4 Alasan Kenapa Merendahkan Selera Baca Orang Lain itu Harus Dihentikan. Sama Sekali Nggak Keren!

Udah gede kok masih baca komik sih?

Baca novel romance terus kapan pintarnya? Kayak aku dong, baca Sapiens.

Advertisement

Dalam dunia perbukuan yang katanya diisi dengan kaum open minded, ternyata masih ada beberapa orang yang mind-nya nggak terlalu open tentang selera baca orang lain. Biasanya mereka akan melontarkan perkataan menyudutkan seperti dua contoh kalimat di atas. Perilaku tersebut dikenal dengan istilah book shaming. Itu adalah kondisi saat seseorang merendahkan atau mempermalukan jenis bacaan orang lain. Alhasil, ‘korban’ pun merasa malu, nggak percaya diri, bahkan merasa bersalah telah membaca buku tertentu.

Banyak pembaca yang jadi nggak berani mengaku kalau mereka menyukai buku atau penulis tertentu hanya karena khawatir oleh judgement sekitarnya. Pasalnya, pelaku book shaming sering merasa bacaan mereka lebih oke, lebih berat, dan berisi daripada orang lain. Dari situlah mereka merasa punya hak untuk mengomentari bacaan orang lain yang di luar selera mereka.

Padahal, baca buku itu adalah pengalaman personal. Kok ini malah jadi ajang pamer superioritas sih? Inilah kenapa book shaming itu sama sekali nggak keren dan harus segera dihentikan.

Advertisement

1. Nggak semua orang baca buku karena pengen pintar. Ada yang cuma cari hiburan dan itu sah-sah aja

Tujuan membaca buku itu nggak harus sama

Tujuan membaca buku itu nggak harus sama | Photo by Thought Catalog on Unsplash

Tahu nggak kenapa genre buku ada banyak banget? Selain karena penulisnya mengangkat topik yang berbeda, secara nggak langsung genre-genre buku itu ada untuk memenuhi kebutuhan para pembaca yang juga sangat beragam. Bagi yang butuh skill memahami jalan pikiran pasangan, bisa baca buku psikologi. Yang ingin belajar dari pengalaman hidup orang lain, coba cek buku biografi atau memoir. Bahkan, kalau kamu butuh pelarian dari kehidupan nyata, bisa baca novel (yang genrenya juga macam-macam).

Tiap orang selalu punya alasan tersendiri di balik judul buku yang akhirnya mereka baca. Begitu pun dengan mereka yang ingin memperdalam wawasan dengan buku. Logika yang sama harusnya juga diterapkan kepada mereka yang membaca buku karena sekadar suka atau pengen dapat hiburan.

Cara setiap orang untuk mengasah kemampuan intelektualnya juga nggak harus lewat buku non fiksi seperti yang sering dikatakan beberapa orang. Kamu tetap bisa mendapat pelajaran berharga tentang kehidupan kok dari alur cerita di novel atau komik.

Advertisement

2. Minat baca orang Indonesia dari dulu udah rendah banget. Kalau tahu ada teman yang suka baca buku, mbok ya didukung dong!

Dukung mereka yang suka baca

Dukung mereka yang suka baca | Photo by Mael BALLAND on Unsplash

Central Connecticut State University melakukan riset pada tahun 2016 yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked. Udah bukan rahasia lagi kalau hasil riset menunjukkan negara kita berada di urutan ke-60 dari total 61 negara soal minat baca. Rendah banget, ya. Udahlah malas baca, hobi berantem di media sosial pula~

Seperti yang disebutkan di atas, book shaming hanya akan membuat korbannya merasa malu dan nggak percaya diri dengan buku bacaannya. Ternyata, dampaknya nggak berhenti di situ. Mereka sangat mungkin kehilangan minat saat tahu jenis buku favoritnya ternyata jadi bahan gunjingan banyak orang. Ada juga yang membeli buku tertentu hanya supaya dianggap masuk ke golongan yang selera bacanya ‘keren’ atau ingin terlihat pintar.

Di sisi lain, mereka yang tetap ingin menikmati buku tertentu memutuskan untuk membaca dalam diam dan mengurungkan niat untuk menuliskan ulasan buku itu di media sosial. Padahal, foto-foto buku beserta ulasannya di internet ampuh banget untuk menarik orang lain supaya baca buku.

Deretan dampak buruk itu tidak akan membuat minat baca Indonesia naik peringkat loh. Gimana orang lain bisa tertarik baca buku kalau mereka tahu di dalam ekosistem itu sendiri ada segelintir orang yang berperilaku toxic?

3. Meremehkan selera baca orang lain nggak membuatmu tambah keren

Bookshaming nggak bikin kamu jadi keren

Bookshaming nggak bikin kamu jadi keren | Photo by Becca Tapert on Unsplash

Ada banyak cara lain yang ampuh membuat kita tambah keren tanpa merendahkan orang lain. Daripada sibuk mengomentari selera baca orang lain, lebih baik fokus menerapkan isi bacaanmu ke kehidupan nyata. Bagi kaum-kaum yang merasa edgy dengan bacaan non fiksinya, sekaranglah saatnya membuat tulisan di buku itu menjadi nyata lewat aktivitasmu sehari-hari.

Satu lagi, orang-orang yang harus merendahkan orang lain dulu baru dirinya merasa hebat adalah mereka yang sebenarnya insecure dan butuh ditolong. Karena sejatinya, kita bisa berkembang bersama tanpa saling menjatuhkan. Hayooo loh~

4. Debat soal selera pribadi adalah salah satu aktivitas paling nggak berguna di dunia

Nggak perlu debat soal selera pribadi

Nggak perlu debat soal selera pribadi | Photo by Drew Perales on Unsplash

Kalau udah paham tentang tujuan baca buku setiap orang yang berbeda-beda, harusnya bakal lebih mudah untuk memahami poin terakhir ini. Gimana kalau genre buku favoritmu dikatain nggak bagus atau nggak cocok dengan umurmu sekarang ini? Pasti sederet pembelaan udah tersusun di kepalamu untuk melawan penghakiman itu.

Nah, begitu juga dengan pembaca lain. Perbedaan selera itu bukan untuk diperdebatkan. Lagian, apa bagusnya sih punya selera yang selalu sama dengan orang lain? Kalau genre favorit kita berbeda kan bisa ngobrol panjang lebar sambil kasih rekomendasi buku yang beragam~

Satu-satunya peraturan untuk masuk dalam kategori pembaca buku adalah dengan membaca buku. Hanya itu. Nggak peduli kamu mau baca genre apa, buku fisik atau digital, yang penting adalah aktivitas membacanya.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE