Saya dulu menjalani masa TK dan SD di sekolah Muhammadiyah. Artinya, selain mahal bayarnya, teman saya beragama Islam semuanya.

Lalu setelah itu saya diterima di SMP Negeri TERBAIK DI JOGJA, mendapat kelas yang lagi-lagi isinya Islam semua. Bayangkan, sampai usia 15 tahun saya tidak punya teman non-Islam sama sekali. Akhirnya saya selalu berdebar-debar ketika harus berinteraksi dengan orang non-Islam. Mau menatap mata mereka saja was-was, takut murtad dengan sendirinya. Saya juga khawatir jika kelakuan mereka aneh-aneh. Makan dengan tangan kiri misalnya, astaga aneh sekali!

Advertisement

Apalagi bercanda soal agama lain, tidak pernah. Selain tidak punya referensi, tidak bakal lucu juga karena tidak punya teman dari agama lain yang jadi sasaran untuk mendengarkan. Akhirnya, masa kecil hingga akil balig kami habiskan dengan bercanda soal nama bapak. Sungguh tidak berfaedah. Selain tidak substansif, sering ujung-ujungnya berantem beneran. Berbeda nama bapak ternyata adalah benih-benih intoleransi.

Baru ketika SMA, akhirnya saya mulai punya teman-teman dari beragam keyakinan. Awalnya agak canggung, tapi lama-kelamaan terbiasa. Oh, ternyata mereka tidak berkelakuan aneh. Meski makan dengan tangan kiri, tapi mereka tidak mengganggu ketika saya hendak solat atau naik haji.  Mereka juga bisa marah kalau tengkuknya saya pukul pakai penggaris besi.  Oalah, sama saja ternyata.

Makin ke sini, saya punya banyak sahabat yang non-Islam. Dan namanya sahabat, topik bercandanya sudah merambah di segala lini, termasuk agama. Dan ini dilakukan di hampir semua lingkaran pergaulan saya yang berbeda-beda. Semua pernah mengatakan, “ih, kayaknya cuma kita yang kalau bercanda ngawur begini…”. Masing-masing merasa spesial dan unik, padahal hampir semuanya juga melakukan ini. Memangnya bercandaannya seperti apa? Wew, tentu tidak bisa ditulis di sini dong, saya belum mau pamit dari dunia tulis menulis.

Advertisement

Pokoknya saya tidak pernah kalah saat bercanda agama, karena ketika tersudut saya tinggal bilang, “oke, kurekam ya”…

*terlanjur mayoritas*

Yang pasti, itu justru yang membuat perbedaan keyakinan di antara kami tak pernah berbuah sengketa. Jika beda agama saja bisa diredam menjadi kegelian, apalagi beda perkara prinsipil yang lain.

Lantas tiba-tiba muncul sepasang komedian yang menarik perhatian saya. Coki Pardede dan Tretan Muslim. Keduanya naik daun dengan materi yang kaya akan hal-hal tabu, mulut mereka fasih mengobral cekcok. Seringkali kelucuan muncul karena mereka menciptakan kejutan dengan mengagetkan batas-batas norma kepatutan yang terlanjur tertanam di diri kita.

Misalnya, tatkala persepsi kita sudah terbiasa dengan basa-basi dan formalitas ketika ingin mengkritik orang lain, mereka enteng saja melempar jargon “Apa itu damai? Hiya hiya hiya”, begitu juga meminjam wacana agama untuk mengerjai wacana lainnya.  Simpel saja, saya tertawa menonton video-video mereka.

Sejujurnya, materi milik Coki dan Muslim tidak banyak berbeda dari bercandaan agama dan topik-topik waton lainnya di tongkrongan-tongkrongan saya. Dan saya yakin itu sebenarnya ada di mana-mana. Bedanya, mereka punya keberanian menampilkan itu di depan publik, dan lebih luwes membawakannya. Menonton mereka membuat saya ingat tongkrongan kami, dan sahabat-sahabat non-Islam saya yang lucu-lucu.

Lantas seperti yang kita tahu, akhir bulan kemarin, muncul video mereka berjudul Debat Kusir – Episode Terakhir yang diunggah kanal Youtube Majelis Lucu Indonesia. Coki dan Muslim menyatakan pamit dari dunia komedi. Sebabnya, unggahan video mereka sebelumnya yang berisi memasak daging bumbu sari kurma dianggap menistakan agama oleh warganet yang mencak-mencak. Perkara meruncing karena gelombang kebencian ini sampai menerpa ke rekan-rekan komedian lain dari Majelis Lucu Indonesia dan orang-orang terdekat mereka.

