Judul diatas memang merupakan sebuah pernyataan yang tak bisa diaplikasikan kepada semua orang. Pernyataan tersebut mungkin bisa dibilang sebagai asumsi sepihak yang mungkin akan ada ribuan orang yang tidak setuju. Namun, di luar semua itu, peryataan tersebut adalah sebuah hasil dari fakta hubungan yang seringnya ditolak oleh banyak orang.

Terkait dengan gambar cowok ganteng dengan cewek yang, maaf, kurang cantik di sosial media akhir-akhir ini, banyak orang yang memuji cowoknya. Well, bukanya skeptis sih, tapi kalau menurutku, si cowok bisa melakukan itu karena dia masih belum dewasa. Memang benar dewasa dan umur sering tidak ada hubungannya, namun dalam konteks hubungan kekasih, dewasa dan usia sangatlah berhubungan. Karena kita semua, merasa begitu yakin dengan pacar kita pada masa SMA, tapi tidak banyak dari kita yang akhirnya memutuskan menikah dengan pacar SMA kita.

Artikel ini bukanlah sebuah ejekan atau apapun karena pada dasarnya banyak cowok juga bangga dengan si cowok ganteng di sosmed itu. Dan lagi ini bukan tentang dia dan pacarnya, ini tentang perbedaan cara pandang seseorang yang belum dewasa dan yang sudah dalam melihat sebuah hubungan. Ini hanyalah sedikit realita yang mungkin banyak orang mengalaminya, namun lupa mengingatnya.

SMA dan awal kuliah adalah masa indah. Semua terlihat jauh lebih indah dari kenyataannya pada masa itu

Pada masa itu, kita semua lebih mudah tersenyum via i2.wp.com

Ingatkah kalian pada saat pertama kali punya pacar dulu? Rasanya seperti sebuah kebahagiaan yang tidak bisa digantikan lagi, sudah puncak. Bahkan, pada waktu itu kita menikmati perbedaan pendapat, berantem, dan ketidak cocokan lainya. Banyak dari kita yang menganggap itu adalah bagian dari romantisme, ya kalau orang pacaran kadang yang harus ada ngambek-ngambek manjanya gitu. Tapi, bagaimana setalah beberapa kali pacaran dan beberapa kali kecewa? Apakah masih selucu itu sebuah hubungan pacaran? Apakah kita masih mau menoleransi kelemahan dan keburukan pasangan kita sampai sejauh itu? Bagi beberapa orang baik mungkin masih bisa, tapi mayoritas orang akan sulit melakukan itu.

Advertisement

Pada masa itu kita semua sangat mudah tertawa. Tidak mudah lelah hati dan jiwa. Tapi, semuanya akan berubah saat harus masuk ke kehidupan dewasa. Ada banyak tuntutan, ada banyak hal yang harus dipenuhi. Memang ada orang yang tetap akan positif hidupnya sampai ajal menjemput, tapi apakah semua orang bisa seperti itu?

Bukannya orang dewasa tidak bisa jatuh cinta. Mereka hanya lebih realistis dalam menyikapi fakta

Bukan cinta lagi, tapi pertemanan via www.waadvisoryservices.com.au

Ada orang yang bilang “tidak masalah tidak cantik wajahnya, yang penting cantik hatinya”. Well, mungkin saja memang ada banyak orang semacam itu, namun apakah bisa semua cowok melakukan itu, saya yakin tidak. Bagi cowok dewasa, pacar atau bahkan istri adalah representasi ego, sebuah kehormatan. Tidak ada seorang laki-laki yang tidak mendidih hatinya saat ada orang lain bilang “pasti dia baik ya sampai kamu mau”. Buat anak SMA ini seperti romansa, buat orang sudah dewasa ini seperti dihina. Memang ada orang dewasa yang saking cintanya pada seseorang mereka tidak peduli lagi dengan hal remeh-temeh seperti fisik dan penampilan, tapi jumlah orang seperti sangat sedikit. Selain itu, orang-orang seperti bukanya tidak dewasa, justru karena dewasa dan sudah capek sakit hati. Kasus seperti itu memang ada tapi itu kasus istimewa yang tidak semua orang mampu melakukanya.

Bagi orang yang sudah dewasa, jatuh cinta bukan tentang “aku cinta kamu sampai mati” atau “aku akana menerimamu apa adanya” lagi, tapi tentang “meskipun kamu anoying dan menyebalkan aku akan menghabiskan hidupku denganmu, bukan dengan orang lain”. Mudahnya, bagi orang dewasa hubungan bukan tentang cinta, tapi tentang penerimaan.

Karena hampir semua orang dewasa adalah manusia dengan hati yang penuh luka

Bukankah kita semua sudah kenyang dengan kesendirian? via www.zastavki.com

Kedawasaan seseorang tidak datang dari umurnya, tapi dari pengalamannya. Hampir semua orang menemukan kedewasaanya dari pengalaman buruk, patah hati, kekecewaan. Anak SMA tidak pernah tahu rasanya bagaimana pacaran 5 tahun dan ditinggal pergi dengan temannya sendiri. Anak SMA tidak akan tahu rasanya bagaiamana rasanya pacaran 10 tahun tapi tidak jadi menikah. Anak SMA tidak tahu rasanya gimana harus berpisah karena agama atau batal menikah beberapa hari sebelum hari H. Pengalaman semacam itulah yang akhirnya membuat kebanyakan orang dewasa melihat dunia dengan lebih skeptis.


Bukannya bilang semua anak SMA tidak tahu rasanya sakit atau semua orang dewasa adalah manusia yang hatinya hancur, bukan itu. Hanya saja, semua memang lebih indah dulu. Pada waktu kita semua masih belum tau gimana kerasnya kehidupan orang dewasa, saat kita semua belum tahu bahwa dewasa adalah tentang kemampuan untuk merelakan hal-hal yang sangat kita inginkan. Dunia ini indah, tetapi tidak seindah bayangan anak SMA. Dunia ini indah bagi orang-orang yang mau menerima bahwa nyatanya hidup ini dibentuk oleh suka dan duka, bukan romansa semata.