Film 27 Steps of May baru saja rilis serentak di bioskop seluruh Indonesia. Film besutan Ravi Bharwani ini mengisahkan tentang sisi kelam yang dialami oleh tokoh May (Raihaanun) setelah mengalami kekerasan seksual yang menimpa dirinya saat muda. Nggak cuma May, tragedi ini pun berdampak pada sang ayah selama 8 tahun.

Nah, daripada spoiler, mending kamu nonton filmnya dulu deh. Karena film ini sangat saya rekomendasikan buat kamu yang kangen dengan sosok ayah. Maka, berikut adalah 4 hal yang saya jamin bisa bikin hatimu teriris-iris sesaat atau setelah menonton film 27 Steps of May.

Dengan tanpa pekerjaan yang pasti, perjuangan bapak untuk menafkahi keluarganya adalah sebuah perjuangan yang nggak mudah

Gue cuma pengen tarung. via www.instagram.com

Advertisement

Diceritakan dalam film, sang bapak (Lukman Sardi), nggak memiliki pekerjaan pasti untuk menafkahi anak semata wayangnya, May. Setelah kejadian naas itu, bapak hanya bekerja menjahit boneka bersama May. Barangkali masih belum tercukupi, bapak juga kerap pergi ke arena tinju. Meski dalam film bapak hanya menyalurkan emosinya saat bertinju, dari sana jugalah dia mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Rasa bersalah seorang bapak yang nggak bisa melindungi buah hatinya, terlebih cewek, adalah kegagalan yang nggak bisa diterima

Titik terang. via www.instagram.com

Ide cerita film yang ditulis oleh Rayya Makarim itu menegaskan bahwa nasib malang yang bapak dan May alami merupakan kesalahan sang bapak yang nggak bisa melindungi buah hatinya. Rasa bersalah ini pun masih terbawa hingga 8 tahun lamanya.

Entah kenapa, saya merasakan hal yang sama saat menonton film berdurasi 112 menit ini. Kesedihan yang ditampilkan begitu nyata. Mungkin nanti ketika kamu, khususnya para cowok, memiliki buah hati, pasti bakal paham akan masalah ini.

Terlepas dari tragedi traumatis yang menimpa May, bersikap dingin pada orang tua sendiri itu rasanya sangat menyedihkan bagi seorang bapak

Makan bersama bapak. via www.instagram.com

Advertisement

Ya, terlepas dari masalah yang May alami, saya nggak bisa membayangkan betapa hancurnya hati saat kita bersikap dingin pada orang tua kita di rumah. Di meja makan, di meja kerja, di ruang keluarga, atau di teras rumah, tanpa ada obrolan antara orang tua dan anak-anaknya. Suasana nggak nyaman seperti ini tentu membuat batin tersiksa. Sakit!

Hubungan bapak dan May yang bikin terenyuh sepanjang film, bikin inget bapak di rumah. Apa kabar bapak hari ini?

Kangen bapak. via www.thejakartapost.com

Ada beberapa adegan yang menjadi alasan bagi saya lantas teringat bapak di rumah. Seperti saat May menggeser piring berisi lauk ke arah meja bapak, memberi pelukan pada bapak, atau tatapan sayang yang begitu hangat pada bapak, seketika membawa jiwa saya pada sosok bapak di rumah. Kerindungan yang muncul begitu dahsyat. Saya rasa, kamu pun akan mengamini situasi seperti ini ketika nonton film 27 Steps of May.

Film ini memang berbeda dari film lainnya dalam membungkus isu sosial yang tampak nyata; antara penyintas kekerasan seksual yang traumatis dan sosok orang terdekat (bapaknya). Meski hanya dua tokoh dengan karakter kuat yang disajikan, film ini agaknya cukup berhasil menyadarkan masyarakat bahwa kekerasan seksual itu meresahkan dan harus segera diberantas.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya