“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”

Mungkin kita sudah nggak asing dengan quote yang satu ini. Ungkapan tersebut disampaikan oleh Soekarno lewat pidatonya saat memperingati Hari Pahlawan, 10 November 1961 silam. Tentu saja ini akan tetap relevan hingga sekarang, bahkan puluhan tahun ke depan. Bagaimana kita menghargai jasa mereka yang telah berjuang di masa lalu, hingga kita bisa hidup seperti ini sekarang. Para pahlawan ini bukan hanya mereka yang angkat senjata di medan perang. Mereka yang merawat korban peperangan, yang memperjuangkan minoritas dan kaum miskin juga bisa disebut pahlawan.

Advertisement

Sebagian kita pasti asing dengan sosok bernama Tjong A Fie. Tapi jika kamu orang Sumatera Utara, maka sudah pasti tahu tentang sejarah keturunan Tinghoa ini. Tjong A Fie bisa disebut sebagai sosok sejarah yang sangat berperan penting dalam pembangunan kota Medan puluhan tahun lalu. Bahkan ia bisa disebut sebagai pahlawan kala itu. Ia merupakan seorang saudagar kaya raya yang terkenal dengan kedermawanannya dan kedekatannya dengan siapapun, tanpa peduli latar belakang etnis. Dengan kekayaannya itu, nggak serta merta membuat Tjong A Fie sombong, justru ia menyumbang materi yang nggak sedikit bagi kamu miskin. Dan masih banyak kenangan baik lainnya ketika kita mengingat sosok ini.

Hingga beberapa waktu lalu, sebuah stasiun televisi swasta di tanah air menayangkan film yang berjudul “Misteri Rumah Tjong A Fie” dan ditekankan bahwa ini adalah kisah nyata. Inilah yang membuat sebagian masyarakat kecewa. Bukan mengangkat tentang sejarah sosok Tjong A Fie, film ini justru menunjukkan bahwa kediaman Tjong A Fie menyimpan misteri alias angker. Hal ini baru diketahui keluarga setelah film ditayangkan.

Film tersebut membuat keluarga Tjong A Fie merasa kecewa karena dianggap mengada-ngada apalagi nggak pernah ada izin untuk itu

nggak minta izin dan mengada-ada via www.instagram.com

Salah satu cicit dari Tjong A Fie, Ricco Cheza melalui akun Istagram-nya mengungkapkan kekagetannya setelah mengetahui ada film tentang sang kakek buyut. Namun bukan soal sejarahnya sebagai sosok yang dihormati, stasiun televisi swasta ini menayangkan kisah misteri rumah peninggalan kakeknya itu.

Advertisement

Ricco mengakui kalau apa yang ada di film yang katanya kisah nyata itu adalah mengada-ada. Selama 17 tahun tinggal di sana, Ricco mengaku nggak pernah ada meja yang bergerak sendiri, hantu cina, foto yang bergerak, dan horor lainnya. Apalagi jika diikuti oleh mendiang Tjong A Fie. Nggak hanya menunjukkan kekesalannya, keluarga besar Tjong A Fie pun merasa nggak pernah dimintai izin oleh pihak terkait untuk mengangkat kisah keluarga mereka.

Setelah kekesalan keluarga viral di media sosial, akhirnya pihak televisi dan Production House pun meminta maaf

akhirnya minta maaf via www.instagram.com

Setelah Ricco mengunggah unek-uneknya ke publik, akhirnya melalui DM Instagram, pihak stasiun televisi swasta itu pun meminta maaf. Mereka mengaku bahwa program tersebut dibuat bekerja sama dengan sebuah Production House. Nggak lama kemudian, pihak Production House pun juga mengirimkan surat permintaan maaf kepada keluarga besar Tjong A Fie dan meminta kesediaan mereka untuk berdialog guna menyelesaikan masalah ini.

Padahal, sosok Tjong a Fie begitu dihormati di Medan karena kedermawanannya dan toleransinya yang tinggi terhadap siapapun

kisah nyata Tjong A Fie via www.instagram.com

Meski telah meminta maaf, dan tayangan kisah nyata ini sudah dihapus dari YouTube, tetap saja ini menjadi sebuah pelajaran besar bagi kita semua. Betapa pentingnya melakukan riset sebelum mengangkat sebuah kisah, apalagi ada hubungannya dengan sejarah. Film yang sedianya berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat yang menonton layar kaca, tentu harus memahami mana yang pantas dijadikan sebagai tontonan yang sifatnya menghibur, mana yang sebagai sarana untuk belajar. Apalagi jika film tersebut dibuat tanpa seizin keluarga yang bersangkutan. Sudah jatuh, tertimpa tangga.

Sosok Tjong A Fie adalah orang yang sangat dihormati di Medan. Mereka menghormati beliau karena kedermawanannya dan rasa tolerannya yang sangat tinggi. Ia nggak pernah membeda-bedakan orang yang ia tolong. Apakah itu berasal dari etnis yang sama atau pribumi. Malah, sosoknya dikenal juga karena sangat dekat dengan kaum pribumi. Jika saja hal ini yang diangkat, tentu saja keluarga maupun masyarakat Medan akan merasa senang dan bangga, bahkan berterima kasih. Dibandingkan dibuatkan kisah misteri seperti ini.

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kesuksesan dan kejayaan bukan terletak pada apa yang saya miliki, tetapi terletak pada apa yang saya berikan – Tjong A Fie

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya