Dian Sastrowardoyo baru-baru ini mengaku dikecewakan dan tersudutkan oleh sebuah pemberitaan tentang dirinya. Siang tadi, aktris cantik itu mempublikasikan sebuah klarifikasi untuk kutipan komentarnya dari Kompas.com yang dinilai tidak tepat. Persoalan ini berkaitan dengan Aksi Kendeng, sebuah aksi demonstrasi dari sembilan ibu-ibu asal Rembang, Jawa Tengah yang mengecor kaki mereka sendiri dengan menggunakan semen di depan Istana Negara, Jakarta.

Mulanya, Dian Sastro–bareng Hanung Bramantyo–menjadi pembicara dalam acara seminar bertajuk Spirit Kartini dalam Membangun Bangsa yang Mandiri, Kreatif, dan Berkarakter yang dihelat di Jepara, Jawa Tengah pada Sabtu (17/4). Pada sesi tanya-jawab, seorang peserta seminar menanyakan opini pribadi dari Dian perihal Aksi Kendeng yang dilakukan oleh ibu-ibu yang menyebut dirinya Kartini Kendeng tersebut.

Selang beberapa jam, Kompas.com merilis berita bertajuk Terkait Aksi Kendeng, Ini Kata Dian Sastro. Isinya melaporkan tanggapan Dian terhadap isu yang ditanyakan oleh peserta tersebut. “Saya melihat fenomena bicara perempuan itu, ada tanda tanya besar. Apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa yang bicara malah perempuan, saya enggak tahu,” ujar Dian, seperti tertulis dalam artikel berita Kompas. com. “Itu jadi menarik adanya kasus sekarang. Ibunya lepas dong dari politik, kembali ke urusan domestik”.

Ups, komentar di artikel itu segera menyulut kemunculan sejumlah meme yang menyindir Dian. Ia dituding mengerdilkan peran perempuan dalam kehidupan berpolitik.

Sindiran netizen pada Dian, ditafsirkan sebagai imbauan pada kaum hawa untuk lepas dari soal politik via www.arah.com

Kutipan komentar di Kompas.com itu kontan saja direspons publik sebagai pendapat yang merendahkan kaum hawa.  Dian terkesan tidak mendukung Ibu-Ibu Kendeng dan malah menasehati mereka yang terlibat dalam aksi politis untuk lepas tangan dan kembali ke kesibukan rumah tangga. Tak sedikit netizen yang kegerahan, dan  melayangkan sindiran dalam bentuk komentar tertulis maupun meme. Pertanyaanya, apa benar Dian ngomong seperti itu?

Merasa dirugikan atas komentar yang menurutnya tak sesuai dengan yang benar-benar ia ucapkan, Dian segera menerbitkan surat klarifikasi.

Advertisement

Wajib baca nih. Surat klarifikasi Dian via cdns.klimg.com

Sebagai bentuk antisipasi terhadap tuturannya yang salah ditafsirkan, Dian mengirimkan sebuah surat klarifikasi ke redaksi Kompas. Di dalamnya, ia mengaku kala itu memang belum begitu paham akan duduk persoalan dari kasus kendeng, sehingga tidak tahu akan menjawab apa. Namun, ia menyatakan bahwa jawaban yang meluncur dari mulutnya di seminar itu pada akhirnya juga bukan meminta Ibu-Ibu Kendeng untuk menanggalkan aksinya, karena itu justru bertentangan dengan prinsipnya yang menjunjung pemberdayaan perempuan. Ia cuma mempertanyakan keberadaan kaum laki-laki di sana.

“Untuk kasus sebesar ini, bukankah seharusnya diperjuangkan secara bersama-sama antara lelaki dan perempuan ya? Apakah karena ini terlalu politis buat kaum laki-lakinya sehingga kaum perempuannya yang maju? Dan, apakah karena dalam hal ini, kaum perempuan tidak terikat dari segala hal yang berbau politik dan hierarki patrialis sehingga di luar hal-hal domestik yang dilakukannya, perempuan dianggap lebih bebas dan netral dalam mengungkapkan pendapat dan angkat bicara ya?” tulis aktris yang hendak berperan sebagai Raden Ajeng Kartini dalam salah satu film anyar garapan Hanung Bramantyo itu dalam surat klarifikasinya.

Media yang bersangkutan pun akhirnya memuat klarifikasi dari Dian Sastro ke lamannya. Semoga persoalan jadi lebih jernih.

http://regional.kompas.com/read/2016/04/16/16452231/Terkait.Aksi.Kartini.Kendeng.Ini.Kata.Dian.Sastro Sangat menyayangkan pemberitaan kompas.com yang salah mengutip pendapat saya sehingga berita menjadi salah dan merugikan kami. Saya memakai hak jawab saya dan menulis surat klarifikasi ke kompas.com, semoga segera dibetulkan. Fyi ini poin yang saya klarifikasikan Sayadan mas Hanung diundang menjadi pembicara seminar tentang Kartini oleh PemdaJepara pada tanggal16 April 2016. Pada acara tersebut, saya menekankan perlunya kemandirian perempuan dan bagaimana perempuan berperan penting dalam kemajuan sebuah bangsa. Salah seorang peserta menanyakan pendapat saya tentang kasus Kartini Kendeng dan jawaban saya adalah “Saya kurang paham atas kasus tersebut dan belum mendalami duduk permasalahannya, sehingga pengetahuan saya sangat terbatas dan belum tahu harus menjawab apa. Saya sangat prihatin dan sedih atas nasib ibu-ibu tersebut yang mempertaruhkan kesehatannya. Di luar itu, saya jadi tertarik dan bertanya-tanya sendiri, apabila kasus ini sangat serius,kenapa yang berjuang hanya ibu-ibunya ? Untuk kasus sebesar ini, bukankah seharusnya diperjuangkan secara bersama-sama antara lelaki dan perempuan ya? Apakah karena hal ini terlalu politis buat kaum laki-lakinya, sehingga kaum perempuan-nya yang maju? dan apakah karena dalam hal ini, kaum perempuan tidak terikat dari segala hal yeng berbau politik dan hirarki patrialis, sehingga di luar hal-hal domestik yang dilakukannya, perempuan dianggap lebih bebas dan netral dalam mengungkapkan pendapat dan angkat bicara ya ?” Saya kecewa atas kesalahan pihak kompas.com dalam mengutip pendapat saya sehinga berkesan saya tidak mendukung perjuangan ibu-ibu tersebut. Lebih jauh lagi penulisan dalam kompas.com memberi implikasi bahwa saya menyarankan perempuan hanya mengurusi hal domestik serta menyerahkan urusan politik ke pihak laki-laki. Ini sama sekali tidak benar dan bertentangan dengan prinsip saya yang sangat menjunjung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan yang selalu saya perjuangkan dari dulu

A photo posted by Dian Sastrowardoyo (@therealdisastr) on

Apa yang dilakukan Dian Sastro dengan mengajukan pernyataan klarifikasi adalah hal yang tepat, begitu pun media yang bersangkutan dengan memuat klarifikasi itu sebagai pemenuhan hak jawab. Mungkin yang lebih penting sebenarnya juga bukanlah apa komentar Dian Sastro, melainkan kasusnya sendiri. Persoalan ini harusnya mampu membuat kita lebih menaruh perhatian pada kasus Aksi Kendeng. Mendekati Hari Kartini, ibu-ibu Kendeng adalah realitas dari kaum perempuan yang berani jatuh bangun memperjuangkan keyakinannya.