Masa-masa lebaran, kamu akan bertemu banyak keluarga dan teman-teman orang tua yang bersilahturahmi. Sudah pastilah pertanyaan-pertanyaan basa-basi akan kamu jumpai. Bagi kamu yang sudah lulus kuliah dan bekerja, selain pertanyaan ‘kapan kawin’, kamu juga akan ditanya-tanya seputar pekerjaanmu.

Bu Dhe: Bayu udah sarjana ya? Terus sekarang kerja di mana?

Bayu: Sekarang lagi training di bank, Bu Dhe.

Bu Dhe: Alhamdullillah… Keren bisa keterima di bank sukses ya, Nak!

Advertisement

Kalau saat ini kamu bekerja di perusahaan yang sudah umum didengar, sih gampang saja. Kamu bisa dengan mudah (dan bangga) menjawabnya. Tapi, kalau saat ini kamu bekerja di bidang yang kurang awam, siap-siap saja berhadapan dengan momen canggung. Tenang, Hipwee paham banget kok yang akan kamu hadapi. BANGET! Berikut ini ragam profesi yang nggak mainstream dan (mudah-mudahan ada) cara menjelaskannya saat lebaran nanti.

1. Content Writer

penulis konten

Penulis konten

Kemajuan teknologi membuat media berkembang pesat ke dalam bentuk digital. Sehingga, saat ini, tak sedikit dari kamu yang bekerja sebagai penulis untuk media-media online atau yang juga disebut dengan content writer. Sayangnya, banyak yang belum paham tentang profesi ini.

Kamu: Saya penulis di website, Tante.

Tante: Oh, yang di internet itu ya? Memangnya dibayar, orang bacanya aja gratis.

Advertisement

Supaya kamu nggak terjebak pada komentar yang menyakitkan hati tersebut, mungkin kamu bisa mencoba mendeskripsikan pekerjaanmu dengan menggunakan analogi.

“Tante, tahu Raditya Dika? Nah, kira-kira kerjaannya sama, tapi bayarannya berbeda jauh sama dia.”

2. Job title: Social Media Manager. Job desk: admin media sosial

Mimin dan maman

Mimin dan maman via www.eomedia.com

Bu Dhe: Kok dari tadi pegang hape aja?

kamu: Iya, Bu Dhe, tetap harus kerja.

Bu Dhe: Oh, emang kamu kerja di mana?

Kamu: Admin sosmed, Bu Dhe, ini lagi ngasih info mudik.

Bu Dhe: Ada-ada aja kamu ini, ngasih info mudik ya di tivi kok di hape.

Selain penulis konten, keresahan menjelaskan pekerjaan juga dialami oleh kamu yang berprofesi sebagai admin sosmed. Tak perlu khawatir, kamu tinggal bilang kalau kamu bekerja sebagai mata-mata untuk badan intelejen netizen, pasti mereka tambah menyangka kamu aneh.

3. Web Developer

Pekerjaan yang rumit juga rumit menjelaskannya

Pekerjaan yang rumit juga rumit menjelaskannya via www.reilleydesignstudio.com

Enggak terlalu sulit menjelaskan pekerjaan ini. Kamu bisa menjelaskan bahwa kamu pembuat website. Kalau nggak tahu website itu apa, mungkin kamu bisa menggunakan istilah ‘semacam facebook’ yang lebih awam di telinga banyak orang.

Kamu: aku yang bikin-bikin website, ya semacam Facebook gitu lah…

Pak Dhe: emang selain Facebook ada apa lagi? BBM? Whatsapp?

4. Desainer grafis

"Desainer kok cowok?"

“Desainer kok cowok?” via ashleyrennie.blogspot.com

Teman mama: katanya, kamu pinter desain-desain gitu ya, Gus?

Bagus: Enggk pinter sih tapi emang kerjaannya gitu, Tante.

Teman mama: Hehe… cowok kok jadi desainer, tapi nggak apa-apa sih. Eh, bisa dong, desainin baju buat Tante?

Bagus: Nggggg

Fashion designer dan graphic designer pastinya beda. Sayangnya, kata-kata desain judah lebih dulu dan akrab dengan dunia fashion. Supaya nggak dikonotasikan dengan desainer pakaian, coba deh kamu ganti dengan kata pelukis digital. Lebih susah dicerna sih, tapi paling nggak, kamu nggak dikira bekerja di dunia fashion.

5. Desainer UI/UX

Bikin-bikin aplikasi

Bikin-bikin aplikasi via www.awwwards.com

UI dan UX merupakan singkatan dari User Interface dan User Experience. Kira-kira, UI tampilan dari suatu produk atau sistem di aplikasi web atau mobile, sedangkan, UX merupakan pengalaman, perasaan, dan persepsi user terhadap produk tersebut. Meskipun judulnya designer,  kerjaannya UX designer itu nggak hanya berhubungan dengan desain-mendesain tampilan aja. Seorang UX designer harus mengerjakan mulai dari ngerti research, bisa menganalisis data, sampai gimana mengimplementasikan hal tersebut ke dalam sebuah aplikasi secara efektif.

Kamu yang punya pekerjaan ini, tentu akan sulit menjelaskan pekerjaanmu secara detail seperti di atas. Gampangnya, kamu bilang saja

“Saya tukang bikin aplikasi di iPad itu loh…”

6. Freelancer

Bisa kerja di mana aja

Bisa kerja di mana aja via www.fastcompany.com

Selain yang berhubungan dengan internet, banyak juga dari kamu yang bingung mendeskripsikan pekerjaanmu pada keluarga terutama saat lebaran. Salah satunya kamu yang bekerja sebagai seorang freelancer. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, freelancer berarti pekerja lepas dan di Indonesia identik dengan pekerja serabutan di mana umumnya erat dengan pekerjaan kasar.

“Pekerjaan saya, om? Om bisa bilang saya pekerja serba bisa. Titik!”

7. Pekerja NGO

Kerjaannya main sama orang utan

Kerjaannya main sama orang utan via www.hipwee.com

Kebingungan menjelaskan pekerjaan juga akan dialami kamu yang bekerja di NGO. Umumnya, kamu yang bekerja di NGO ini menjelaskan dengan mendeskripsikan fokus kerja NGO tempatmu bekerja. Komentarnya pun macam-macam:

Kamu: kerja di konservasi orang utan, Pak

Pak RT: Oh, kebun binatang Surabaya itu ya?

Kamu: …..

Kamu: itu lho, Bu, lembaga yang menangani keluarga berencana, anak dan perempuan.

Ibu-ibu teman mama arisan: oh, Mbak ini di kementrian sosial tho… Waktu rapat PKK sering ada juga yang kayak gitu!

8. Stage manager atau Event Organizer

Anak panggung

Anak panggung

Bekerja di balik panggung, mengatur sebuah acara atau konser adalah pekerjaanmu. Meski teman-temanmu cukup paham apa yang kamu lakukan, tapi tidak demikian dengan keluarga besar. Saat bertemu lebaran nanti, kamu pun sering kali bingung ketika ditanya apa pekerjaannya.

“Masih ngurus band-band gitu kapan cari uang serius?”

Ragam profesi di atas cuma sebagian kecil dari profesi anti mainstream yang ada di dunia. Kalau kamu tambah bingung bagaiamana cara menjelaskan pada keluarga nanti saat lebaran, sama sebenarnya kami bingung juga.

Menurut kamu, gimana cara menjelaskan profesi anti mainstream-mu pas lebaran besok ya?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya