5 Film Bagus yang Nggak Selalu Cocok Ditonton Semua Orang. Terkadang Susah Dicerna~

Sebagai salah satu medium hiburan, film sangat digemari. Salah satu alasannya karena karya sinema memuat suara dan gambar yang bikin lebih mudah dipahami. Beda sama baca novel yang butuh imajinasi dan fantasi ekstra, nonton film mah sesederhana tinggal rebahan.

Advertisement

Tapi meski begitu, banyak pula film yang dinyatakan bagus, tapi cukup susah dimaknai awam karena pesan yang ingin disampaikan emang “berat”. Sebenarnya ‘bagus’ itu relatif, sih ya. Bergantung pada selera, pengalaman dan keyakinan kamu. Kayak beberapa judul film yang bakal Hipwee Hiburan rangkum berikut. Film-film ini memenuhi syarat bagus dinilai dari segi kedalaman cerita, sinematografi, dan peran pemainnya. Nah, tapi belum tentu cocok nih, untuk kamu. Penasaran dong apa aja dan kenapa? Simak~

1. Blue is the Warmest Color (2013)

Blue is the Warmest Color / Credit: wsj

Selain karena durasinya hampir mencapai tiga jam dengan dinamika lambat yang potensial bikin bosen, film yang berhasil dapet Palme d’Or pada ajang Cannes Film Festival ini belum tentu cocok dan bagus bagi semua orang. Kenapa? Karena mereka bisa aja anggap film ini mempromosikan LGBT karena secara gamblang mempertontonkan adegan s*ks pasangan sesama jenis. Padahal secara keseluruhan konten film arahan Abdellatif Kechiche ini sangat universal: tentang kisah coming-of-age dan pencarian jati diri, dengan balutan kisah cinta.

2. Snowpiercer (2013)

Snowpiercer / Credit: Medium

Nama Bong Joon-ho nyatanya nggak gede pasca Parasite menang Oscar doang. Snowpiercer salah satu buktinya. Secara cerita, film ini enggak baru-baru amat: tentang masa depan pasca kiamat dan manusia yang tersisa terpisah berdasarkan status sosial. Kalau penilaianmu terhadap film cenderung berdasarkan kebaruan cerita, tentu film ini kurang cocok. Tapi kalau kamu bisa melebarkan mata, film ini punya kelebihan dari segi sinematografi. Dengan setting yang hanya di dalam kereta dengan keterbatasan teknologi, film ini berhasil menggambarkan sebuah epic revolusi. Jarak antar si kaya dan si miskin dalam cerita ini sangat dekat, tapi juga sangat jauh.

Advertisement

3. Mr. Robot (2015)

Mr. Robot / Credit: Nytimes

Kalau yang ada di bayanganmu tentang hacker adalah mereka meretas komputer pas lagi gabut, terus kalau tertangkap bakal direkrut buat kerja, maka serial Mr. Robot kurang cocok untukmu. Berhasil berjalan selama 4 seasons dengan konsistensi kedalaman cerita, serial ini lolos syarat ‘bagus’. Tapi apakah akan bagus pula untukmu? Belum tentu. Serial ini memperlihatkan bagaimana dendam bekerja, dan bagaimana kesadaran kolektif bisa saja menghancurkan dominasi kuasa yang selama ini merugikan lingkungan dan banyak orang. Kalau kamu tipikal orang yang optimis, maka karakter tokoh utama kita ini pasti jadi sekadar si pendendam aneh yang nggak layak jadi panutan.

4. The Breadwinner (2017)

The Breadwinner / Credit: criticafterdark

Meski animasi, film ini tentu kurang cocok ditonton oleh adikmu yang masih TK karena penceritaannya cukup dewasa. Berkisah tentang posisi perempuan di bawah negeri nan patriarkis, mereka yang gampang menghakimi dan cenderung bias memaknai peran gender juga kurang cocok nonton film ini. Kenapa? Di film arahan Nora Twomey ini, si tokoh utama menjalani keseharian dengan menyamar sebagai lelaki untuk menghidupi keluarganya. Hal ini karena di negerinya perempuan nggak bisa keluar rumah dan melakukan apapun tanpa suami, paman, atau saudara laki-laki. Nah, kalau males memaknai motif si tokoh menyamar jadi laki-laki, bukan nggak mungkin si tokoh bakal dihakimi dengan jurus: “ih, melanggar kodrat.

5. Kim-Ji-young, Born 1982 (2019)

Kim-Ji-young, Born 1982 / Credit: Screenrant

Advertisement

Singkat padat dan jelas. Film ini kuat dan bagus, setidaknya sampai 1/3 akhir cerita. Film arahan Kim-Do-young ini akan membuat laki-laki dengan kekentalan patriarki merasa tidak nyaman. Kenapa? Karena film ini secara tegas mengisahkan diskriminasi terhadap perempuan, dengan banyaknya pengorbanan yang harus mereka lakukan hanya karena dinomorduakan dalam tatanan masyarakat. Sampai sini kamu masih aman? Mengusung topik feminisme, yang di Korea Selatan dan mungkin Indonesia masih sensitif, saya yang hidup di negara cukup patriarki sejujurnya merasa nggak nyaman. Nyatanya film ini juga kontroversial di Korsel sana.

Sebenarnya semua film atau apapun itu yang kamu anggap bagus belum tentu bagus dan cocok pula buat orang lain. Kamu juga nggak dilarang nonton 5 film di atas, meski berdasar kriteria yang disebutkan mungkin kamu nggak cocok. Toh perkara selera hanya kamu yang tahu, kan?

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE