Nostalgia Acara Pesantren Kilat Zaman Sekolah. Selalu Ada Aja Acara Nangis-nangisan :(

Pesantren kilat

Setiap menjelang momen-momen perkenalan awal masa sekolah atau ujian akhir yang menentukan kelulusan, biasanya pihak sekolah punya berbagai cara untuk mempersiapkan hal tersebut. Nggak cuma dari segi pelajaran aja yang digenjot, tetapi juga dari segi mental dengan cara berdoa bersama. Percuma, kan, kalau usaha, tapi nggak disertai dengan doa? Salah satunya melalui program pesantren kilat dan malam perenungan. Biasanya sih kegiatan tersebut dilakukan biar kita nggak lupa sama yang di atas.

Advertisement

Tapi lucunya, di setiap momen tersebut terdapat rangkaian acara yang begitu monoton dan mungkin juga dirasakan oleh sebagian besar anak di Indonesia. Kamu pasti ingat dong, saat-saat di mana suasana dibikin sebegitu haru hingga memancing kita buat nangis sejadi-jadinya? Padahal kalau dipikir-pikir sih, kenapa harus begitu juga, ya? Hmmm.

Dulu sering banget ditakut-takuti kalau misalnya di depan rumah udah ada bendera kuning saat kita pulang dari sekolah 🙁

Ilustrasi bendera kuning. via www.infia.co

Dalam acara pesantren kilat ataupun malam perenungam tersebut, hal yang sama sekali nggak boleh ketinggalan dan hampir selalu ada adalah ketika kita ditakut-takuti dengan cara disuruh membayangkan jika misalnya di depan rumah ada bendera kuning. Bukan karena ada anggota keluarga kita yang menjadi kader salah satu partai politik, melainkan ada kabar duka dari keluarga kita. Pokoknya sampai menggema di benak kepala tuh, ketika si pembawa acara teriak-teriak sambil bilang, “Bayangkannn! Ketika kamu pulang dan di depan rumahmu sudah ada bendera kuning, dan ternyata ibumu telah meninggal dunia!” 🙁

Kalau nggak gitu, biasanya disuruh bayangin kalau orang tua kita kecewa melihat kita

Ilustrasi pesantren kilat via www.muhammad-sabran.com

Nggak melulu disuruh membayangkan jika orang tua kita meninggal, tapi terkadang juga disuruh membayangkan jika mereka ternyata kecewa dengan apa yang telah kita capai. Ya, pokoknya disuruh bayangin yang serba sendu dan menyedihkan gitu deh. Tujuannya sih jelas biar kita jadi makin terpukul, nangis, dan introspeksi diri lagi. Tapi kenapa harus begitu juga, ya? Hadeh!

Advertisement

Kalau nangis malu, nggak nangis didatengin sama pembawa acaranya. Dibikin sampai nangis deh~

Masih ingat sama momen ini, kan? via tvberita.co.id

Zaman segitu, kalau si pembawa acara udah semakin drama banget, mulai dari ujung depan hingga deretan anak-anak paling belakang pasti ada aja yang sampai sesek karena saking kencengnya dia nangis. Kita? Ya, sama aja nasibnya, kalau nangis malu, tapi kalau nggak nangis didatengin sama pembawa acaranya. Udah gitu kalau nangis kadang dibilang cengeng sama anak lain, giliran nggak nangis juga dibilang anak durhaka. Pokoknya serba bikin bingung gitu lo, berasa ini acara kita harus banget wajib sampai nangis. Hmmm~

Paling resek lagi kalau duduk berdekatan dengan geng anak bandel. Yang lain nangis, mereka malah menertawakan yang nangis 🙁

Memori pesantren kilat. via bingkairiau.com

Nah, kalau kejadian yang satu ini sih memang bener-bener ngeselin dan absurd banget. Ya, gimana nggak resek coba, bayangin lagi acara malam perenungan, kamu duduk bersebelahan sama geng anak-anak bandel, semua orang lagi sibuk nangis dan merenungi kesalahannya, ini geng anak bandel malah sibuk ngetawain yang pada nangis.

Biasanya sih kalau sampai didatengin pembawa acaranya, mereka bakal pura-pura nunduk sambil sesenggukan juga. Kita mah nggak bisa kalau nggak ikutan nahan ketawa kalau begini ceritanya mah~

Advertisement

Sebetulnya acara begini ujung-ujungnya percuma deh. Sampai rumah juga pada jadi anak nggak beres lagi 🙁

Nanti pas udah selesai juga balik lagi kayak biasanya~ via www.muhammad-sabran.com

Dari segala rangkaian acara yang membuat kita merenungi kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat selama ini, hingga membayangkan gimana jadinya jika orang tua kita telah tiada, yang paling plot twist adalah rata-rata hampir semua anak pulang dari acara tersebut dan balik lagi seperti semula. Bukannya jadi anak yang makin baik-baik, pas udah ngumpul sama temen lainnya ternyata juga mulutnya sama aja. Sama-sama gibahin temen lainnya, sama-sama bikin pusing orang tua di rumah. Ibaratnya mah yang penting di acara kemarin kelihatan nangis-nangisnya aja, habis itu nggak ada bedanya. 🙁

Paham kok jika sebenarnya acara tersebut punya niat dan tujuan yang baik. Tapi terkadang saat ini ‘metode-metode sedih’ kayak gitu udah susah diterima oleh banyak orang. Mending kalau yang setiap hari merasakan hal-hal yang bikin seneng, coba kalau setiap hari rasanya juga susah? Udah susah, malah disuruh bayangin yang susah-susah pula. 🙁

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE