Alasan Istilah Pelakor Harus Dihilangkan. Cowok kok Nggak Kena Batunya!?

Dalam kasus perselingkuhan, istilah pelakor seringkali hanya ditujukan pada perempuan

Selama ini kita mengenal istilah pelakor atau perebut lelaki orang yang mengacu pada seseorang yang telah merusak hubungan orang lain. Sayangnya, dari dulu hingga sekarang, setiap ada kasus serupa, selalu aja pihak perempuan yang kerap jadi bulan-bulanan semua orang. Makanya nggak heran jika yang dapat cap sebagai pelakor (atau yang berkonotasi buruk) itu cuma si perempuannya aja.

Advertisement

Padahal hal tersebut rasanya sama sekali nggak adil lo. Masa yang melakukan kesalahan dua orang, yang khilaf dua orang, yang dapat dosanya dua orang, tapi yang jadi sasaran kemarahan publik cuma satu orang aja? Pantes aja kalau perempuan banyak yang mikir semua cowok sama aja, toh habis ngelakuin kesalahan aja berasa nggak pernah kayak ada apa-apa. Berikut ini adalah deretan alasan kenapa istilah pelakor udah seharusnya nggak perlu dipakai lagi. Paling nggak, harusnya kita juga bersikap adil pada si cowok yang bersangkutan.

1. Perselingkuhan itu terjadi karena dua pihak, bukan karena perempuannya aja

Ilustrasi perselingkuhan / Credit: Rd via www.rd.com

Banyak orang di sekitar kita yang cuma fokus dan beranggapan kalau yang hobi merebut pasangan itu biasanya cewek, makanya sampai muncul istilah pelakor alias perebut lelaki orang. Mirisnya lagi, istilah tersebut malah lebih sering dilontarkan oleh para cewek kepada cewek lain yang kedapatan berada di posisi tersebut.

Padahal yang namanya kasus perselingkuhan itu terjadi karena dua pihak, bukan karena ceweknya aja. Nggak mungkin sih kalau cuma si cewek aja yang ngebet dan jatuh cinta sama pasangan orang lain tanpa dikasih jalan sama cowok itu sendiri. Makanya, perselingkuhan itu nggak mungkin terjadi kalau nggak dikasih pintu terbuka. Ada peran cowok juga dalam kasus seperti ini.

Advertisement

2. Belum tentu si perempuan yang pertama kali merusak hubungan tersebut, bisa jadi memang cowoknya yang nggak beres

Istilah pelakor udah nggak relevan lagi / Credit: Komando via www.komando.com

Alasan selanjutnya kenapa istilah pelakor memang harus dihilangkan adalah karena belum tentu si cewek tersebut yang pertama kali merusak hubungan dan mengambil pasangan dari orang lain. Ada banyak kasus perselingkuhan yang dimulai oleh cowok sampai akhirnya cewek tersebut masuk ke perangkapnya.

Pemikiran dasar ini seolah nggak berlaku, toh nyatanya yang dapat predikat sebagai perusak hubungan orang cuma pihak ceweknya aja. Sekali-kalilah kalau ada kasus perselingkuhan mencuat kayak gitu, yang disorotin itu pihak cowoknya. Kaum-kaum cowok lainnya yang masih beres pasti juga ikhlas kok, hitung-hitung sebagai pembuktian juga kalau nggak semua cowok itu tabiatnya buruk.

3. Biar nggak ada stereotip bahwa semua cowok itu sama aja dan nggak mau disalahin

Istilah pelakor / Credit: Eastcoastdaily via www.eastcoastdaily.in

Advertisement

Sebagai kaum cowok baik-baik, penuh dengan sifat kasih sayang, dan berhati mulia, kadang capek juga sih dengerin stigma dari kaum cewek kalau semua semua cowok itu sama aja—sama-sama nggak beresnya. Ngeselin juga, kan, cuma mentang-mentang di luar sana banyak kaum cowok tukang selingkuh terus kita yang nggak pernah kayak gitu jadi berasa nggak dianggap juga.

Sebenarnya cowok nggak keberatan kok kalau misalnya istilah pelakor itu dihapus dan kaum cowok juga harus ikut kena imbasnya. Sekali-kalilah biar nggak cuma cewek aja yang disebut sebagai pelaku perusak hubungan orang lain. Makanya, kalau udah punya pasangan itu disyukuri, nggak perlu kebanyakan akrobatik~

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Kadang menulis, kadang bercocok tanam

Editor

Kadang menulis, kadang bercocok tanam

CLOSE