Yap! Tahun ajaran baru sudah dimulai kembali, segalanya kembali lagi ke rutinitas biasa. Sedikit “cipika-cipiki” dan basa-basi dengan kawan-kawan lama pun tak henti-hentinya. Mulai dari “Ih kangen banget! Liburan kemana aja?”, “Kok sekarang kurusan?”, sampai yang lumayan frontal “Gimana IPK kemarin?”.

Tapi, ternyata ada banyak perbedaan signifikan yang terasa, bahwasanya usia tidak lagi sekedar angka. Menjadi mahasiswa yang duduk di tahun ketiga jelas bukan hal yang sederhana. Tuntutan atas kelulusan mulai membayang dan kami tidak lagi bisa menutup mata atau pura-pura semua baik-baik saja…

Akhirnya kami tahu juga rasanya punya dua adik angkatan. Di tahun ketiga, kami ‘sah’ jadi senior di berbagai kepanitiaan!

Advertisement

Rasanya waktu tidak lagi berjalan cepat, tapi berlari mengejar kami. Karena ingatan akan euforia atas pelepasan status putih abu-abu masih jelas teringat. Rasanya baru kemarin, kami menikmati euforia menjadi bagian dari kepanitiaan ospek untuk pertama kalinya, atau memiliki adik angkatan untuk pertama kalinya.

Tapi sekarang, melihat adik angkatan yang notabene dua tahun di bawah kami membuat hati sedikit bergidik ngeri. Kami harus menghadapi kenyataan bahwasanya kami sudah cukup senior di kampus. Bahkan, kami boleh dibilang khatam soal seluk-beluk perkuliahan ini.

Kami sadar segalanya tak lagi sama. Jika dulu kami biasa dipanggil dengan nama atau sebutan “Dik”, sekarang yang terjadi justru sebaliknya.

Yang paling jelas terasa pastinya kala dimana-mana kami mulai dipanggil dengan sebutan “Kak”. Di mata kami, sepertinya anak-anak angkatan tahun ini terlihat masih bocah. Hehehe. Mereka masih terlihat begitu naif dan mati-matian berusaha untuk membiasakan diri dengan dunia perkuliahan yang baru bagi mereka.

Advertisement

Kami sendiri tentu sudah sangat familiar dengan segala yang terjadi di kampus. Bertemu dalam satu mata kuliah umum, kami menjadi semakin sering dipanggil dengan sebutan “Kak” padahal dulu kamilah yang biasanya menggunakan kata itu untuk memanggil kakak angkatan.

Setiap hari, banyak wajah-wajah baru yang kami temui. Sementara, kakak-kakak angkatan mulai jarang “nongol” di kampus karena bergulat dengan skripsi.

banyak wajah-wajah baru via commdept.fisip.ui.ac.id

Ketika kami mencari kakak kelas kami yang mungkin baru saja menyelesaikan KKN, kami pun mendapati kesulitan untuk menemukan mereka. Dalam hati kami pun menyadari kalau sekarang pastilah mereka sedang sibuk dengan urusan sendiri. Yup, mengerjakan skripsi! Mereka tak bisa diganggu karena tuntutan untuk lulus. Hanya satu-dua saja yang akan kami temukan. Beberapa mungkin sedang mengajukan judul skripsi, bertemu dosen pembimbing, atau justru menjadi pendamping dosen. Ah, segalanya memang berubah terlalu cepat, ya…

Teman-teman satu angkatan juga akan lulus satu per satu. Sedih rasanya menyadari kebersamaan dengan mereka hanya tinggal menunggu waktu.

semua tinggal nunggu waktu via gangstamonsta.blogspot.co.id

Bersama mereka, teman-teman dengan berbagai latar belakang budaya ini membuat kami – terlebih untuk anak rantau – merasa memiliki keluarga baru. Karena teman-teman inilah kami mampu bertahan di tengah kerasnya kehidupan perkuliahan, karena teman-teman inilah kami belajar untuk menghargai perbedaan dan tertawa di dalam perbedaan. Tapi kebersamaan ini nyatanya juga memiliki deadline, batas waktu untuk diakhiri. Entah cepat atau lambat, kami akan terpisah.

Ingin rasanya menikmati waktu di kampus tercinta. Tapi kami tak punya pilihan lain, lebih baik mulai menyiapkan diri daripada menyesal nantinya.

menyiapkan diri buat skripsi via cooklibrary.wordpress.com

Memilih untuk bersama dengan teman-teman rasanya menjadi godaan terbesar kami. Karena hanya tinggal menunggu waktu di mana masing-masing dari kami akan sibuk dengan urusan masing-masing bahkan mulai melangkah di jalan yang berbeda ke depannya.

Tapi kami pun harus mulai memupuk tabungan untuk bekal lulus nanti. Kami yang sedari kemarin hanya sibuk mencari kebersamaan, bukankah sekarang saatnya kami harus memperbaiki nilai dan diri ini? Karena tidak selamanya kami terus menikmati masa-masa kuliah dan bergantung pada orang tua ‘kan?

Selalu ada akhir dari sebuah cerita. Meski kenangan di masa-masa awal kuliah belum terlupa, kami sudah masuk golongan angkatan tua dan harus segera jadi sarjana!

harus nyusul jadi sarjana! via syambarkah.blogspot.co.id

Siap atau tidak siap, kami memang pantas disebut angkatan tua. Untuk sesaat, ‘denial’ menjadi gagasan yang amat menenangkan tetapi pada akhirnya kami harus menghadapi kenyataan bahwa catatan akhir kuliah sedang kami jalani.

Duh, nggak siap sih masuk golongan mahasiswa angkatan tua, tapi mau bagaimana lagi? Karena nggak ada yang bisa kami sesali, curhat dan baper sedikit boleh dong ya… 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya