Dorongan untuk segera mengakhiri masa lajang memang kerap datang belakangan. Penyebabnya bisa macam-macam. Mulai dari teman-teman sejawat yang juga mulai mengakhiri masa lajangnya, sampai keinginan orangtua untuk menggendong cucu segera. Kita sebagai targetnya kadang cuma bisa senyum-senyum saja tanpa banyak bicara…

Fenomena ‘didorong-dorong’ nikah ini juga tak lepas menghantui pendaki. Mereka yang kadang lebih suka naik gunung dibanding mengunjungi pacar sendiri. Sebagai pendaki apakah kamu juga pengen bilang ke mereka yang mengejar-ngejarmu untuk menikah hal ini?

Naik gunung lebih gampang dari naik pelaminan. Jangan minta kita buru-buru nikah atau lamaran!

1. Mendaki emang bikin pegal kaki. Tapi mending investasi energi dibanding investasi hati

Mending mana? Investasi energi atau hati? via www.jalanpendaki.com

Perjalanan mendaki jelas tidak gampang. Kamu harus rela berjalan di atas dataran curam dengan mengandalkan tenaga sendiri. Kadang cuma jalan kaki saja sudah makan waktu 8 sampai 9 jam per hari.

Advertisement

Tapi buat pendaki ini jauh lebih mudah dibanding harus investasi hati. Pegal-pegal di kaki tidak sebanding rasanya kalau dibandingkan dengan patah hati. Mending bolak-balik gunung berkali-kali deh dibanding patah hati~

2. Tantangan menuju nikah itu banyak dan berliku. Tantangan mendaki cuma satu — mengalahkan dirimu!

Saya sadar diri…. via 18plusplus.wordpress.com

Sayang…dekorasi udah diurusin belum?

Undangan gimana? Udah dikirim semua?

Souvenirnya kok belum dipesen? Ini udah tinggal 2 bulan lagi Yaaaaang…. Niat nikah nggak sih?

Sementara dalam pendakian yang harus dikalahkan adalah diri sendiri, tantangan menuju nikah itu tak terhingga jumlahnya. Mulai dari printilan-printilan kecil yang bikin sakit kepala sampai kesalahpahaman yang bikin hubunganmu tegang sementara.

3. Packing keril bisa dikebut semalam. Kalau persiapan nikah bisa dipastikan bercokol di otakmu berbulan-bulan

Beda keril sama persiapan nikah. Nggak bisa dikebut semalam via thishanti.blogspot.co.id

Seandainya besok kamu mau naik ke Lawu, malam ini kamu bisa ngebut beli logistik dan packing keril buat bekal mendaki. Urusan nikah? Jangan harap bisa sesantai ini. Diurusin berbulan-bulan aja nggak kelar, Kak!

4. Persiapan nikah itu kayak sprint yang nggak boleh berhenti. Selama mendaki kamu bisa teriak Break! Lalu melipir buat nyelonjorin kaki

Waktu mendaki kamu bisa nyelonjorin kaki via www.trekkingrinjani.com

12 bulan sebelum nikah kamu harus ngurus gedung dan katering. 9 bulan menuju hari H udah harus mikir jahit baju pengantin dan seragam keluarga. 6 bulan sebelum akad dan resepsi souvenir udah harus selesai dipesan sesuai jumlah undangan. 3 bulan…1 bulan…….hehe nggak ada berhentinya ya persiapannya?

Beda dengan mendaki. Kalau capek atau mau berhenti kamu cuma perlu teriak, “Break!” untuk memberi sinyal ke teman-teman se-tim. Atau tinggal melipir aja buat istirahat sebentar sebelum nanti menyusul mereka.

5. Oksigen sampai trekking pole bisa membantu kalau kamu kehabisan energi. Di persiapan nikah penjaga kewarasanmu ya calon suami atau istri

Kan ada trekking pole… via blog.cozmeed.com

Iya kalau calon suami atau istrinya nggak bad mood menjelang nikah. Lah, kalau kalian malah sering berantem?

6. Kalau rumah tangga bisa dimodalin pakai kompor parafin, nesting plus sarden, mungkin kamu udah nikah dari dulu….

Mbak Istri, mau begini? via archive.kaskus.co.id

Naik gunung itu murah. Modalnya cuma tenaga, keyakinan sama diri sendiri, juga perbekalan yang nggak mahal-mahal amat. Kalau di gunung kamu bisa survive bermodal nesting, kompor parafin, plus sarden — apakah tips survival yang sama juga bisa kamu aplikasikan ke pernikahan nanti?

Yang sering muncul di rumah sih keluhan, “Mas gasnya habis.” Bukan, “Mas, spiritusnya habis…”

7. Puas rasanya kalau bisa muncak tepat waktu. Dapat sunrise yang indah sekali di matamu

Puas rasanya kalau bisa muncak dan dapat begini via namakuaryapradipta.wordpress.com

Sampai di Puncak Mahameru jam 04.30 pagi. Bisa dapat sunrise terus foto-foto sebelum asap beracun dari Jonggring Saloka muncul. Kepuasanmu berubah jadi sederhana.

8. Ngurusin nikah itu kepuasannya bukan cuma di kamu. Tapi juga di komentar para tamu~

Kamu juga harus dengerin pendapat tamu via www.dream.co.id

“Gedungnya bagus, dekornya bagus, tapi kateringnya itu lho Jeng…..”

“Lah ya gimana toh? Masak ngundang 500 orang gedungnya sekecil ini. Panas banget.”

*peluk keril*

9. Di gunung kamu nggak perlu pusing soal KPR. Bangun tenda, pasang matras dan sleeping bag. Beres!

Adek mau Abang ajak tidur di tenda terus? via cmeythasari.wordpress.com

Sementara untuk menikah kamu perlu memikirkan dan menghitung gaji dengan rinci. Berapa lama KPR bisa kamu lunasi — di gunung nggak ada kecemasan macam ini. Sementara bawa tenda, bawa semua rangkanya, pasang matras, tarik sleeping bag. Beres!

10. Tetangga komplek di dunia nyata bisa jadi nggak se-friendly rekan pendaki. Emang kecap, Indomie, sama gula pasirnya rela dibagi?

Sori ya. Beli sendiri via www.memegen.com

Di gunung:

“Misi Mas, boleh minta kecap?”

“Oh, silakan-silakan. Mau kopi panas juga nggak? Baru bikin nih..”

Di komplek:

“Bu, misi..boleh minta kecap? Saya kehabisan nih…”

“Duh Mbak, warungnya kan deket tuh di ujung gang. Beli sendiri aja ya?”

11. Karena naik gunung jauh lebih gampang dari naik pelaminan, kamu memutuskan muncak dulu nikah kemudian

Muncak dulu, nikah kemudian via nasional.rimanews.com

Nikah bisa nanti. Yang penting agenda muncak bisa rutin dilakoni. Nyaman deh hidup begini…..

Apakah kamu yang pendaki juga setuju akan hal ini? Kalau udah naik gunung sih memang semua hal bisa menunggu. Yang penting agenda muncak aman dulu 🙂