Menulis di buku diary. Sebagian kamu mungkin pernah menjadikan kebiasaan ini sebagai hobi saat zaman sekolah dulu. Isinya mungkin nggak penting-penting amat sih, dari mulai curhat tentang sekolah, biodata teman sekelas, nulis nama cowok yang kamu suka, sampai puisi yang isinya nggak banget (alaaaaay sumpah!).

Tapi anehnya, walau isinya nggak penting, kamu bela-belain beli diary yang ada gemboknya. Please, padahal kalau sekarang dipikir-pikir, ngapain ya digembok segala?! :D. Jawaban pastinya mungkin khawatir dibaca sama orang rumah. Hayooo ngaku? Kamu malu kalau sampai ketauan isinya apa.

Advertisement

Nah, kali ini Hipwee bakal ngajak kamu, yup, kamu yang lagi di tengah kesibukan, untuk nostalgia lagi. Kita bakal jalan-jalan ke masa di mana kamu lagi alay-alaynya nulis diary sambil senyum-senyum sendiri. 😉

1. Pertamanya kamu semangat banget beli buku diary yang gambarnya tokoh kartun unyu, dan bergembok pula… (taunya kuncinya ilang).

Beli diary yang ada gemboknya.

Beli diary yang ada gemboknya. via www.pernak-pernik-lucu.com

Awalnya kamu excited banget beli buku diary karena saat itu teman sekelasmu pada punya. Dan memang saat itu lagi ngetrend banget ya buku diary. Dari sekian banyak buku diary yang lucu, kamu pilih yang paling unyu, yang gambarnya Hello Kitty. Atau jangan-jangan kamu pilih yang gambarnya Meteor Garden? Tao Ming Tse dkk? 😀 Yang paling alaynya adalah kamu beli buku diary yang ada gemboknya. Alasannya karena kamu khawatir buku diary-mu dibaca sama orang rumah. Duh, jangan sampai deh!

2. Kamu pun mulai asyik mengisi buku diary-mu dengan curhatan tentang sekolah. Kadang kamu sengaja bawa diary ke sekolah supaya temanmu ngisi biodata di dalamnya.

Diisi biodata teman juga.

Diisi biodata teman juga. via nameeroslan.blogspot.co.id

Buku diary yang unyu udah kamu miliki, kamu pun mulai mengisinya dengan tulisan yang berupa curhatan tentang sekolah. Ceritanya dari mulai tentang cowok yang kamu suka sampai tentang moment lucu yang nggak terlupakan di kelas. Kalau kamu masih inget, buku diary-mu pasti penuh dengan warna-warni coretan spidol. Kadang juga kamu bawa buku diary-mu ke sekolah, supaya temanmu ngisi biodata di dalamnya. Isinya dari mulai nama, ttl, sampai hobi.

3. Sementara kamu yang buku diary-nya berupa binder, nggak akan melewatkan kesempatan untuk tuker-tukeran kertas binder sama teman lainnya.

Tukeran kertas binder zaman sekolah.

Tukeran kertas binder zaman sekolah. via www.online-instagram.com

Advertisement

Hal seru lainnya tentang buku diary adalah acara tuker-tukeran kertas binder sama teman-temanmu. Ini khusus untuk kamu yang buku diary-nya berbentuk binder ya. Bahkan istilah Disney adinata sebagai nama salah satu brand kertas itu sempat ngehits lho. Tiap tukeran kertas pasti kamu sebelumnya nanya, itu kertasnya asli apa nggak? Padahal kalau dipikir-pikir lagi kertas di mana-mana sama ya. 😀

4. Nggak cuma mengisi buku diary punya sendiri, kamu juga ikut ngisi biodata di buku diary temanmu. Inget dong istilah makes dan mikes? Hayo, itu singkatan dari apa?

Inget dong sama makes dan mikes?

Inget dong sama makes dan mikes? via www.jambiupdate.co

Nama: Syarifudin Pramana

Nama panggilan: Udin Pe’a

Hobi: main bola, jajan, sama main PS (ngakak).

Makes: Nasi goreng

Mikes: Fanta (untung bukan teh sisri ya).

Cita-cita: polisi (untung bukan jadi orang sukses)

Perihal mengisi biodata ini juga bergantian. Bukan cuma biodata temanmu aja yang mengisi buku diary-mu, tapi biodata kamu juga ada di buku diary mereka. Masih inget dong ya sama istilah makes dan mikes? Yup! Makanan kesukaan dan minuman kesukaan. Hobi dan cita-cita juga nggak ketinggalan kamu cantumkan. Malah ada yang sengaja mencantumkan nama cowok/cewek yang disuka, tapi pakai inisial (ujung-ujungnya ketauan juga).

5. Pernah suatu kali diary-mu kebaca sama adik atau ibumu. Duh, malunya setengah mati! Padahal udah kamu coba gembok, tapi ujung-ujungnya ketahuan juga.

Eh, kebaca deh sama adikmu. Ayah Ibumu pun tahu.

Eh, kebaca deh sama adikmu. Ayah Ibumu pun tahu. via www.selipan.com

Suatu ketika buku diary-mu ditemukan dalam keadaan terbuka sama adikmu yang jahilnya nggak ketulungan. Dia membacanya dan ngasih tau ke ibu dan ayahmu tentang isinya. Terbongkarlah kamu ternyata lagi naksir teman kelasmu yang kebetulan jadi ketua kelas! Sumpah, kamu malunya pakai banget! Apalagi di halaman tengahnya kamu tulis puisi yang alaynya setengah mati. Puisi itu ditulis khusus buat cowok yang kamu taksir.

6. Seiring berjalannya waktu, kesibukan menjauhkan kamu dari diary kesayanganmu. Yah, berakhir deh riwayat diary-mu.

Diary-mu usangmu suatu ketika kamu temukan.

Diary-mu usangmu suatu ketika kamu temukan. via bintangon7.blogspot.com

Waktu pun berlalu dengan cepatnya. Kesibukan menjauhkanmu dari buku diary-mu tersayang. Kamu udah mulai melupakan aktivitas menulis diary. Berakhirlah riwayat diary-mu yang seingatmu terakhir kamu taruh di lemari, tepatnya di bawah baju (atau kamu taruh di bawah kasur). Yah, bye bye diary…

7. Tahun-tahun berlalu dan kamu yang udah bukan anak sekolahan lagi. Tapi tiba-tiba, tanpa disengaja menemukan diary kesayanganmu. Membaca ulang diary usang yang ditemukan dalam keadaan terbuka itu dijamin bikin kamu ketawa sendiri (sumpah, gue dulu alay banget ya?!).

Ya ampun gue dulu alay banget ya.

Ya ampun gue dulu alay banget ya. via freshperon.tumblr.com

Beberapa tahun kemudian saat kamu udah nggak lagi jadi anak sekolahan, tiba-tiba kamu menemukan buku diary-mu dalam keadaan terbuka di dalam tumpukan buku-buku pelajaran lama. Buku diary yang bentuknya udah usang itu pun kamu baca dan berhasil membuatmu tertawa ngakak. 😀

Kalimat yang pasti bakal muncul di benakmu adalah kok gue dulu alay banget ya?

Untuk kembali menghadirkan nostalgia, kamu bisa lho menulis diary lagi. Iya, walaupun kita udah nggak jadi anak sekolahan lagi. Asal isinya nggak tentang makes dan mikes aja.. (bhahaha). Okeh, waktunya kita kembali ke masa sekarang. Pejamkan matamu. Taraaaa. (Ceritanya kamu udah balik ke masa ini). 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya