Beragam cara sudah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan jumlah pemilih di Pemilu 2019 nanti. Terutama melalui konten-konten yang ramah untuk anak muda melalui dukungan figur budaya populer hingga fitur-fitur menarik di media sosial. Yang terbaru, sebuah karya film dengan isi seputar permasalahan partisipasi politik di masyarakat digarap dengan tajuk Suara April.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menayangkan film itu di puluhan bioskop nasional, di antaranya di Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Pontianak dan Semarang.  Film arahan Emil Heradi dan Wicaksono Wisnu Legowo ini menjadi langkah persuasi kepada para pemilih pemula untuk tak ragu menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019. KPU berharap pemilih milenial atau pemilih muda bisa memahami kebutuhan dan urgensi penyelenggaraan pemilu tersebut.

Advertisement

“Kami ingin menjangkau pemilih milenial, pemilih pemula, pemilih muda, yang jumlahnya di Pemilu 2019 ini sangat besar sekali. Dengan pendekatan dan bahasa yang mereka pahami, ini mudah-mudahan pesan-pesan kepemiluan ini bisa lebih nyambung,” tukas Pramono Ubaid Tanthowi selaku Komisioner KPU RI,  di sela pemutaran film Suara April di XXI Ambarrukmo Plaza, Yogyakarta.

KPU belum pernah menggunakan medium film dengan skala bioskop untuk langkah sosialisasi pemilu sebelumnya. Namun, mereka optimis langkah ini bisa berimpak besar. “Pesan film ini tak sebatas untuk Pemilu 2019, tapi juga bisa berlaku untuk Pilkada dan Pemilu-Pemilu berikutnya karena ada rencana menayangkan di televisi dan layar tancep di daerah. Sehingga pesan kepemiluan bisa menjangkau hingga masyarakat paling bawah,” ujar Pramono.

Saya berkesempatan menonton film itu dalam pemutarannya di Yogyakarta

Pemutaran film Suara April di Yogyakarta via jogja.antaranews.com

Dalam narasinya, Suara April mengisahkan seorang “relawan demokrasi” (Bio One) yang datang ke kampung Rampangrejo untuk memberikan penyuluhan pemilu. Sayangnya, warga Rampangrejo telah lama menjadi apatis terhadap pemilu. Ia bahkan diusir mentah-mentah oleh seorang tokoh masyarakat di sana (Torro Margens) yang dihormati karena menjadi orang penting di balik gelaran musik dangdut di seantero desa.

Advertisement

Kebetulan, putri tokoh masyarakat itu, seorang guru SMA (Amanda Manopo), malah mendukung sang relawan demokrasi. Ia ingin wakil rakyat yang menang nantinya bisa membiayai dan membantu kondisi finansial sekolahnya. Maka keduanya bekerja sama untuk mencari cara mensosialisasikan partisipasi pemilu di kampung tersebut. Berbagai konflik pun muncul dari situ.

Kecenderungan bahwa proyek budaya pemerintah semacam ini biasanya berakhir butut memang masih tak terlalu bisa dihindari film ini untuk beberapa aspek, misalnya poster filmnya yang usang. Namun, di luar dugaan, film ini tak serta merta menggurui penonton secara satu arah, apalagi ditambahi dengan slogan-slogan anti-golput yang membosankan itu.

Suara April sukses menawarkan kompleksitas persoalan yang retrospektif. Misalnya, dilema ketika kampung Rampangrejo sejatinya justru cenderung lebih harmonis dan adem ayem ketika tidak disusupi unsur-unsur politik praktis. Justru penerimaan terhadap unsur-unsur politik itu membuat kampung Rampangrejo rentan menjadi terpecah belah dan menimbulkan konflik antar warga. Sebuah perspektif menarik pun bisa ditemukan penonton.

Di penghujung akhir film, baru kemudian dimunculkan konklusi bahwa apa yang ingin dikampanyekan oleh film ini juga adalah politik yang sehat, aman, dan tidak selalu bertumpu pada gratifikasi atau politik uang. Meski cukup banyak lubang plot, namun Suara April secara umum cukup menarik karena bisa tampil realistis, membumi, dan tidak mengada-ada. Apalagi mungkin narasi persoalan penyelenggaraan pemilu di film ini adalah sesuatu yang baru bagi anak muda perkotaan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya