3 Alasan Istilah Pelakor Harus Dihilangkan dalam Kasus Perselingkuhan. Cowok kok Nggak Kena Batunya!

Hilangkan istilah pelakor

Belakangan ini istilah pelakor atau perebut lelaki orang yang mengacu pada seseorang yang telah merusak hubungan orang lain kembali viral dan jadi perbincangan panas para warganet. Hal tersebut disebabkan adanya desas-desus kabar perselingkuhan yang tengah dilakukan oleh salah seorang figur publik terkenal di Indonesia. Sayangnya, dari dulu hingga sekarang, setiap ada kasus serupa, selalu aja pihak cewek yang jadi bulan-bulanan semua orang. Makanya nggak heran jika yang dapat cap sebagai pelakor (atau yang berkonotasi buruk) itu cuma si ceweknya aja.

Advertisement

Padahal hal tersebut rasanya sama sekali nggak adil lo. Masa yang melakukan kesalahan dua orang, yang khilaf dua orang, yang dapat dosanya dua orang, tapi yang jadi sasaran kemarahan publik cuma satu orang aja? Pantes aja kalau cewek-cewek banyak yang mikir semua cowok sama aja, toh habis ngelakuin kesalahan aja berasa nggak pernah kayak ada apa-apa. Berikut ini adalah deretan alasan kenapa istilah pelakor udah seharusnya nggak perlu dipakai lagi. Paling nggak, harusnya kita juga berfokus pada si cowok yang bersangkutan.

1. Perselingkuhan itu terjadi karena dua pihak, bukan karena ceweknya aja

Ilustrasi perselingkuhan / Credit: Rd via www.rd.com

Banyak orang di sekitar kita yang cuma fokus dan beranggapan kalau yang hobi merebut pasangan itu biasanya cewek, makanya sampai muncul istilah pelakor alias perebut lelaki orang. Mirisnya lagi, istilah tersebut malah lebih sering dilontarkan oleh para cewek kepada cewek lain (feminitas toksik) yang kedapatan berada di posisi tersebut.

Padahal yang namanya kasus perselingkuhan itu terjadi karena dua pihak lo, bukan karena ceweknya aja. Nggak mungkinlah kalau cuma si cewek aja yang ngebet dan jatuh cinta sama pasangan orang lain tanpa dikasih jalan sama cowok itu sendiri. Makanya, perselingkuhan itu nggak mungkin terjadi kalau nggak dikasih pintu terbuka. Ada peran cowok juga dalam kasus seperti ini.

Advertisement

2. Belum tentu si cewek yang pertama kali merusak hubungan tersebut, bisa jadi memang cowoknya yang nggak beres

Istilah pelakor udah nggak relevan lagi / Credit: Komando via www.komando.com

Alasan selanjutnya kenapa istilah pelakor memang harus dihilangkan adalah karena belum tentu si cewek tersebut yang pertama kali merusak hubungan dan mengambil pasangan dari orang lain. Ada banyak kasus perselingkuhan yang dimulai oleh cowok sampai akhirnya cewek tersebut masuk ke perangkapnya.

Pemikiran dasar ini seolah nggak berlaku, toh nyatanya yang dapat predikat sebagai perusak hubungan orang cuma pihak ceweknya aja. Sekali-kalilah kalau ada kasus perselingkuhan mencuat kayak gitu, yang disorotin itu pihak cowoknya. Kaum-kaum cowok lainnya yang masih beres pasti juga ikhlas kok, hitung-hitung sebagai pembuktian juga kalau nggak semua cowok itu tabiatnya buruk.

3. Biar nggak ada stereotip bahwa semua cowok itu sama aja dan nggak mau disalahin

Advertisement

Istilah pelakor / Credit: Eastcoastdaily via www.eastcoastdaily.in

Sebagai kaum cowok baik-baik, penuh dengan sifat kasih sayang, dan berhati mulia, kadang capek juga sih dengerin stigma dari kaum cewek kalau semua semua cowok itu sama aja—sama-sama nggak beresnya. Ngeselin juga, kan, cuma mentang-mentang di luar sana banyak kaum cowok tukang selingkuh terus kita yang nggak pernah kayak gitu jadi berasa nggak dianggap juga.

Sebenarnya cowok nggak keberatan kok kalau misalnya istilah pelakor itu dihapus dan kaum cowok juga harus ikut kena imbasnya. Sekali-kalilah biar nggak cuma cewek aja yang disebut sebagai pelaku perusak hubungan orang lain. Makanya, kalau udah punya pasangan itu disyukuri, nggak perlu kebanyakan akrobatik~

52oR9e.md.jpg
Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE