[Review] Film Seperti Sediakala: Ketika Jodoh Bisa Jadi Surealis

9/10

Obrolan tentang jodoh menjadi terkesan sederhana karena lumrah diperbincangkan. Namun, melalui cerita dalam film ini Anggita Puri selaku sutradara dan penulis cerita membawa kita naik satu level dalam mempertanyakan atau memahami konsep jodoh.

Malam di perkotaan selalu sama: jalanan temaram dilalui orang-orang yang tertunduk bergegas menuju rumah. Namun, satu malam itu berbeda bagi Intan, perempuan muda yang dengan yakin melangkah menuju toko perhiasan. 

Malam itu Intan akan melengkapi persiapannya menuju pernikahan. Ia hendak memesan sebuah cincin di toko perhiasan Sekala, yang dimiliki seseorang dengan tingkah dan gaya berpakaian pria tahun 60-an. Pria itu bernama Kala.

Kisah di atas merupakan penggalan cerita film pendek “Seperti Sediakala” garapan sutradara Anggita Puri dari Serangkai Films, pemenang dari kompetisi film pendek Galaxy Movie Studio 2022. 

Serangkai Films berhasil menjadi pemenang kompetisi film pendek Galaxy Movie Studio 2022 di kategori Director’s Choice lewat film berjudul “Soulmate is a Strange Concept”. Pemenang dari kategori ini dipilih langsung oleh sutradara ternama Angga Dwimas Sasongko. 

Sebagai pemenang, Serangkai Films berkesempatan mengembangkan film “Seperti Sediakala” dengan dimentori langsung oleh Angga Dwimas Sasongko dan melibatkan aktor serta aktris ternama yaitu Reza Rahardian dan Pevita Pearce. 

Lantas seperti apa film yang sepenuhnya direkam menggunakan smartphone Samsung Galaxy S22 Ultra 5G ini ya? Simak ulasan Hipwee berikut. 

[Spoiler alert]

ADVERTISEMENTS

“Seperti Sediakala” menyisakan pertanyaan tanpa akhir terutama bagi mereka yang sedang berjuang menemukan jodoh

Film Seperti Sediakala

Adegan film “Seperti Sediakala” | dok. Tangkapan layar/Youtube Samsung Indonesia

Secara format, “Seperti Sediakala” adalah film pendek. Secara substansi, film ini menyisakan pertanyaan yang panjang. Anggita Puri selaku sutradara film ini mengajak penonton untuk mempertanyakan atau sekadar memikirkan konsep jodoh. 

Mengingat hampir semua orang pernah setidaknya sekali seumur hidupnya mempertanyakan jodoh, film pendek ini wajib kamu tonton. 

Melalui tokoh Intan yang diperankan Pevita Pearce dan tokoh Kala yang diperankan Reza Rahadian, sang sutradara yang merangkap penulis untuk film ini menawarkan opsi konsep jodoh yang surealis. 

Kesan surealis itu sudah bisa dirasakan sejak awal film dibuka dengan suasana malam yang terasa ganjil, dan setting tempat yang temaram nyaris gelap. Pemilihan warna komplementer merah dan hijau untuk film ini pun menambah perasaan ganjil tersebut. Bagi saya ini menarik.

Sebagaimana ciri khas film pendek, “Seperti Sediakala” menyampaikan pesan melalui banyak detail. Penonton diminta fokus untuk bisa menangkap banyak informasi yang ditanam pada setiap adegan. 

“Seperti Sediakala” tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan bahwa dua dunia sedang bertemu. Hal tersebut disampaikan melalui bahasa film dan analisa karakter seperti yang dijalankan dengan baik oleh para aktor. Satu ekspresi maupun gestur mewakilkan suatu penjelasan. 

Perbedaan cara bertutur dan berpakaian yang dapat ditemukan antara Kala dan Intan menjadi sebuah bahasa dari dua dunia yang berbeda. Dan yang menarik, pertemuan keduanya dimungkinkan karena cinta yang bekerja secara magis.

Pengetahuan Kala mengenai alergi yang dimiliki Intan, dan perasaan familiar yang dirasakan Intan pada saat mengitari toko perhiasan Sekala, serta banyak lagi planting information lainnya, menjadi detail yang penting bagi keseluruhan cerita. 

Film Seperti Sediakala

Adegan film “Seperti Sediakala” | dok. Tangkapan layar/Youtube Samsung Indonesia

Analisa karakter yang dijalankan dengan sempurna ini membuat “Seperti Sediakala” meyakinkan meski surealis. Kehebatan sutradara dalam mengarahkan pemain, dan kehebatan pemain dalam menjalankan karakternya layak dapat apresiasi.

