Mengintip Warna-warni Fandom K-Pop. Begini Sejarah Panjang di Balik Euforianya

identitas fandom kpop

Industri hiburan Korea Selatan semakin menunjukkan taringnya di kancah internasional. Sederet bintang papan atas dari Negeri Gingseng belakangan menjadi sorotan dunia. Kalau kamu mengaku sebagai penggemar K-Pop, pasti sudah nggak asing lagi dengan fandom, istilah yang merujuk pada fans club suatu grup atau penyanyi tertentu. Tak hanya grup K-pop , solois seperti IU, Ailee, hingga Psy juga memiliki nama fandom tersendiri lo.

Fandom K-Pop atau kependekan dari fan kingdom sebenarnya merupakan istilah bahasa Inggris yang punya arti kepenggemaran. Maka dari itu, kata yang satu ini bisa dipakai secara luas untuk mengidolakan seseorang di wilayah mana pun. Namun, seiring berjalannnya waktu, istilah fandom semakin terkenal dan menjadi karakter di dunia K-Pop. Fandom biasanya dipakai sebagai identitas dari para fan. Wadah ini menentukan siapa yang disukai dan tokoh mana yang didukung oleh fan tersebut. Sekilas nama-nama fandom kemungkinan terdengar acak, ternyata di baliknya punya makna yang mendalam lo.

Nah, Hipwee Premiumkali ini akan membahas seputar fandom di industri hiburan Korea Selatan. Sekaligus menjawab warna yang kerap dijadikan identitas mereka sebagai sekumpulan penggemar. Berikut ulasannya yang bisa kamu simak~

Tak sedikit yang berpikir K-Pop mulai di tahun 2009, padahal jauh sebelum itu tepatnya pada 1992 grup Seo Taiji and Boys sudah menjadi pelopor

K-Pop memang santer terdengar di tahun 2009, ketika beberapa grup idola akhirnya menembus pasar negara tetangga seperti Jepang dan Tiongkok. Namun, sebenarnya, K-Pop lahir pada tahun 1992 ketika grup Seo Taiji and Boys memperkenalkan genre baru di musik Korea Selatan. Berdasarkan laporan delivered.co.kr, para fan mengakui bahwa periode ini merupakan generasi pertama era K-Pop.

Saat Seo Taiji and Boys berhasil menggaet penonton lokal mereka, akhirnya semakin banyak calon idola bermunculan lewat sebuah agensi. Sebut saja SM Entertainment yang langsung melirik peluang target pasar remaja dengan melakukan audisi di Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Upaya ini nyatanya berbuah manis pada 1996.

SM pun membentuk boy group H.O.T atau High Five of Teenagers yang album pertamanya terjual 1,5 juta kopi. Keberhasilan itu memunculkan idola grup baru seperti Sechs Kies, S.E.S hingga Fin.K.L. Dari sinilah penggemar menciptakan budaya fandom mereka sendiri. Saat itu cakupannya masih sedikit, sehingga fan mampu terhubung dengan “manajer fandom” untuk mendukung idola melalui pembelian album fisik dan merchandise.

Setelah periode tersebut datanglah “Era Keemasan K-Pop”. Berkat fandom kuat dan jangkauan yang lebih luas, para idola akhirnya bisa tampil di luar negeri

Yonhap News menyebut H.O.T dan grup lain yang muncul pada 1990-an adalah “generasi pertama” grup idola K-Pop. Pada pertengahan hingga akhir 2000-an, SM Entertainment memperkenalkan “generasi kedua” dengan munculnya TVXQ, Super Junior, Girl’s Generation, SHINee, dan f(x). Idola lain seperti BigBang, Wonder Girls, 2NE1, 2PM, 2AM juga lahir pada masa kedua ini. Ada juga solois seperti Rain, Se7en, BoA yang sukses memasarkan karyanya ke manca negara.

Media sosial seperti Facebook, YouTube, dan Twitter diramaikan oleh fan idol yang membuat nama mereka semakin santer terdengar hingga kerap manggung di negara lain. Sejalan dengan itu, industri hiburan Korea Selatan semakin berkembang, muncul generasi ketiga yang ditandai dengan boy group EXO pada 2012. Kemudian, diikuti dengan karya dari BLACKPINK, BTS, TWICE, GOT7, Seventeen, hingga Red Velvet yang eksis hingga sekarang. Di balik ketenaran mereka, nyatanya ada andil fandom di sana. Penggemar menunjukkan upaya dan dukungan dalam pembelian musik digital, streaming video, dan banyak lagi.

Semakin banyaknya idola baru, kepopuleran fandom pun meningkat. Nama hingga variasi warna berubah menjadi identitas mereka

Fandom K-Pop/ Infographic by Hipwee

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini