Menonton Cikal Bakal Ahok dan Marah-Marahnya

Review Film A Man Called Ahok

6/10

Membuat kita sayang dengan sang ayah tapi bingung akan apa pentingnya 'seorang manusia bernama Ahok'

“Sebagai politisi, ia sangat orisinil. Dan menyegarkan sih berbincang dengan Ahok, karena dia tipenya ngomong dulu baru mikir, kan? Dan kita tahu itu membawanya ke dalam banyak masalah,” sahut Najwa Shihab, ketika di suatu kesempatan saya menanyakan sosok narasumber paling berkesan yang pernah diwawancarainya.

Advertisement

“Untuk wartawan politik yang terbiasa mewawancarai politisi–dalam istilahku adalah ‘orang yang terbiasa menutupi kejelasan dan melebih-lebihkan maksud kepentingannya’–bisa bertemu politisi yang sedemikian orisinil, yang ngomong ‘taik’, ‘urusan nenek lu’, yang kayaknya tidak peduli dengan apapun itu menyegarkan. Dan tidak dibuat-buat, for better or for worse. Kita selalu tidak pernah menyangka apa yang akan keluar dari mulut Ahok,” imbuh Najwa yang mengaku sudah belasan kali mewawancarai mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Saya pikir kita perlu sepakat. Suka atau tidak, Ahok adalah satu dari seribu. Bisa diperdebatkan sumbangsihnya untuk Jakarta, tapi saya yakin ia punya kontribusi besar untuk kemudahan kerja para wartawan politik. Kesehariannya mengandung berita, cerocosnya bisa langsung mengandung clickbait. Dan ketika dibuntuti oleh media ke sana ke sini, orang yang pakai seragam PNS ternyata terbukti bisa tidak jadi pemalas.

Dan kita belum sampai bicara kasusnya dengan salah satu surah di Al Quran itu.

Advertisement

Mengingat reputasinya yang fenomenal, memperlagakan film tentang seorang Ahok dengan film tentang Hanum Rais (putrinya Amien Rais, siapa tahu ada yang belum kenal~), yang  kuliah jauh-jauh di Eropa tidak menyelamatkannya dari menjadi penyebar hoaks  tentu saja tidak berimbang. Laman Film Indonesia menunjukkan jumlah penonton film A Man Called Ahok sampai Selasa (13 November 2018) mencapai 587.747, sementara jumlah penonton film Hanum & Rangga hanya 201.378 penonton. Ada banyak faktor non-alamiah di balik angka-angka itu, tapi saya lihat film Hanum & Rangga memang justru lebih terkatrol karena dibanding-bandingkan dengan  A Man Called Ahok ini.

Maka jawara sebenarnya dari ribut-ribut ini adalah kedua rumah produksinya.

Advertisement

Kocak juga, mengapa harus gaduh menandingkan keduanya? Memangnya apa yang diperebutkan? Takut pendukung Ahok lebih banyak dari Hanum? Menonton kan belum pasti mendukung,  ya apalagi tidak menonton sih, wakakak.

Lagipula dukungan untuk apa? Mereka tidak sedang ikut ajang pencarian bakat. Yang satu sedang mendekam di penjara, dan yang satu lagi sedang…. pusing mencari cara mengalahkan film orang yang sedang mendekam di penjara, pffft.

Dari segi konten? Hanum & Rangga adalah satu lagi film berbekal gairah pos-islamisme (menjadi religius tetap dengan gaya hidup modern dan mengejar pendidikan setinggi langit), sementara  A Man Called Ahok bukan film yang menyeriusi konteks agama tertentu.

Atau mengadu klaim kualitas filmnya?

Nah, satu rahasia dari  A Man Called Ahok: populer bukan berarti bagus.

A Man Called Ahok adalah film tentang apa saja yang membentuk sosok Ahok yang kita kenal

Masa kecil Ahok via amiratthemovies.com

Sesuai yang ada di buku A Man Called #Ahok besutan Rudi Valinka, film ini mafhum benar bahwa Ahok sejak watak dan pembawaannya sudah unik dan tersohor di masyarakat. Maka Putrama Tuta selaku sutradara mengambil opsi untuk benar-benar mencopot film ini dari konteks karier politik Ahok semenjak menjadi wakil Gubernur DKI Jakarta. Padahal, mayoritas dari kita baru mulai mengenal Ahok setelah duetnya bersama Jokowi itu.

Film ini justru tentang apa yang kita tidak tahu tentang Ahok, mulai dari masa kecilnya sampai ia menjadi Bupati Belitung Timur. Putrama Tuta ingin fokus pada bagaimana keluarga Ahok, khususnya ayahnya yang bernama Tjoeng Kim Nam mendidik dan mewujudkan lingkungan yang lantas memengaruhi pertumbuhan karakter Ahok.

A Man Called Ahok memaparkan pada kita darimana Ahok punya perangai temperamental, tegas-beringas, pragmatis dan berorientasi data. Bahkan, pendekatan kepemimpinannya yang main gusur itu bisa kita tangkap.

Di sepanjang film, kita dibujuk untuk menggali hubungan antara sosok Ahok yang kita kenal dan kejadian-kejadian yang ditampilkan di film ini. Beberapa berjalan mulus dan subtil, namun sejumlah lainnya tampak seperti dipaksakan, misalnya adegan ketika Ahok kecil melayangkan kalimat pecat pada karyawan ayahnya yang terbukti melakukan tindak korupsi. Kehadiran pesan ini dikemas terlalu mendramatisir.

Saya cukup menikmati konstruksi nilai-nilai yang disampaikan di film ini

Justru bukan heroisme dari tokoh Ahok yang kita dapat. Film ini menawarkan heroisme dari tokoh pendukungnya, yakni Tjoeng Kim Nam yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi, seorang tokoh masyarakat yang terbiasa dimintai bantuan oleh orang lain.

Secara sadar atau tidak, kita mencoba mencari cerminan Ahok di karakter Tjoeng Kim Nam (Denny Sumargo) yang berhasil mencuri atensi lebih dari siapapun di film ini. Kehadirannya tidak bisa ditandingi oleh Chew Kin Wah yang memerankan versi usia lanjut Tjoeng Kim Nam atau suara berat Daniel Mananta sebagai Ahok.

Untungnya nilai-nilai luhur dari Tjoeng Kim Nam tidak dimuntahkan begitu saja, kedermawanannya ini tidak seenak jidat Fahri atau Bruce Wayne, karena ia harus dihadapkan dengan kondisi finansial yang tidak kaya-kaya amat. Jika Robin Hood menolong rakyat kecil dengan mencuri, maka Tjoeng Kim Nam memilih melakukannya dengan berutang. Dan ibu Ahok (Eriska Rein) pun secara manusiawi sering mengeluh soal itu, apalagi ketika memergoki suaminya suka memberi uang serampangan atau menggratiskan obat-obatan di apotek yang dikelolanya. Sebagian dari kita mungkin bisa berempati pada beliau, sebagian perempuan malah mungkin langsung mencoret “dermawan” dari kriteria pria idamannya.

Dari dialog antara satu konflik ke konflik yang lain di film ini, kita bisa mendapat banyak pesan yang tidak dilampiaskan mentah-mentah begitu saja. Ada silang pendapat di sana. Misalnya, yang paling kentara, pertakian antara Tjoeng Kim Nam yang berkiblat pada nurani dibanding Ahok yang lebih realistis dan pragmatis.

Awas Spoiler!

Dominasi karakter Tjoeng Kim Nam kian tersurat ketika film ini kehilangan arah begitu karakternya dimatikan

Setelah adegan Tjoeng Kim Nam meninggal, film ini mendadak seperti oleng dan hilang kendali.

Alurnya tiba-tiba melompat-lompat. Ahok lantas memutuskan untuk berkiprah di kampung halaman, menjalankan perusahaan kontraktor tambang, lalu berinisiatif menjadi pejabat–hanya karena sekonyong-konyong ingat petuah ayahnya di masa lalu, tipikal film Indonesia 🙁 –dan ikut pemilihan, lalu ditutup dengan menjadi bupati,. Semua itu berjalan sangat cepat dan setengah meracau.

Sebagai resolusi, bagian akhir A Man Called Ahok tidak menjawab persoalan-persoalan yang dimunculkan sebelumnya. Misalnya, apakah Ahok bisa mengembangkan usaha tambang yang lebih bonafide dari kepunyaan ayahnya? Jika iya, apa saja langkah-langkah yang diambilnya. Ini menjadi penting, karena perbincangan perihal tambang di permulaan film cukup spesifik dan menarik.

Lalu kita juga tidak banyak diberi kejelasan soal lanskap sosial-politik Belitung Timur. Tantangan apa yang hadir di sana dan gebrakan apa yang dilakukan Ahok selepas menjadi bupati. Konteks-konteks sosial ini sempat disinggung di bagian-bagian awal, namun terbengkalai di paruh akhir, malahan terlalu fokus pada gesekan emosi keluarga yang diulang-ulang.

Pertanyaan yang muncul memang tidak harus dijawab gamblang dalam film. Namun, dalam konteks A Man Called Ahok, absennya itu semua menjadikan tokoh Ahok makin tidak signifikan.

Kita jadi kenal bagaimana watak dan karier Ahok terbentuk, tapi lalu untuk apa?

Kebanyakan konflik dan drama di A Man Called Ahok memang berpusat pada Tjoeng Kim Nam. Akhirnya, justru karakter Ahok sendiri yang dahaga akan urgensi, tidak ada bangunan kokoh untuk menegaskan bahwa Ahok ini sendiri adalah sosok yang penting, baik di film maupun di dunia nyata.

Yang paling mengesalkan bagi saya adalah film ini dibuka dan ditutup dengan sekelebat respons Ahok terkait isu Al-Maidah. Sementara jalannya film ini melepaskan diri dari konteks itu. Tidak ada benang merah yang cukup menjembatani kisah di film ini sampai pada terjadinya kasus penistaan. Apakah bekerja di pertambangan mendorong seseorang menjadi penista? Tidak doooong.

Akhirnya yang tampak adalah langkah buncah antara hasrat untuk menyinggung isu tersebut dan ketakutan untuk menunjukan keberpihakan. Seperti bertemunya perjaka dan perawan di kamar kos, takut-takut tapi ingin.

Iktikad A Man Called Ahok untuk menjadi biopik Ahok yang berumur panjang menjadi meragukan, pamor dan momentum kontroversinya terlalu gagap direspons.

Lalu sampailah pada pertanyaan sejuta umat: apakah film ini untuk pencitraan?

Entah, tapi saya selalu menyayangkan setiap film tentang tokoh politik yang digarap saat tokohnya masih aktif. A Man Called Ahok berulang kali diklaim tidak politis, sementara saya percaya semua film punya sisi politik. Sama sekali bukan dosa, namun agak problematik bagi film tentang politikus yang masih punya masa depan politik praktis yang terbuka lebar. Terlalu banyak kepentingan yang sengaja atau tidak sengaja akan menggelayuti mereka yang bekerja di balik layar ini. Mereka bisa bilang tidak, tapi jangan harap penonton bebas wasangka.

Lagipula terkadang kita butuh jarak untuk dapat menyelami dan menemukan makna. Film-film besar seperti JFK (1991), Gandhi (1982), atau Malcolm X (1992) digarap puluhan tahun sejak tokohnya meninggal dunia. Ada jarak sedemikian rupa yang harus diarungi guna mendapatkan ruang pandang yang lebih terang.

Maka kita belum akan menemukan film Trump, Jokowi, Prabowo, SBY, atau Sandiaga Uno yang bagus dalam waktu dekat, begitu juga film tentang Ahok.

.

.

.

Apalagi tentang Hanum, hiya hiya hiya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Ecrasez I'infame

CLOSE