Melalui film ini pertanyaan-pertanyaan mengenai jodoh yang mungkin pernah kita ajukan dibenarkan. Soal apakah mungkin jodoh kita bisa tertukar, belum lahir, atau bahkan sudah meninggal adalah sebuah kemungkinan yang patut diperbincangkan seperti dilakukan tokoh Kala dan Intan.

Film ini menunjukkan kekuatan janji dan cinta. Jodoh bagi sang pembuat film juga bukan sebatas teman hidup sampai jadi debu. Jodoh juga bisa berupa pertemuan-pertemuan singkat. Sang pembuat film punya sensitivitas yang belum tentu dimiliki orang lain dalam memahami jodoh.

“Menurut saya, orang yang bisa bertemu dengan jodohnya adalah orang-orang yang beruntung. Salah satunya saya…” 

Lewat kutipan kalimat dari tokoh Kala di atas, film ini menegaskan bahwa jodoh dalam artian luas bukan seseorang di mana kita akan menghabiskan waktu bersamanya. Jodoh tidak harus berupa sesuatu yang kita miliki. Jodoh bisa jadi dia yang kita temui hari ini, tetapi belum tentu besok atau seterusnya. 

Lebih dari pada itu, lewat film ini Puri menunjukkan kalau jodoh dalam konteks cinta punya kekuatan yang luar biasa. Cinta punya kekuatan yang nggak terbahasakan, bisa melewati ruang dan waktu, atau malah nggak kenal konsep ruang dan waktu: jodoh kita bisa jadi telah meninggal. 

Namun, meski begitu, kehadirannya dan pertemuan dengannya bukan tidak mungkin akan kita rasakan. Seperti Kala, yang meski telah tiada di dunia ini tetap bisa menunaikan janjinya membuatkan cincin paling indah, dan memasangkannya ke jari jodohnya, Seruni, yang bereinkarnasi menjadi Intan. 

Obrolan tentang jodoh menjadi terkesan sederhana karena lumrah diperbincangkan. Namun, melalui cerita dalam film ini Anggita Puri membawa kita naik satu level dalam mempertanyakan atau memahami konsep jodoh. 

ADVERTISEMENTS

Visualnya ciamik, kita sudah berada di zaman di mana kamera smartphone bisa mengimitasi hasil kamera sinema

Film Seperti Sediakala

Adegan film “Seperti Sediakala” | dok. Tangkapan layar/Youtube Samsung Indonesia

Film “Seperti Sediakala” nggak hanya mengagumkan secara cerita. Film ini juga memukau secara treatment visual. Dua hal ini bisa tercapai salah satunya berkat kemewahan yang didapatkan Puri, sutradara yang merangkap sebagai penulis. Puri bisa memilih cerita dan eksekusinya.

Untuk film yang surealis seperti “Seperti Sediakala”, treatment visual punya peran kunci. Seperti bisa dilihat dalam film ini, pencahayaan punya peran yang signifikan dalam mempengaruhi perasaan penonton: temaram nyaris gelap, terang nyaris silau.  

Sebagai gambaran, treatment visual film “Seperti Sediakala” ini biasanya hanya bisa dicapai dengan kamera profesional atau kamera sinema. Namun, yang bikin kagum, “Seperti Sediakala” bisa mengimitasi hasil kamera sinema dengan kamera smartphone.

Yup, gambar pada film “Seperti Sediakala” ini direkam sepenuhnya menggunakan smartphone, tepatnya perangkat Samsung Galaxy S22 Ultra 5G. Hal ini memantapkan pendapat yang menyatakan kalau perangkat bukan satu-satunya faktor penentu untuk menghasilkan karya sekelas profesional. 

Smartphone mumpuni seperti Galaxy S22 Ultra 5G, jika di-treatment dengan benar, tidak hanya memungkinkan siapa saja bisa melahirkan karya sekelas profesional. Seperti terbuktikan pada proses syuting “Seperti Sediakala”, Galaxy S22 Ultra juga memungkinkan filmmaker menghemat waktu dan melakukan eksplorasi kreatif. 

Untuk diketahui, proses syuting film “Seperti Sediakala” hanya memakan waktu satu hari, dan proses pengambilan gambar di ruang sempit nggak jadi kendala untuk pergerakan kamera. Semua ini terjadi karena keringkasan dan kepraktisan Galaxy S22 Ultra 5G sebagai alat perekaman.

Secara pribadi, jika nggak ada informasi yang menyebutkan film “Seperti Sediakala” direkam menggunakan kamera Galaxy S22 Ultra 5G, saya mungkin akan mengira kalau film berdurasi 11 menit 54 detik ini direkam menggunakan kamera sinema, bukan menggunakan kamera smartphone.

Namun, setelah mengetahui fitur dan inovasi teknologi yang terdapat pada Galaxy S22 Ultra 5G, saya memahami kalau perkembangan teknologi saat ini memang sudah sejauh itu, dan melebihi bayangan kita semua.

Film Seperti Sediakala

Proses produksi film “Seperti Sediakala” | dok. Samsung Indonesia

Keberanian Puri membuka film “Seperti Sediakala” dengan adegan dalam kondisi low light didukung oleh kemampuan Nightography yang tersemat pada Galaxy S22 Ultra 5G, dan peningkatan Auto Framerate yang mampu menyesuaikan fps dan shutter speed terhadap kondisi cahaya dengan lebih baik.

Berkat Nightography dan peningkatan Auto Framerate pada Galaxy S22 Ultra 5G ini, kita bisa lihat kalau setiap gambar pada “Seperti Sediakala” terekam dengan tajam tanpa adanya noise maupun under exposure yang biasa terjadi pada perekaman video dalam kondisi minim cahaya.

Keputusan untuk mengeksekusi film ini dengan menghadirkan visual yang high-contrast juga didasarkan pada kesiapan Galaxy S22 Ultra 5G mengakomodir hal tersebut. Tahap pra-produksi film “Seperti Sediakala” layak diacungi jempol. Puri dan tim berhasil melihat potensi perangkat untuk visual yang biasanya dihindari filmmaker ketika syuting menggunakan smartphone.

Nggak hanya Nightography, film “Seperti Sediakala” juga berhasil memaksimalkan teknologi Cinematic Camera Movement pada Galaxy S22 Ultra 5G untuk mendapatkan beauty shot dan menghadirkan scene yang dramatis dengan efek shaky untuk menguatkan emosi yang ditampilkan karakternya. 

Semua beauty shot maupun scene dramatis yang memukau dalam film “Seperti Sediakala” dapat dihasilkan salah satunya berkat kombinasi apik dari Cinematic Camera Movement dan kamera 108 Megapixel dengan HDR10+ Format berkemampuan rekam hingga 8K pada Galaxy S22 Ultra 5G.

Film “Seperti Sediakala” juga membuktikan bahwa smartphone bisa mengimitasi hasil kamera sinema melalui adegan dengan latar belakang yang sangat terang, dengan mengandalkan fitur Pro Mode. Melalui fitur ini apapun latar yang harus disorot kamera bisa direkam sesuai keinginan melalui pengaturan ISO, shutter speed, focus hingga white balance.

Nggak berhenti sampai di situ. Hal menarik dari syuting film menggunakan kamera smartphone seperti Galaxy S22 Ultra 5G adalah filmmaker tidak akan begitu disibukkan pada tahap editing. Diketahui untuk film “Seperti Sediakala”, Puri mengaku tidak banyak melakukan touch-up terkhusus pada aspek warna.

Selain karena artistik dan wardrobe untuk film “Seperti Sediakala” ini luar biasa, tahap editing dengan tidak banyak touch-up ini dimungkinkan karena pemrosesan gambar pada smartphone dimaksudkan sebagai hasil akhir. Berbeda dengan kamera sinema yang menghasilkan gambar “mentah” agar filmmaker bisa melakukan touch-up sesuai kebutuhannya di tahap editing.

Akhir kata, ada banyak poin penting yang bisa dipetik melalui film “Seperti Sediakala”. Mulai dari pemahaman mengenai jodoh sebagaimana cerita filmnya, hingga kemungkinan bagi siapa saja memproduksi karya dengan kualitas visual sekelas profesional menggunakan smartphone mumpuni seperti Galaxy S22 Ultra 5G sebagaimana treatment visual yang dihadirkan Puri dan tim Serangkai Films. 

So, buat kamu yang ingin memahami betapa surealisnya jodoh di tangan Anggita Puri, atau butuh alasan untuk mulai berkarya tanpa harus punya perangkat yang dikhususkan, silakan tonton film pendek “Seperti Sediakala” melalui YouTube Samsung Indonesia atau klik di sini

Atau kalau kamu ingin menikmati film sekelas profesional ini di layar dan tempat di mana film para established filmmaker biasa ditayangkan, bisa juga menyambangi sejumlah bioskop XXI meliputi Summarecon Serpong, Aeon Mall Sentul City, Kota Kasablanka, Ambarukmo Yogya, Plaza Senayan dan Lenmarc mulai tanggal 14 Juni sampai 13 Juli 2022. 

#withGalaxy, #GalaxyS22, #MyNewRules #GalaxyMovieStudio

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kopito Ergo Sum -- Aku minum kopi maka aku ada.

Editor