Dasarnya Coki dan Muslim suka bercanda ngehe, banyak penonton video itu yang berpikir pernyataan pamit itu cuma gimmick di awal sebelum  “e tapi bohong.. hiya hiya hiya!”yang biasanya jadi twist punchline mereka muncul entah di mana. Tapi seakan menunggu Ahmad Dhani membuat lagu bagus lagi, semua sia-sia. Tidak ada kejutan.

Justru itu kejutannya, Coki dan Muslim ternyata serius.

Oke, berarti kita juga perlu serius melihat peristiwa ini.

Apakah benar Coki dan Muslim melakukan penistaan?

Siapapun berhak tidak suka, tidak merasa terhibur, atau bahkan malah tersinggung dengan video memasak dari Coki-Muslim, sesuai dengan tingkat sensitivitas emosi dan preferensi humor personal masing-masing. Tapi jika sampai di tahap melakukan persekusi dan menuntut ini-itu, perlu dipastikan punya alasan yang bisa disepakati secara publik dan hukum.

Sialnya, sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab bagian mana secara spesifik dari video itu yang patut dipermasalahkan dan masuk dalam kategori penistaan agama.

Lain dengan kasus Ahok yang dijebloskan ke bui gara-gara kasus pernyataan, “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak-ibu enggak bisa pilih saya, ya—dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu, lho…..”

Pernyataan Ahok di atas mungkin masih bisa dipertimbangkan sebagai penistaan, karena ada unsur “penolakan kebenaran” dan sentimen ofensif pada golongan tertentu–walau tekanan massa sepertinya jadi pertimbangan hakim yang sebenarnya. Akan tetapi, bagaimana dengan materi Coki-Muslim?

“Untuk pertama kalinya dalam hidup saya melihat daging babi. Nggak bau ya. Coba kita dengarkan, neraka, neraka, api neraka, babi ini neraka. Saya akan memasak daging babi. Ini keren ya seorang chef memasak tanpa dicicip. Kalau orang Islam bagian terbaik dari babi, dibuang. Tidak ada yang terbaik dari alharamin. Karena daging babi haram, kita akan campurin unsur-unsur Arab, kurma, dan madu. Sangat Arab, sangat Timur Tengah sekali. Kira-kira apa yang terjadi makanan haram babi ini dicampur dengan makanan barokah dari kurma dan madu,ujar Muslim.

“Sebenarnya karena persiapannya kurang prepare ya, kalau bisa dapatin air zam-zam kan menarik juga dong. Ada daging babi dicampur ini minumnya air zam-zam. Jadi bagaimana ceritanya kalau sari-sati kurma masuk ke dalam pori-pori apakah cacing pitanya akan mualaf. Kita tidak tahu dong. Dalam ini kan ada cacing pita,” sahut Coki.

Membaca berulang-ulang sampai mual (membayangkan ada cacing pita yang mualaf di lambung kita, lalu menyebarkan kebaikan), saya tidak menemukan unsur penghinaan atau penampikan kebenaran agama Islam, apalagi fitnah. Daging babi memang dipercaya haram dalam Islam.

Kalaupun bersifat menjatuhkan, justru malah bukan agama saya yang seharusnya lebih beralasan untuk dongkol. Karena ketika kepercayaan yang berbeda antara agama islam dan non-islam dipertarungkan di situ, justru keyakinan dalam Islam yang dimenangkan dan dijadikan pondasi premisnya: “makan daging babi itu haram dan akan membuatmu masuk neraka”.

Maka ketakutan apa yang dirasakan para warganet atas konten di atas? Agama tidak akan berkurang nilai apalagi kebenarannya oleh persepsi dan ujaran manusia. Toh tidak pernah saya dengar ada orang pindah agama hanya karena agamanya dijadikan bahan bercandaan. Kalaupun ada, agamanya tidak perlu merasa kehilangan jika punya umat dengan iman selemah itu.

Gus Dur, mantan presiden Indonesia dan salah satu tokoh Islam nasional paling kita hormati saja dikenal suka bercanda, termasuk perihal agama Islam. Salah satu yang paling tersohor adalah anekdot “Siapa Paling Dekat dengan Tuhan?”:  “Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa.” 

Lebih ngawur bukan? Andaikan ini keluar dari mulut Coki-Muslim, mungkin mereka akan minta pamit dari tata surya.

Tapi apa perlunya bercanda soal agama di Indonesia?

Di negara seperti Indonesia yang berupa-rupa latar belakang ras dan agama harus berdampingan sementara intoleransi sedang menggeliat dan pendidikan berorientasi multikultur masih angan-angan, membuat perbedaan menjadi sesuatu yang kasual adalah jalan keluar yang bisa kita rintis dari keseharian.

Para peneliti membangun bukti-bukti bahwa sejumlah jenis komedi, termasuk satir, menunjukan fungsi sosial, terutama membongkar ketabuan yang menghambat komunikasi. Josie Long, seorang komedian merangkap aktivis sosial, berpendapat,  “Bercanda adalah cara untuk mengakrabkan diri dengan orang lain,”

Beberapa lawakan soal agama yang tidak hati-hati memang bisa mempromosikan prejudice (prasangka buruk, misal “orang islam yang berjenggot pasti teroris”, dsb.). Namun, jika tepat konteksnya, lawakan agama bisa membangun ikatan sosial dan memperkenalkan orang-orang pada budaya yang tidak terlalu mereka kenal sebelumnya.

Seperti tadi, ketika 15 tahun saya masih merasa asing dengan penganut agama lain, bercanda menjadi pintu bagi saya untuk memasuki dialog yang cair terkait agama mereka.  Lawakan soal agama adalah cara kita menggali informasi terkait kelompok lain tanpa terlihat kikuk dan menghakimi.

Bayangkan, jika kita harus sekaku itu sementara kita ingin tahu tentang agama lain:

“Hai, saya setuju dengan materi dosen kita kemarin yang bilang bahwa dolar naik karena perang dagang antara Cina dan Amerika, eh by the way kalau sinterklas itu pendapatannya dari mana ya?

Tidak bisa begitu dooooong.

Dalam konteks lawakan agama di Indonesia, kita sering dibikin tergelak dengan materi perihal kesulitan golongan minoritas dihadapkan dengan dominasi agama Islam. Ini salah satu wacana yang sering terbaca dari bercandaan ala Coki-Muslim. Misalnya dalam salah satu video mereka yang berkonflik dengan Atta Halilintar :

Coki: “Tapi kalau misalnya di agama gue, ada kisah raja Nebukadnezar yang membakar tiga pemuda…..” 

Muslim: “Oke, nggak perlu tahu, sorry. Cukup yang diceritakan adalah kisah agama islam. Saya tidak menganggap kisah agama anda salah. Tapi saya tidak mau dengar. Cukuplah kisah islam yang tersebar di Youtube. Kisah anda saya tidak mau tahu. Saya tidak mau auto-murtad…”

Terlepas menurutmu lucu atau tidak, dialog di atas adalah cerminan keresahan yang dialami oleh penganut agama minoritas di pergaulan sekitar. (perhatikan, kita bicara Indonesia, bukan Amerika atau lain-lain). Ini konsekuensi yang miris bagi minoritas, dan agaknya sulit dihindari atau diubah. Tapi setidaknya mengolahnya menjadi lawakan bisa membantu keresahan itu untuk mumbul ke permukaan–karena tentu sedikit dari mereka yang berani angkat suara secara serius–dibicarakan, dan setidaknya menciptakan kelegaan.

“Seringkali apa yang dilakukan komedian adalah menggunakan logika untuk membuat hal-hal yang menyakitkan menjadi lebih masuk akal,” ujar John Fugelsang yang memandang komedi sebagai sebuah koreksi sosial. “Mereka dapat mengartikulasikan emosi dan argumen yang rumit dengan menggunakan lawakan sebagai sebuah mekanisme pembingkaian.”

Selain itu, salah satu alasan kenapa setiap lawakan tidak perlu dijelaskan “lucunya ada di mana” adalah karena lewat misteri itu kita bisa tahu seberapa terhubung pendengarnya. Maka ketika hasilnya adalah tawa bersama, kita menyadari bahwa kita sama-sama punya pemahaman yang sama terkait maksud lawakan itu. Dan itu adalah langkah besar untuk membuat kita makin akrab.

Yah, tapi kalau mau sepanjang apapun tulisan ini pada dasarnya memang kupingmu mudah panas, ya sudah, ayo kita kembali ke ejek-ejekan nama bapak saja.

Nama bapak saya Sularto, tapi sudah almarhum. Mau apa lu?

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya