Dengan cara brilian, dari menit per menitnya memperkuat keyakinan kita: masa bodoh mau anak saleh atau keturunan darah biru, tetap saja remaja perlu pendidikan seks.

9/10
RATING

“Jangan Loloskan Film yang Menjerumuskan! Cegah Dua Garis Biru di Luar Nikah!” bunyi sebuah judul petisi yang terpampang di laman change.org pada April 2019 silam. Tuntutan itu dialamatkan kepada film garapan perdana Gina S. Noer yang bertitel Dua Garis Biru. Film ini mengambil premis utama perjuangan pasangan remaja–yang mungkin tidak tahu untuk apa kondom itu diciptakan dan dijual luas di minimarket–terjebak situasi hamil di usia sekolah. Ditakutkan film ini berisi ajakan untuk meromantisasi dan membenarkan seks di masa SMA: hamil, punya anak, “i love you”, lalu happy ending. Indahnya hamil di luar nikah ~

Tentu saja faktanya Dua Garis Biru tidak seperti itu, dan saya lebih memilih meloloskan film tersebut dibanding meloloskan logika orang-orang yang “melarang sebelum tahu isi filmnya”. Demi apa mereka menghalangi sebuah film yang justru menjawab kebutuhan masyarakat kita? Tuntutan tak berdasar karena alergi terhadap segala menyoal seks itu kian menunjukan bahwa Dua Garis Biru benar-benar dibutuhkan untuk ditonton.

1. Dua Garis Biru berhasil mengantarkan topik MBA satu gerbong dengan wacana-wacana lain secara mengalir harmonis

Dara dan Bima via www.youtube.com

Advertisement

Ini adalah karya perdana Gina S. Noer di kursi sutradara, namun ia sudah mentereng menjadi penulis naskah beberapa film besar seperti Ayat-Ayat Cinta (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009), dan Habibie & Ainun (2013). Tak ayal, cerita menjadi kekuatan utama di Dua Garis Biru, dan hasilnya cukup di luar dugaan. Brilian, film ini bertabur wacana tapi tidak saling mengalahkan, melainkan saling menjaga napas

Pertama, Chand Parwez selaku produser menekankan bahwa filmnya membawa “materi positif”. Pentingnya pendidikan seks di usia remaja berkali-kali diungkapkan dalam bentuk colongan-colongan dialog dan potongan plot. Kedua, tentu saja agar tidak serupa film dokumenter atau materi power point edukasi seks yang membosankan, romansa remaja menjadi mata angin lewat dua tokoh utama, Dara (Zara JKT 48) dan Bima (Angga Yunanda).

Namun, konflik film ini tak sebatas mengulik-ulik dua tokoh itu. Porsi besar diberikan pula untuk mendalami perspektif orangtua mereka, menjadikan konflik keluarga sebagai tema lain yang intens. Karena jelas, MBA bukan sebatas patah hati yang hanya melibatkan dua insan. Ini masalah keluarga.

Advertisement

Terakhir, aral rintang diperuncing dengan perbedaan kelas ekonomi antara orangtua Bima (Arswendy Bening Swara dan Cut Mini) dengan orangtua Dara (Lulu Tobing dan Dwi Sasono). Kendati tidak dibesar-besarkan ala sinetron–“Lihat keluarganya, ia tidak pantas untuk kamu, bla bla”–perbedaan itu berperan penting.

2. Dua Garis Biru tegas menjelaskan bahwa MBA tidak selesai hanya dengan berkata “saya akan tanggung jawab” dan “aku nggak akan ninggalin kamu”

Saya jatuh hati dengan adegan di ruang UKS, momen pertama kalinya orang tua Bima dan Dara mengetahui jika Dara mengandung anak Bima.

Di tengah nuansa berkalut-kalut antara naik geram dan nanar, Bima berseru lantang, “saya akan tanggung jawab tante!”. Apakah setelah itu muncul musik latar dramatik dan slow motion yang epik? Tidak.

Yang ada adalah hening sejenak, krik krik, lalu ibu Dara berkata dengan nada lirih. “…. kamu kira jadi orangtua itu mudah?”

Tak menyerah, selang beberapa dialog lain, Bima mengulangi lagi, mencoba lebih heroik, “Saya berjanji tidak akan ninggalin Dara!”

Lagi-lagi, krik-krik… Adegan itu laksana seseorang di samping kursimu menepuk bahumu, sambil terkikik dan mengatakan, “basi, film ini tidak senaif itu bro”. Para orangtua ini tampak sudah terbang pikirannya, pandangannya sama sekali tak mengacuhkan ucapan Bima. Mereka tahu bahwa apapun yang diucapkan oleh Bima dan Dara, keduanya sebenarnya tidak benar-benar paham apa yang sudah mereka lakukan dan konsekuensi-konsekuensinya. Bima dan Dara hanya dua anak ingusan yang sudah melakukan kesalahan, dan orangtuanya akan tetap repot, bagaimanapun.

Film ini tidak buntu di jatuh bangun Bima mencarikan nafkah untuk Dara. Tentu karena MBA di usia sekolah bukan cuma masalah drop out dan ekonomi. Ada banyak persoalan lain yang belum bisa dilihat oleh para remaja ini sendiri. Hanya orangtua yang bisa merasakannya. Itulah kenapa Dua Garis Biru tak dibiarkan jatuh di perangkap kenaifan.

Dua Garis Biru menceburkan kita langsung ke situasi MBA dengan kacamata yang lebih luas, sehingga yang tersaksikan hukan cuma pucuk gunung es dari persoalan-persoalan yang mungkin, melainkan juga tekanan sosial, kesehatan, dan lain sebagainya.

3. Bima dan Dara adalah karakter favorit Gina selaku penulisnya, dan memang sebagus itu

Bima dan Dara via www.youtube.com

Bukan perkara aktingnya, namun aspek penokohannya itu sendiri.

Ketika mendengar kasus MBA, bayangan orang umumnya adalah si cowok itu berandalan. lalu sang cewek punya dua kemungkinan: kalau tidak bitchy ya introver yang berlebih.

Tidak, Bima adalah laki-laki biasa. Cowok ABG berperawakan tinggi-kurus, agak hitam-manis dengan personalitas yang lumrah-lumrah saja, bahkan tampak cukup dekat dengan ibadah. Sementara Dara adalah cewek yang cerdas, cukup ambisius di pendidikan. Tubuh kecilnya membuat kita makin mudah iba, meski ia tidak menampakkan diri yang melarat-larat. Bahkan, Dara terlihat lebih tegar dan kuat mentalnya dari Bima. Justru Bima yang kedapatan lebih rapuh, bingung, dan gagap dengan keadaan yang ada.

Orangtua mereka percaya diri anaknya tidak akan macam-macam, karena yang satu dididik secara religius, yang satu lagi berprestasi dan dididik di keluarga “terdidik”. Faktanya, kendati MBA adalah buah dari sebuah kesalahan, namun bukan berarti melulu berakar pada masalah akhlak dan moral. Ia bisa terjadi pada siapapun. Jawabannya bukan pendidikan agama atau kewarganegaraan, tapi pendidikan seks.

——————-UPS, UPS, AWAS SPOILER———————————————————————————————

4. Secara menakjubkan, saya merasa bisa berempati terhadap hampir seluruh karakter di film ini

Saya pertama kali berhubungan seks di masa SMA, sehingga itu cukup memudahkan saya untuk terhubung dengan Bima dan Dara. Dan apapun tingkah banal Bima, saya tak serta merta meremehkannya karena di usia itu mungkin saya akan menyikapi dengan cara yang tidak jauh tololnya.

Uniknya, saya juga bisa dibawa untuk memahami karakter ayah-ibu Dara dan ayah-ibu Bima, bahkan juga kakak Bima (saya yakin ia juga pelaku seks bebas, hahaha), plus proyeksi Adam di masa depan–jika ia jadi diadopsi, mengingat saya juga anak adopsi.

Semua karakter kepayahan dengan logikanya masing-masing. Gina berhasil menempatkan kita di pertengahan antara sudut pandang remaja dan sudut pandang orangtua mereka. Di satu sisi kita terdorong untuk memandang rendah logika Bima dan Dara, namun juga curiga dengan logika orangtua mereka, khususnya orangtua Dara.

Boleh jadi kamu pernah mengalami situasi ini: kamu bertengkar hebat dengan orangtua, lalu si ayah (atau si ibu) yang sudah naik darah akan meninggalkanmu dan masuk ke kamar tidurnya (atau justru kamu yang lari masuk ke kamar dan membanting pintu, drama). Ibumu kemudian menemui ayahmu, sambil memegang bahunya dan berujar, “Sabar Pak…” Kamu tidak ada di sana bersama mereka, tapi diam-diam kamu tahu orangtuamu sedang membicarakanmu.

Kita sebut saja situasi itu sebagai “momen kamar orangtua”. Nah, di tiap film denagn tema konflik keluarga, hampir selalu ada adegan itu yang dipertontonkan kepada penonton. Di sana akan diungkap perasaan sebenarnya dari orangtua dan alasan kenapa mereka marah dan sebagainya.

Tapi itu tidak ada di Dua Garis Biru. Dengan masalah sebesar itu, kita tak pernah diperlihatkan adegan ketika orangtua Bima atau Dara saling mencurahkan perasaannya satu sama lain dalam situasi privat, sehingga samarlah alasan ayah-ibu Dara misalnya, untuk berusaha memisahkan Dara dan Bima. Apakah murni karena merasa Dara dan Bima tak siap memiliki anak, atau malu atas kondisi MBA ini? Atau merasa Bima tak cukup pantas (baca: dari keluarga terhormat) untuk mendampingi Dara? Kita sengaja dibuat menerka-nerka, sesuatu yang mungkin hanya bisa ditebak-tebak oleh penonton di usia orangtua. Maaf, saya masih 27.

Yang paling bisa saya pahami adalah film ini romantis tapi rapuh, atau rapuh tapi romantis. Sial, saya tidak ingin filmnya berakhir ~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya