Yuk ngobrolin K-pop bentar!

Buat yang suka K-pop mungkin langsung teriak kegirangan, tapi buat yang nggak suka paling komentar ‘ih nggak penting banget sih bahas K-pop’. Entah sejak kapan, suka atau nggak-nya orang sama K-pop itu seakan-akan jadi strata sosial yang membedakan level ke-alay-an seseorang. Ya gimana nggak?! Kalau lihat bagaimana fans K-pop rela nunggu di airport berjam-jam sampai ada yang pingsan saking histerisnya cuma gara-gara lihat idolanya lewat, jelas orang kebanyakan bakal gagal paham.

Advertisement

Yang lebih mengherankan lagi, itu fenomena global lho. Bukan cuma di Indonesia aja. Jadi kalau yang suka K-pop itu alay, berarti ada ledakan populasi alay di seluruh dunia. Padahal yang dikenal sebagai musik internasional sampai tahun 2000-an itu ya cuma musik dari Amerika Serikat atau Inggris, sekarang ‘musik’ dari Korea Selatan justru bisa bersaing. Kenapa musik dari Korsel harus pakai tanda petik? Soalnya, kebanyakan orang Korsel sendiri kemungkinan besar malah nggak kenal lho sama grup-grup K-pop favoritmu.

Di Korsel, K-pop dilihat sebagai genre musik tersendiri yang penyukanya sebagian besar anak-anak SMP atau SMA. Bahkan Mbak di video ini bilang, K-pop sebenarnya nggak dibuat untuk orang Korea tapi buat ‘diimpor’ ke luar negeri. Kok bisa ya buat banyak orang dari berbagai negara tergila-gila, tapi orang Korsel sendiri biasa-biasa aja. Peace lho guys, pertanyaan ini juga datang dari fans setia salah satu grup K-pop (penulis) yang cuma ingin secara objektif memahami kegilaannya. Yuk meluncur bareng…

K-pop itu emang bukan sekadar musik biasa. Proses produksinya penuh pertimbangan teknis dan strategi pasar supaya bisa mempesona orang sebanyak-banyaknya

Menjalankan K-Pop selayaknya pabrik profesional via kpopchart.net

Industri K-pop jelas berbeda dengan cara band atau penyanyi pada umumnya dapat kontrak rekaman. Hampir semua idola K-pop harus dilatih selama bertahun-tahun sebelum akhirnya debut dan ‘boleh’ menyanyi di panggung. Banyak pengamat yang menggambarkan K-pop lebih mirip barisan produksi di pabrik dibanding proses kreatif musik biasanya. Perusahaan seperti SM Entertainment-lah yang menentukan siapa yang bakal debut, konsep grup seperti apa, musik yang bagaimana, sampai nama panggung tiap artisnya.

Advertisement

Nggak semua anggota di sebuah grup juga harus bisa menyanyi atau bermusik karena peran tersebut bisa dibagi-bagi. Ada posisi main vocal, lead vocal, main dancer, visual, bias-wrecker, dan lain sebagainya. Makanya itu, grup K-pop biasanya anggotanya banyak supaya semua orang bisa punya ‘bias’ atau favorit masing-masing. Meski oleh kritik, proses produksi musik seperti ini disebut tidak genuine atau autentik, tapi konsep hiburan K-pop ini nyatanya juga bisa buat banyak orang ketagihan.

Musiknya juga sengaja dibuat penuh hook dan mencolok dengan music video yang penuh warna. Bahkan sering menggunakan lirik-lirik Inggris supaya bisa dipasarkan secara global. Cuma emang liriknya biasanya terlalu childish untuk orang Korea beneran…

Mungkin orang Korea juga nggak ngerti maksud lirik lagu ini… via www.youtube.com

Bukan cuma artisnya aja yang dibentuk secara sempurna, fans-fans K-pop pun sengaja diberi identitas yang jelas. Dari nama fanclub sampai warna grup resmi untuk membedakan diri satu sama lain

Saking banyaknya, grup K-pop baru harus mulai banyak pakai warna gradasi karena warna biasa udah kepakai semua via mykoreandreamiskawaii.blogspot.co.id

Tak kenal maka tak sayang

Pepatah ini tampaknya bisa menggambarkan ‘politik’ fandom – istilah K-pop untuk fanclub –  K-pop di dunia. Kalau tren dalam musik pop Barat tampaknya baru dimulai sejak ‘Belieber’-nya Justin Bieber, praktik memberi nama fans itu sudah jadi standar sejak grup K-pop generasi pertama terbentuk. Bukan cuma nama, tiap grup K-pop juga punya warna, balon, logo, dan lightstick resmi. Banyak banget deh atribut identitasnya. Mungkin karena merasa memiliki identitas itulah, fans-fans K-pop jadi merasa lebih memiliki.

Identitas ini juga mempererat solidaritas antar sesama fans dan seringkali menyebabkan konflik dengan fans lain. Warna grup yang sama pun bisa jadi sumber masalah serius lho…

Fans K-pop generasi pertama. Fans H.O.T vs fans Sechskies, warna kuning vs putih via beyondhallyu.com

Karena identitas dan rasa memiliki yang kuat itu pula, fans tidak hanya menikmati musik para idola K-pop. Meski lagi nggak mengeluarkan album baru, fans K-pop tetap sibuk nonton reality show atau beli merchandise-nya

Banyak yang bisa dibeli. Dari kacang EXO sampai cokelat Super Junior, SM bahkan punya satu supermarket khusus idol di Seoul via www.kenterin.net

Kalau artis atau penyanyi Barat, apa aja sih yang bisa dibeli selain CD album (yang sekarang juga udah nggak banyak dijual lagi karena digitalisasi musik)? Paling t-shirt atau poster. Kalau artis-artis K-pop? Banyak banget! Ya karena punya identitas yang jelas itu, perusahaan-perusahaan K-pop bisa dengan mudah membuat merchandise sesuai warna maupun kepribadian artis-artisnya. Bukan cuma perusahaan, banyak juga fans yang jualan merchandise buatan mereka sendiri dan tetap laku keras.

Apalagi kalau udah menjelang konser, fans K-pop itu persiapannya banyak. Bukan cuma menikmati lagu aja, ada lightstick yang harus dibawa sampai fanchant yang harus dihafal. Mungkin terlihat berlebihan, tapi hubungan ekstra spesial antara sesama fans maupun dengan artisnya itu juga seru banget lho!  Yah ini sekadar curcolan aja sih dari fans K-pop yang sebenarnya tahu bagaimana K-pop emang sengaja diciptakan supaya fans-fans lebih militan. Tapi kalau setelah tahu pun kamu tetap suka, ‘kan ya sah-sah aja ya…

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya