelidikan, kenapa akun Instagram orang yang disebut korban — sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya — bisa sampai dihapus ya?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya