Iwan Fals Kritik Pemerintah Lewat Lagu “Minyak Goreng”

Iwan menyinggung pemerintah hingga aparat yang diduga tidak tanggung jawab

Belakangan ini, minyak goreng sedang mengalami kelangkaan di beberapa wilayah di Indonesia karena minimnya stok persediaan yang didistribusikan. Langkanya minyak goreng ini membuat harga jual minyak goreng menjadi lebih mahal dari biasanya.

Advertisement

Sontak saja, kelangkaan minyak goreng tersebut menarik perhatian seorang musisi senior legendaris, Iwan Fals. Musisi bernama asli Virgiawan Listanto ini kemudian menciptakan sebuah lagu berjudul “Minyak Goreng”.

Ia menulis lagu ini bersama dengan Raja Pane. Lagu “Minyak Goreng” dibuat untuk menggambarkan situasi masyarakat sekitar yang kerap kali kesulitan untuk mendapatkan minyak goreng.

ADVERTISEMENT

Iwan Fals rilis lagu “Minyak Goreng” untuk mengkritik pemerintah

Musisi Iwan Fals diketahui belum lama ini merilis lagu yang berjudul “Minyak Goreng”. Lagu yang dirilis melalui saluran YouTube pribadinya pada 6 Maret 2022 lalu ini ia tulis untuk menggambarkan keadaan masyarakat yang sulit mendapatkan minyak goreng.

Advertisement

Minyak goreng menguap. Hilang dan lenyap di pasar. Semua ibu-ibu menggerutu (pun bapak-bapaknya sudah barang tentu). Kocar-kacir di pasar-pasar,” begitu sepenggal lirik lagu “Minyak Goreng” yang dikutip dari YouTube Iwan Fals Official.

Melalui sepenggal lirik lagu tersebut, Iwan mempertanyakan bagaimana kondisi kelangkaan minyak goreng dapat terjadi. Sontak, lagu yang berisi tentang kritik kepada pemerintah ini telah mendapatkan jumlah tayangan sebanyak 58 ribu kali.

Lagu ini juga mendapat lebih dari 500 komentar warganet yang merasa senang karena Iwan Fals kembali menyampaikan kritik melalui lagu-lagunya.

Advertisement

ADVERTISEMENT

Iwan mempertanyakan soal fenomena langkanya minyak goreng hingga sulit ditemukan di pasaran

Iwan Fals

Lirik lagu “Minyak Goreng” berisi kritik terhadap pemerintah dan para aparat | Credit: Instagram @iwanfals

Pada lirik lagu yang berjudul “Minyak Goreng” tersebut, Iwan pun mempertanyakan soal fenomena langkanya minyak goreng hingga menjadi sulit ditemukan di pasaran. Kalau pun ada, harga yang dijual akan jauh lebih mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat.

Aneh rasanya kok bisa hilang. Kalau pun ada harganya selangit. Usut punya usut ternyata ditimbun. Oleh siapa? Konon oleh tujuh konglomerat tambun,” lanjut lirik lagu tersebut.

Tak hanya itu, Iwan juga menyinggung beberapa pihak lain, seperti pemerintah hingga aparat yang diduga tidak bertanggung jawab karena menimbun pasukan minyak goreng. Hal ini terlihat dari penggalan bait lirik lagu berikutnya.

Aku kesal, kok konglomerat tega? Aku resah, kok polisi tak berdaya? Aku marah, kok pemerintah begitu mudah dipermainkan? Aku geram, kok kasus itu terus berulang?” begitu lirik lagu selanjutnya.

Lalu pada akhir lagunya, musisi yang aktif bermusik sejak 1978 itu juga menyinggung soal keadaan masyarakat yang kesusahan mendapatkan minyak tanah layaknya tikus mati dilumbung padi.

Iwan juga merasa heran ke mana perginya minyak goreng tersebut, padahal Indonesia memiliki banyak sekali perkebunan sawit hingga jutaan hektar.

Ini seperti tikus mati dilumbung padi. Bahan kita banyak, sawit jutaan hektar. Lalu kenapa hilang dan menghilang? Dasar mafia, masa bodoh orang susah,” lanjutnya.

Pada sepenggal lirik terakhir, Iwan juga menuding bahwa kelangkaan minyak goreng ini terjadi karena para mafia dan aparat yang menyembunyikan minyak gorenng. Iwan juga menyindir untuk memberantas para penimbun minyak dengan cara menembak atau dihukum seumur hidup.

Mungkin mafia dan aparat ada main? Pura-pura hilang tapi diumpetin. Kok susah amat memberantasnya? Tembak saja atau hukum seumur hidup. Jera… Jera… Jera…? Ah belum tentu.. lho,” begitu penggalan lirik terakhir dari lagu “Minyak Goreng”.

Lagu “Minyak Goreng” menjadi lagu pertama Iwan Fals yang dirilis pada tahun 2022 ini. Musisi berusia 60 tahun itu memang seringkali mengkritisi pemerintah melalui karya-karyanya.

Ia juga sebelumnya pernah mengkritik pemerintah melalui cuitan di akun Twitter pribadinya, salah satunya soal kenaikan harga sembako yang kerap terjadi pada bulan puasa.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

CLOSE