7 Film Bagus yang Menguras Emosi, Cukup Tonton Sekali biar Air Matamu Nggak Cepat Abis!

Film emosional

Adakalanya dalam hidup ini kita terjerumus dalam pilihan-pilihan keliru. Misalnya pada saat memilih tontonan. Karena nggak semua film itu bagus, maka wajar jika sekali waktu pilihanmu jatuh pada film yang nggak memuaskan. Satu saran terbaik untuk itu, relakan dan niatkan untuk tidak menontonnya lagi di lain waktu.

Advertisement

Akan tetapi saran tersebut juga bisa berlaku untuk film bagus loh. Film yang bagus biasanya mampu menyeret emosi penonton untuk terlibat. Baik itu karena cerita yang diangkat, atau karakter-karakter yang begitu nyata. Oleh karena itu, adakalanya film bagus juga cukup ditonton sekali saja, karena bisa bikin capek secara emosi bahkan bikin trauma secara emosional, seperti 7 film berikut ini.

1. “The Last King of Scotland” (2006)

The Last King of Scotland (2006) (dok. IMDb) via www.imdb.com

Rotten Tomatoes: 87% Tomatometer

IMDb Rating: 7.7/10

Film ini bercerita tentang dokter Skotlandia bernama Nicholas Garrigan yang menjalankan misi medis di Uganda. Di sana ia menjadi dokter pribadi sekaligus orang kepercayaan diktator Idi Amin. Pada mulanya sang dokter tersanjung bangga dengan posisinya. Kemudian ia menyadari bahwa pemerintahan Idi Amin berlumuran darah, dan ia secara nggak langsung terlibat dalam kekejaman tersebut.

Advertisement

Banyak penonton menilai penampilan Forest Whitaker sebagai Idi Amin, diktator megalomaniak yang brutal kekuasaan dan korup jadi alasan mengapa film ini cukup ditonton sekali saja. Capek emosi, bund~

2. “Bone Tomahawk” (2015)

Bone Tomahawk (2015) (dok. IMDb) via www.imdb.com

Rotten Tomatoes: 91% Tomatometer

IMDb Rating: 7.1/10

Advertisement

“Bone Tomahawk” merupakan film yang berkisah tentang suku kanibal di Amerika. Penjelasan singkat yang menjanjikan untuk tidak menontonnya berulang kali, bukan? Tapi tenang, film ini nggak semengerikan “Cannibal Holocaust” (1980) yang sempat dilarang di banyak negara itu, meski begitu ia punya banyak adegan kekerasan.

Mengambil latar Amerika di zaman koboi dengan kisah tentang suku kanibal, membuat dua tema yang bertumpuk ini menarik untuk ditonton pertama kali. Tokoh utama film ini adalah seorang koboi yang menjalankan misi penyelamatan tiga orang dari tangan suku kanibal.

3. “12 Years a Slave” (2013)

12 Years a Slave (2013) (dok. IMDb) via www.imdb.com

Rotten Tomatoes: 95% Tomatometer

IMDb Rating: 8.1/10

Pada tahun-tahun sebelum Perang Saudara, Solomon Northup, seorang pria kulit hitam dari bagian utara New York diculik dan dijual sebagai budak di bagian Selatan. Di sana ia mengalami kekejaman, tetapi juga menemukan kebaikan tak terduga dari orang lain saat ia berjuang untuk bertahan hidup dan mempertahankan martabatnya.

J. Hobermen dari Harper’s Magazine menuliskan film ini ibarat pintu jebakan di atas jurang yang memberikan jeda sesaat sebelum penonton dibuat terjerumus dalam mimpi buruk dehumanisasi.

4. “Prisoners” (2013)

Prisoners (2013) (dok. IMDb) via www.imdb.com

Rotten Tomatoes: 81% Tomatometer

IMDb Rating: 8.1/10

Film ini secara gamblang menyuguhkan kompleksitas emosional dan rasa takut dari seorang narapidana. Beberapa penonton bahkan menyebut film ini cukup mengganggu, tanpa mengesampingkan fakta bahwa “Prisoners” merupakan tontonan yang bagus.

Diceritakan seorang bernama Keller Dover mengalami mimpi terburuk para orang tua. Putrinya yang berusia 6 tahun, Anna, dan temannya hilang. Long story short, Dover mengetahui bahwa nyawa putrinya dipertaruhkan, dan ia merasa nggak punya pilihan selain mengambil tindakan sendiri.

5. “Still Alice” (2014)

Still Alice (2014) dok. IMDb) via www.imdb.com

Rotten Tomatoes: 85% Tomatometer

IMDb Rating: 7.5/10

Film ini menceritakan Alice Howland, seorang profesor linguistik terkenal di Universitas Columbia yang harus berhadapan dengan diagnosis menghancurkan: penyakit alzheimer yang menyerang sejak dini.

Saat mulai berdamai dengan kenyataan bahwa ia mengidap alzheimer, Alice tetap punya semangat juang untuk mempertahankan rasa kepercayaan diri selama yang ia bisa. Meski begitu, alzheimer yang ia idap terus memburuk. Tiga anak-anak Alice tanpa daya harus menyaksikan sang ibu “menghilang” hari demi hari.

6. “Just Mercy” (2019)

Just Mercy (2019) (dok. IMDb) via www.imdb.com

Rotten Tomatoes: 85% Tomatometer

IMDb Rating: 7.6/10

Setelah lulus dari Harvard, Bryan Stevenson mendedikasikan diri untuk membela mereka yang dihukum dengan secara salah atau mereka yang nggak dapat pendampingan hukum secara layak. Salah satu kasus pertamanya adalah vonis hukuman mati atas Walter McMillian.

Film ini dengan apik mendramatisasi ketidakadilan yang bisa ditemukan di kehidupan nyata. Emosi penonton tidak mungkin tidak terkuras selama dua jam enam belas menit film.

7. “The Father” (2020)

The Father (2020) (dok. IMDb) via www.imdb.com

Rotten Tomatoes: 98% Tomatometer

IMDb Rating: 8.3/10

Jika “Still Alice” menceritakan seorang perempuan dengan alzheimer, maka film “The Father” berkisah tentang seorang lelaki tua bernama Anthony yang mengidap demensia, atau penuran daya ingat dan cara berpikir. Singkatnya, film ini merupakan penggambaran empati tentang demensia.

Konflik yang menyeret pergulatan emosi penonton hadir tatkala Anne, putri Anthony beberapa kali berupaya menyewa perawat untuk sang ayah. Namun, sang ayah bersikeras bahwa ia bisa merawat diri sendiri, khas pengidap demensia. Cerita bergulir dari sudut pandang Anthony yang mengidap demensia sehingga alurnya berubah-ubah sesuai dengan apa yang ada di pikiran lelaki tua tersebut.

Nah, itu dia kira-kira 7 dari sekian banyak film bagus, tapi nggak cukup bagus untuk emosi jika ditonton berkali-kali. Ada yang sudah pernah kamu tonton? Yuk, bagikan kesanmu.

Ikuti Instagram @wolesjon, biar nggak ketinggalan informasi seputar cowok dan dunia hiburan lainnya, kuy!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

get me away from here I'm dying

CLOSE