Panduan Menulis – Penulisan Tanda Baca Titik yang Benar, Biar Nggak Bikin Salah Paham Melulu!

Penulisan tanda baca titik

Selain saltik (salah tik) atau typo, ada satu hal lagi yang bikin orang salah paham dengan pesan yang kita kirim melalui gawai. Ya, apalagi kalau bukan tanda baca? Hanya masalah tanda baca dalam pesan yang kita kirim pada seseorang, bisa menimbulkan perang dunia. Bahkan menurut survei dari Aan Papeda, 7 dari 14 orang mengalami putus cinta akibat kurangnya tanda baca dalam chat mereka di WhatsApp. Mengerikan, ya?

Advertisement

Maka dari itu, berikut akan saya jelaskan penggunaan dan penulisan tanda baca titik (.) yang benar sesuai kaidah bahasa Indonesia. Simak #PanduanMenulis berikut ini, yuk!

Cara penulisan tanda titik (.)

1. Tanda titik digunakan pada akhir kalimat pernyataan.

Contoh:

Bude Meily mengantar bu Rokhim ke pasar.
Panggah memakan nasi dan mi instan buatan Galih.

Advertisement

2. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Contoh:

1. I. BAB 1
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah

Advertisement

2. 1. Sejarah Sastra
1.1 Tokoh
1.1.1 Jawa
1.1.2 Sumatera
2. Teori Sastra

[CATATAN]

  • Tanda titik nggak perlu digunakan pada akhir penomoran yang lebih dari dua angka atau huruf. Perhatikan kembali contoh di atas.
  • Tanda titik juga nggak perlu ditulis pada akhir penomoran yang sudah diberi tanda kurung dalam perincian.

Contoh:

Bulan ini ibu sudah membeli
1) kebutuhan pangan, antara lain,
a) beras 10 kg,
b) minyak 10 liter, dan
c) telur 20 butir;
2) kebutuhan sandang ….

Tanda titik dalam penomoran. via www.hipwee.com

3. Tanda baca titik ini juga digunakan untuk memisahkan angka dalam jam, menit, dan detik.

Contoh:

pukul 13.46.02 (pukul 13 lewat 46 menit lewat 2 detik atau pukul 13, 46 menit, 2 detik)
03.26.04 jam (3 jam, 26 menit, 4 detik)

4. Tanda baca titik digunakan dalam penulisan daftar pustaka.

Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.

Contoh:

Ajidarma, Seno Gumira. 2009. Nagabumi I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

5. Tanda baca titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya.

Contoh:

Peserta didik ke-3594 dari 7.234 peserta.
Halaman 578 dari 1.212.
Tabungan Yudi baru terisi Rp4.500.300,00.

[CATATAN]

  • Nggak perlu menggunakan tanda titik kalau bilangan nggak menunjukkan jumlah.

Contoh:

“Kirim ke rekening 9128417492, ya!”
Hipwee lahir pada tahun 2014.

6. Tanda titik juga digunakan pada penulisan singkatan nama orang, gelar, jabatan, atau sapaan, yang terdiri lebih dari dua huruf.

Contoh:

Ir. Soekarno
W.S. Rendra
W.R. Supratman
Galih, S.S
Kol. Ageng W.

7. Tanda titik bisa digunakan untuk singkatan umum.

Singkatan yang terdiri lebih dari tiga huruf atau lebih tetap menggunakan satu titik.

Contoh:

dkk. (dan kawan-kawan)
dst. (dan seterusnya)
dsb. (dan sebagainya)
s.d. (sampai dengan)
a.n. (atas nama)
tgl. (tanggal)
hlm. (halaman)
ybs. (yang bersangkutan)
Yth. (yang terhormat)
dll. (dan lain-lain)

[CATATAN]

  • Tanda titik juga nggak perlu digunakan pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.

Contoh:

Gambar 3 Arjuna dan Wisanggeni
Tabel 5 Pengeluaran per Bulan
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)

  • Alamat penerima dan pengirim surat serta tanggal surat juga nggak perlu menggunakan tanda titik.

Contoh:

Yth. Direktur PT Konten Baik Indonesia
Jalan Tunggorono No. 3A
Sleman
Yogyakarta 55281

Yth. Sdr. Galih Fajar, S.S.
PT Konten Baik Indonesia
Jalan Tunggorono Nomor 3A
Depok, Sleman
Yogyakarta

30 Juli 2020

Yogyakarta, 21 Mei 2019 (tanggal surat tanpa kop surat)

[BONUS]

Bagi warganet, tanda titik juga digunakan sebagai (1) modal modus dan (2) mengakhiri chat dengan gebetan saat marah.

Contoh:

(1) Satu titik, dua koma. Kamu cantik, udah ada yang punya?
(2) Jangan ganggu aku lagi. Titik!

[CATATAN]

Poin nomor 6 hanyalah jokes receh versi Twitter, nggak usah digubris, ya. Hehehe.

Dirangkum dari berbagai sumber.

_______________

Tentang penulis:

Penulis merupakan seorang bekas guru lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta yang kerap dijuluki polisi bahasa oleh masyarakat setempat.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senois.

CLOSE