Walimah, kondangan, atau apapun namanya: pesta pernikahan adalah acara yang sangat sakral untuk orang Indonesia. Dalam kultur kita, si empunya acara bukan hanya kedua mempelai, tapi juga keluarga besar mereka. Semua orang pun bekerja keras demi mewujudkan acara yang nggak terlupakan.

Yang paling unik dari pernikahan di Indonesia adalah undangannya. Nggak hanya nama mempelai dan kedua orangtua yang tercantum di sana, tapi juga gelar akademis mereka. Misalnya: yang Sarjana Teknik bakal ditulis S.T., yang Sarjana Ekonomi bakal ditulis S.E., ada juga yang Master, Ph.D, dst. dsb. Di luar negeri sih nggak ada budaya kayak gini. Terus kenapa ya, gelar akademis sering banget nongol di undangan nikah orang Indonesia?

1. Namanya juga gelar akademis. Siapa sih yang enggak bangga memilikinya?

Gelar akademis itu membanggakan

Gelar akademis itu membanggakan via showbiz.liputan6.com

Advertisement

Mungkin sih — mungkin — alasan utama kenapa gelar akademis sering nongol di undangan adalah memiliki gelar itu masih bikin sebagian besar orang Indonesia bangga. Gimana enggak bangga? Gelar itu banyak artinya. Pertama, artinya keluargamu bisa menyekolahkan kamu sampai jenjang yang tinggi, nggak hanya sampai di SMA aja. Apalagi kalau kamu ternyata gak cuma punya gelar sarjana, tapi juga gelar S-2. Dobel deh bangganya!

Kedua, gelar menunjukkan bahwa kamu pastinya nggak bego-bego banget. Biarpun mungkin gak sejenius Stephen Hawking juga, gelar ini berarti kamu cukup punya kemampuan intelektual dan ketahanan mental buat menyelesaikan skripsi (atau thesis). Kalau toh yang nyelesaiin tugas akhir kamu itu bukan kamu sendiri, artinya kamu cukup kaya untuk ngebayar orang mahal-mahal buat bikin tugas akhirmu ‘kan? Nah, gimana gak bangga?

2. Punya gelar menunjukkan mental yang matang. Tandanya kamu siap membangun masa depan yang mapan

Sudah mapan dan siap menyongsong masa depan

Sudah mapan dan siap menyongsong masa depan via foto.metrotvnews.com

Siapa sih yang gak tahu? Gelar akademis adalah bekal utama menuju masa depan yang lebih terjamin dan mapan. Lau pikir kenapa orangtua lau capek-capek nyekolahin anak sampai tinggi? Biar pinter? Engga lah, biar gampang dapet kerja! Pinter itu bonusnya aja.

Advertisement

Nah, jadi kalau seorang calon mempelai udah punya gelar akademis, artinya dia cukup prospektif buat membangun masa depan mapan. Dia bukan tipe anak muda yang jatuh cinta lalu sembarangan ngelamar anak orang. Punya gelar artinya dia matang secara mental dan layak dijadikan pasangan. Status keluarganya pun terangkat dengan memiliki anak bermental matang seperti dia.

3. Kalau gelar aja bisa bikin kepincut mertua, gak ada alasan kenapa para tamu undangan gak bisa kepincut juga

Bisa bikin mertua kepincut <3

Bisa bikin mertua kepincut <3 via www.debenhams.com

“Kamu mau ngelamar anak saya, Mas? Memangnya kamu punya apa?”

Punya gelar dan masa depan, Oom! Tuh, kalau gelar aja bisa bikin mertua kepincut, gak ada alasan kenapa para tamu undangan gak boleh tahu tentang gelarmu. Jadi, kenapa gak sekalian aja membubuhkannya di kertas undangan?

4. Kalau kedua mempelai sama-sama punya gelar, orang-orang akan semakin menganggap mereka cocok dan sepadan!

Pasangan sepadan | Creative Commons

Pasangan sepadan | Creative Commons via www.flickr.com

Tahu ‘kan mitos kalau pasangan yang mirip satu sama lain itu biasanya jodoh? Mungkin di sini maksudnya gak cuma mirip muka aja, tapi juga latar belakang dan statusnya — termasuk gelar akademis yang setara. Misalnya, yang cewek S.Psi., yang cowok S.T. Yang cewek M.A., yang cowok juga M.M. Kalau kebetulan dua-duanya memang punya gelar yang layak dipamerkan, sekalian aja dong gelarnya dicantumkan di undangan. Maksudnya, biar semua tamu tahu kalau kedua mempelai ini cocok dan sepadan untuk satu sama lain. Amiiiin~

5. Mungkin juga sebenarnya yang mau nikah gak mau mencantumkan gelar mereka. Tapi ujungnya menyerah juga karena disuruh orangtua

Undangan nggak pakai gelar juga ada sih

Undangan nggak pakai gelar juga ada sih via news.detik.com

Banyak juga lho calon pengantin cowok dan cewek yang nggak mau mencantumkan gelar mereka di undangan. Mungkin mereka malu, mungkin introvert, mungkin ya males aja gitu. Tapi apa daya, orangtua pokoknya ngotot nama di undangan harus pakai gelar. Kalau udah gini sih, kelar urusan. Gak usah pakai bantah-bantah, tulis aja deh gelar lau di undangan.

Karena persiapan nikah itu ribet, bikin stres, bikin capek. Berantem masalah nulis gelar atau nggak di undangan akan terasa gak penting banget — mending ikut Bapak-Ibu dan mertua aja deh, mereka maunya apa. Masih ada banyak hal lain yang harus diurusin selain kepenulisan nama dan gelar di kertas undangan.

6. Ya suka-suka sih mau cantumin gelar apa enggak di dalam undangan. Terserah yang punya acara, kita sih tinggal datang aja!

ANTARA/Maulana Surya

ANTARA/Maulana Surya via simomot.com

“Kenapa sih orang Indonesia suka banget cantumin gelar akademis di undangan nikah? Itu mau nikah atau wisuda lagi?”

“Di Eropa tuh jurnal akademik aja nggak nyantumin gelar, lho. Kalau di Indonesia, undangan nikah aja pakai ada keterangan sarjana segala…”

“Kenapa cuma gelar yang dicantumin? Gak sekalian transkripnya? Wkwkwkwk”

Awalnya mungkin memang agak aneh melihat gelar akademis tercantum di undangan acara pernikahan. Apa hubungannya gitu, emangnya mau presentasi di kampus? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ya nggak apa-apa juga sih undangan nyantumin gelar. Suka-suka yang punya acara dong mau cantumin gelar mereka atau enggak. Yang diundang diem aja deh, masih mending diundang!  yang penting makanan resepsinya enak-enak ‘kan?

Nah, kalau kamu akhirnya jadi mempelai juga, mau cantumin gelar gak di undanganmu nanti? 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya