Kegalauan seorang mahasiswa berada pada sebuah titik menyebalkan, ketika dia benar-benar merasa muak dengan kawan yang nggak kooperatif buat mengerjakan tugas kelompok. Ini realitas, bukan sebuah masalah bualan yang kemudian berlalu begitu saja.

Nyatanya spesies bocah yang cuma ‘nebeng nama‘ ini bakal selalu ada di mana pun. Si mager yang kemampuannya cuma ‘nggak kasatmata’. Demi kebaikan kalian dan pencegahan kejengkelan di masa depan, mari simak kiat-kiat memilih kawan buat tugas kelompok. Nggak apa-apalah selektif dikit!

1. Pikir lagi kalau ada teman yang tiba-tiba sebelum pembagian kelompok udah pre-order gabung kelompokmu. Kemungkinannya dia ingin memanfaatkanmu atau dia naksir kamu, itu aja!

Sama aku, ya, Mbak! via asiacampus.utah.edu

Advertisement

Biasanya ada nih bocah-bocah yang bahkan di hari pertama masuk kelas sudah nge-tag mau kelompokan sama siapa. Kata-katanya selalu sama, “Eh, nanti kalau kelompokan kita bareng, ya?” Lalu kamu pun nggak enak buat menolaknya karena dia sudah pre-order duluan. Padahal cukup bilang, “Ntar liat deh, belum ditentuin juga. Buru-buru banget kayak besok kiamat!”

2. Pilih yang sekiranya aktif buat diskusi di kelas. Setidaknya dia masih mau mikir buat berargumen daripada yang pasif dan nggak peduli sama wacana apa pun. Repot, kalau sudah malas sejak dalam pikiran!

Setidaknya mereka yang aktif bukan cuma karena caper dan cari nilai. via www.sciencespo.fr

Sebagai mahasiswa, kamu seharusnya punya kemampuan sebagai ‘pengamat publik’, dengan begitu, kamu tahu betul bocah mana yang aktif berargumen di kelas. Kalau ada yang sebelum ada dosen suka berisik, tapi pas diskusi dia kicep, ya, hindari saja. Berarti dia memang malas mikir atau nggak ngerti sama pembahasan di kelas.

3. Biasanya ada sih tipe bocah tajir yang nggak rajin-rajin amat, lalu minta gabung kelompok. Kalau dia bisa menyokong kebutuhan kelompok mending deh, tapi kalau bocah pelitnya kayak Tuan Krab, mending jangan

Parfumnya aja aroma segepok uang. via theblacksheeponline.com

Sulit sih kalau harus menjustifikasi orang begini. Tapi intinya, kalau ada anak sultan yang ingin gabung kelompokmu, terimalah mereka karena sikap murah hatinya—bukan hanya karena isi dompet dan kendaraan yang dibawanya. Nggak bisa dimungkiri, bikin tugas kelompok itu butuh biaya, apalagi tugas projek-projek di luar kelas. Hmm. Makanya, kalau si anak sultan ini setidaknya mau berusaha jadi seksi sarana-prasarana, ya, cocok!

4. Terkadang, teman yang kamu anggap nggak terlalu pintar dan mau berusaha itu lebih mendingan daripada mereka yang IPK-nya bagus tapi individual banget. Percuma dong~

Mikirnya dalam hati, nggak mau dibagi-bagi. via www.nytimes.com

Advertisement

Percuma satu kelompok sama orang yang pinternya kayak Elon Musk tapi individualis betul. Kepintaran dia nggak bakal tuh dibagi-bagikan ke temannya. Dijamin deh kelompok belajar kalian akan sulit menunjukkan progres, justru dia yang bakal tambah pintar.

5. Mereka yang merasa paling pintar dan paling ngerti juga kadang bisa jadi racun. Bisa jadi ada perbedaan pendapat, dia ngeyel dan nggak mau ngalah, lalu … boom!

Kelompokan jadi nggak asyik. via sustainability.umich.edu

Sekelompok sama orang egois dan maunya menang sendiri sebenarnya sama aja kayak memeluk bom waktu. Alih-alih mau progres, kelompokmu justru bakal terbelah jadi dua kubu karena beda pendapat. Tentu bisa diatasi sih, dengan cara kamu mengalah. Tapi kalau pendapatnya salah dan dia kekeuh, ya, sulit.

Bukan bermaksud ngajarin kamu buat milih-milih teman dan nggak respek ke semua individu. Tapi arahan ini lebih condong pada profesionalitas aja, biar lebih nyaman lagi ngerjain tugas di kampus. Semangat dan semoga terhindar dari spesies yang suka ‘nebeng nama’ aja, ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya