Mari bicarakan perangkat telepon sebentar. Apakah kamu masih ingat dengan perangkat yang satu ini? Bukan, bukan gadget berlayar sentuh yang kamu simpan di dalam saku celana itu. Kita membicarakan tentang telepon rumahan yang menggunakan jaringan kabel yang masif untuk menghantarkan suara dari satu perangkat telepon ke perangkat telepon lainnya. Sudah ingat ‘kan?

Telepon yang jelas bukan barang baru, sejak dikembangkan dari tahun 1800-an hingga masuk ke rumah keluarga di tahun 1970-an, pelan tapi pasti gaya hidup manusia mulai berubah sejak ada telepon. Komunikasi jadi lancar. Keluarga yang berjauhan jadi lebih dekat, meski cuma bentar ngomongnya (SLJJ, bung!).

Tapi kenangan soal telepon bukan soal tarif lokal dan interlokal doang, kok. Mari kita nostalgia ke era 90-an hingga awal 2000-an, masa ketika telepon rumah berada pada puncak kejayaan.

1. Dahulu kala, kedatangan telepon ke tengah-tengah keluarga kamu sambut dengan suka cita

Oh im happy~~ via giphy.com

Terutama bagi kamu (baca: saya) yang gak tinggal di pusat kota, jaringan telepon bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun buat masuk ke daerah pinggiran kota, kampung dan desa. Belum lagi kalau kamu tinggal di luar pulau Jawa, beh! Saya ingat ketika petugas dari Telkom datang ke rumah, senyum ini tak pernah berhenti mengembang sejak pagi hingga malam.

2.Panggilan pertama yang paling wajib dilakukan: keluarga jauh yang sudah duluan punya telepon. Biar mereka tahu kalau kamu sudah bisa ditelepon.

Advertisement

Sanak famili harus tahu via www.thecitrusreport.com

Telepon baru nih, wajib dicoba! Nelepon siapa? Keluarga, sanak family dan relasi pastinya. Mereka yang udah bertahun-tahun duluan punya telepon harus tahu kalau kamu dan keluarga juga sudah punya sambungan telepon. Meski bicaranya gak bisa lama-lama, karena takut tarifnya mahal.

(Tuut… tuut… tuuut…)
Sepupumu: Halo…
Kamu        : Umar? Ini Jali, rumah kami sudah punya telepon, lho.
Sepupumu: Oh, ya? Oke…
Kamu       :Daaaah, samlikum…
(Menutup telepon)
Kamu  : Aduh, lupa ngasih tahu nomornya berapa.
 
 
 

3. Setelah pesawat telepon datang kamu sempat ketakutan sebelum melakukan panggilan. Karena…takut biayanya mahal!

Mahal gak ya? via forums.bit-tech.net

Galau di depan telepon.

Kamu: Hmmm… nelpon tetangga sebelah mahal gak, ya? Ah, sebelah rumah juga. Pasti murah, kalau perlu gratis.

Kalau mau gratis ngobrol dari hulu ke hilir, ketemuan! Tapi wajar sih kalau kamu mengalami dilema di atas, namanya juga sindrom rumah-baru-ada-teleponisis.

4. Bagi keluarga yang udah lama pakai telepon, tarif dan tagihan masih menjadi momok yang mengerikan membingungkan sebelum melakukan panggilan

Interlokal itu apa ya? via collegetimes.com

Kamu dan keluarga yang udah bertahun-tahun pakai telepon rumah dulu pasti sering mendengar perubahan tarif telepon lokal maupun interlokal, namun sayangnya kamu enggan untuk mempelajari angka pastinya berapa. Pokoknya yang kamu tahu adalah tarif telepon berubah, entah berapa.

Kalau nelpon si Ahmad anak kampung sebelah interlokal gak ya?

5. Parahnya lagi kadang kamu gak bisa membedakan mana panggilan lokal dan mana panggilan interlokal

Oke, BHAY via www.abc.net.au

Setelah dua jam pacaran via telepon

Pacar: Sayang, kamu yakin nelpon interlokal selama ini?

Kamu: Hah, ini interlokal, toh?!! (Klik)

Pacar: Iya… Halo? Halo?!

6. Rebutan-siapa-yang-angkat-telepon-duluan jadi kebiasaan di awal telepon masuk ke rumah

Telpon buat gue! via transponsters.tumblr.com

Kriiiinng… Kriiingg… kriiingg…!

Kamu       : Biar aku angkat!

Kakakmu: Jangan, itu buat aku!

Ibumu     : Mungkin teman arisan Ibu, nak.

Setelah tarik-tarikan gagang telepon, suara diujung sana ternyata dari petugas Telkom yang ingin memastikan sambungan rumahmu bagus. Gak papah, yang penting bisa angkat telepon.

7. Berhubung sambungan teleponnya cuma satu sementara isi rumah bisa lebih dari 2-3 orang, kamu bisa rebutan telepon dengan keluarga cuma untuk membuat panggilan

Tarik-tarikan via www.visualphotos.com

Meski telepon di rumah bisa lebih dari satu (tiap kamar punya satu-satu, gilak!) sambungannya tetap satu. Mau gak mau, mau pakai telepon pun rebutan. Kamu mau menelepon teman sekolah, kakak mau menelepon pacar, ibu mau menelpon tetangga dan adik cuma pengen sekedar angkat gagang telepon.

8. Momen iyuuuwh saat itu: kalau pembicaraanmu ternyata didengar lewat sambungan paralel oleh orang rumah (huhu, maluuu)

Hai kakak… via www.youtube.com

Entah ini merupakan keuntungan atau kerugian menyambung lebih dari satu telepon dalam satu rangkaian paralel, tapi kamu paling benci ketika ada yang nguping pakai telepon lain saat kamu lagi asik teleponan sama teman.

Ceritanya lagi teleponan sama gebetan.

Kamu   : Makasih ya, Niko. Kamu baik banget, deh.

Adikmu: Iya, sama-sama, Kak.

Gebetan: Lho?!

9. Setahun sekali kamu menerima kiriman buku kuning berisi ratusan ribu nomor telepon orang yang gak kamu kenal lengkap dengan alamat rumahnya

Buku sakti! via nnnugroho1.blogspot.com

Dan alamat beserta nomor telepon rumah kamu juga tercantum di dalam buku bernama Yellow Pages tersebut. Anehnya, kamu malah bangga karena merasa bangga menjadi bagian dari Telkom. Padahal kalau dipikir-pikir lagi sekarang, apa yang menyenangkan dari nama, alamat dan nomor telepon terpampang di ruang publik? Bukannya itu serem?

Lagu, “Cari tahuuuu dengan jarimu!” juga kamu hapal di luar kepala

Cari tahuuu dengan jarimu! via anneahira.com

Tapi untungnya Yellow Pages juga punya banyak informasi lain mengenai usaha barang dan jasa yang beriklan di sana.

Makasih, Yellow Pages. Kamu sudah mewarnai menguningkan hidupku.

10. Sebagai bocah yang dipenuhi rasa penasaran kamu iseng-iseng menjajal telepon ke 0809-xxxx-xxx yang banyak muncul di tayangan iklan

Hayo nelpon apa? via plentyofthings.blogspot.com

Ketika penetrasi telepon rumahan makin meningkat, penyedia konten jeli melihat peluang. Mereka membuat layanan telepon premium yang mengundang kamu untuk mendengar celotehan mereka soal zodiak, jodoh, hiburan dewasa, bahkan cerita dinosaurus yang disukai anak-anak.

Kodenya mudah dikenal karena diawali dengan nomor 0809-xxx-xxx. Biarpun udah dicantumkan berapa biaya per menit tiap kali menelpon, kamu tetap penasaran. Pengen nyoba ada hiburan apa aja sih diujung perangkat telepon.

11. Karena keseringan menghubungi layanan telepon premium, akhirnya tagihan telepon membengkak. Dan kamu tahu sendiri siapa yang paling murka: Ibu!

Tagihan bulan ini membludak via www.shuqi.org

Walhasil……

Telepon digembok 🙁 via nyunyu.com

kini telepon dikunci. Bahkan kalau perlu pad nomornya juga digembok bisa kamu gak bisa menekan ‘sembarang’ tombol lagi.

12. Dulu, kalau lagi teleponan sama pacar gak bisa mesra, soalnya telepon berada di tengah ruang keluarga

Aduh, diliatin emak gue via klglu.blogspot.com

Keluarga yang memilih menggunakan satu perangkat telepon doang cenderung meletakkan alat komunikasi tersebut di ruang keluarga. Akibatnya kamu gak bisa sayang-sayangan”, gak bisa mesra dan sok manja waktu nelepon pacar. Soalnya orang tua dan saudaramu turut memperhatikan dari depan televisi. Kaku!

13. Masih ingat gak ketika hampir di segala sudut kota hingga ke penjuru desa bisa ditemukan Wartel?

Pernah coba? via nicokurnia.blogspot.com

Wartel adalah pilihan utama buat menghubungi perangkat telepon lain bagi mereka yang rumahnya belum terjamah oleh jaringan Telkom. Datang ke wartel, bikin panggilan lalu batar tagihannya di kasir. Jalan agak jauh dari rumah gak apa-apa, yang penting kabar bisa disampaikan.

14. Buat anak kost dan mahasiswa yang lagi Kukerta (baca: KKN), wartel adalah tempat malam mingguan paling romantis sejagat raya

Sekarang sepi via teknologi.kompasiana.com

Denger cerita dari Oom-oom dan tante-tante yang dulu kuliah di perantauan, kalau malam minggu antrian di bilik wartel jauh lebih panjang dari antrian tiket bioskop. Ngantri lama dikit gak apa-apa, yang penting rindu pada keluarga, pacar dan mantan pacar bisa disampaikan. Bener gak, Om?

15. Gak jarang rumahmu dijadikan sebagai wartel dadakan oleh para tetangga

Wartel tetangga via image.toutlecine.com

Ada tetangga yang belum cukup beruntung untuk menyambungkan rumahnya dengan jaringan telepon. Ada pula yang emang belum punya niat untuk punya telepon di rumah. Dan ajaibnya ada pula tetangga yang beralasan…

Buat apa pasang telepon? Kan bisa pake telepon di rumah pak Abdul.

16. Waktu itu dengan modal sebiji koin seratusan kamu sudah bisa menelepon rumah dengan fasilitas telepon umum

Minta jemput via nicokurnia.blogspot.com

Sebelum ada ponsel telepon umum berguna banget pada masanya, terutama saat kamu tersesat di pasar dan harus menghubungi bapak di rumah supaya bisa dijemput.

17. Seiring perkembangan teknologi kamu mulai mengalihfungsikan jaringan telepon sebagai sambungan internet

EAAAHH via imgarcade.com

Lagi-lagi karena penasaran dengan yang namanya internet serta didukung teknologi dial-up connection yang praktis, kamu bertekad menyulap telepon rumah menjadi benda yang sekarang dikenal sebagai router.

Biasanya kalau kamu lagi iseng begini akan terdengar suara otomatis:

Abaaang, matiin! via giphy.com

ABAAANG! CABUT KABEL TELPONNYA JANGAN BUAT MAINAN. BAPAK GAK BISA NELPON INI!

18. Hasilnya tagihan kembali membengkak dan lagi-lagi kamu tahu siapa yang paling murka: MAMAK!

Mati lah kau Mamak marah! via resignclub.blogspot.com

*pura-pura mati*

*tapi dari tagihan telepon bisa ketahuan kalau kamu pelakunya*

*keluarlah kalimat sakti*

“Abang, uang sakunya Mamak potong ya buat bayar tagihan telepon…”

Gak sepadan. Hukumannya potong uang jajan, padahal internetnya cuma dipake untuk browsing. Bukan situs yang macam-macam, kok 🙂

19. Ketika kamu dan keluarga sudah punya ponsel masing-masing, telepon rumahan mulai dianggurin

Ponsel membuat kamu jarang mengunakan telepon rumah sekarang. Terlupakan, ditoleh pun nggak. Tagihan yang datang tiap bulan hanya berupa iuran abodemen dan denda keterlambatan bayar tagihan bulan lalu sebab ibu sudah lupa kalau di rumahnya masih ada telepon rumahan.

20. Takdir untuk telepon rumah zaman sekarang:

Mahluk apa ini? via www.youtube.com

  • Disimpan dalam lemari sementara sambungannya dipakai untuk broadband internet (baca: wi-fi rumah).
  • Putus langganan sama Telkom dan perangkat teleponnya dibiarin di atas meja sebagai hiasan barang antik.
  • Dimuseumkan atau disumbangkan demi pengetahuan generasi muda.

21. Meski anak/keponakanmu udah gak kenal lagi dengan perangkat telepon, kamu akan selalu mengenang dan merindukan alat komunikasi yang satu ini

Kenapa diikat? via www.youtube.com

Keponakan : Itu benda apa, om?

Kamu          : Ini telepon, buat menelepon orang. Sama kayak iPhone.

Keponakan: Oh, kok pake kabel? Ada app apa aja? Layarnya mana?

Kamu          : ???

Oh, telepon-rumah-yang -berkabel-keriting-dengan-tombol-bertuliskan-angka-dan-huruf-namun-gak-bisa-buat-SMS, riwayatmu kini. Anak berusia 6 tahun sekarang mungkin gak akan mengenalimu lagi, padahal dulu kamu adalah idola anak umur 6 tahun yang penasaran dengan suara telepon.

Meski begitu kami tetap mengenang kehadiranmu. Kami merindukan masa dimana kami harus berada di rumah untuk menerima dan membuat panggilan, tidak seperti sekarang saat kami bisa ditelepon kapan saja. Kami merindukan saat kamu benar-benar memutar angka pada rotator bukan tombol. Telepon rumah, terima kasih karena telah hadir dalam kehidupan kami.