Review Film Bumi Manusia: Hanung Bramantyo Cukup Berhasil Bawa Cerita Novel ke Layar Lebar

Review film Bumi Manusia

8.5/10

"Bumi Manusia" merupakan film sejarah yang dibungkus ciamik agar bisa diterima generasi muda Indonesia.

Bagi kamu penggemar novel, pasti udah nggak asing lagi dengan novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel yang membuat Indonesia dikenal oleh dunia karena masuk untuk mendapatkan nominasi nobel. Novel tersebut bercerita tentang kehidupan seorang pemuda pribumi bernama Minke saat zaman penjajahan Belanda.

Advertisement

Setelah sekian lama, akhirnya novel yang sempat dilarang oleh pemerintahan Orde Baru tersebut diadaptasi menjadi film layar lebar oleh studio Falcon Pictures. Nggak tanggung-tanggung film tersebut berdurasi selama 3 jam. Orang yang dipercaya menjadi sutradaranya adalah Hanung Bramantyo. Hal yang membuat film ini semakin heboh adalah tokoh utamanya yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan.

Nah, buat kamu yang sudah atau belum nonton karena masih bingung, Hipwee Hiburan kali ini akan review film “Bumi Manusia”. Daripada berlama-lama lagi, yuk, langsung simak aja selengkapnya di bawah ini!

Film ini diawali dengan pesimisme pembaca novel yang mendengar kabar bahwa buku legendaris ini akan difilmkan

Novel Tetralogi Buru via tirto.id

Novel “Bumi Manusi” merupakan buku pertama dari Trilogi Pulau Buru sebelum “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, dan “Rumah Kaca”. Sejujurnya saya memiliki alasan-alasan khusus menyukai buku ini. Akibatnya saya jadi amat pesimistis saat mendengar kalau “Bumi Manusia” mau dijadikan film layar lebar.

Advertisement

Semakin buruk lagi, film tersebut disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Bagaimana dengan Minke, tokoh utama dalam “Bumi Manusia” yang akan diperankan oleh idola anak muda zaman sekarang, Iqbaal? Pikiran saya semakin kalut saja.

Bagaimana mungkin Iqbal yang rupawan dapat memerankan Minke dan mendapatkan chemistry-nya? Bagaimana dengan imajinasi tentang Annelies, perempuan keturunan Indo Belanda yang aduhai rupawan, menyenangkan, polos, dan hangat yang sampai-sampai saya impikan tiga kali berturut-turut itu?

Ternyata film “Bumi Manusia” berhasil membuat puas banyak penonton. Akting para pemeran cukup baik sampai setting latar yang mendekati deskripsi novel

Advertisement

Latar film “Bumi Manusia”. via www.cinematic.id

Adegan pertama yang tampil sama persis dengan yang berada dalam novel. Terutama pada setting pondokan tempat Minke tinggal. Dominasi warna kuning dan hijau langsung mengingatkan saya pada cover buku “Bumi Manusia”. Setting-an tempat dan gambaran Surabaya pada zaman tersebut juga cukup menarik. Efek CGI yang nggak berlebihan menjadi estetika tersendiri dalam film.

Kostum yang sempat menjadi perdebatan di sosial media saya rasa bisa dimaklumi. Sebenarnya hal ini penting karena merepresentasikan sejarah, namun saat saya nggakterganggu, biar pun kostum tersebut banyak yang tidak sesuai. Biarkan masalah kostum menjadi bahan evaluasi untuk produser film selanjutnya agar lebih baik dalam membaca dan memperdalam referensi.

Saya mulai larut dan masuk pada cerita dalam film, semua yang sudah saya lupakan dipaksa keluar oleh ingatan, dan saya mulai mencoba mencocok-cocokan setiap adegan dan makna cerita serta mulai membandingkannya dengan apa yang ada dalam novel.

Film adaptasi ini cukup baik, setidaknya menurut saya yang telah membaca versi novel. Seluruh isi cerita digambarkan cukup ringkas tanpa memotong isi dan makna cerita. Cerita tentang kehidupan pribumi yang dihimpit oleh aturan kolonialisme tergambarkan dengan jelas lewat adegan-adengan kecil seperti penggunaan bahasa, dan pelarangan masuk ke sebuah tempat tanpa melepas alas kaki.

Semangat perjuangan juga digambarkan dengan jelas, setidaknya tentang keseluruhan inti cerita bahwa perjuangan bangsa Indonesia serta konflik-konflik yang menyertainya berasal dari sebuah goresan pena. Hal ini dibuktikan dalam film ini dimana masyarakat pribumi mulai bergerak karena membaca tulisan Minke dan pengadilan Eropa yang tidak mau mengakui dokumen Pengadilan Agama karena nggak sesuai dengan aturan kolonial.

Banyak orang yang meragukan Iqbaal yang memerankan Minke. Namun Iqbaal bisa menunjukan kualitas aktingnya meski dia masih tergolong aktor muda

Iqbaal dan Mawar De Jongh. via www.bbc.com

Kalau filmnya baugs, terus kenapa banyak orang yang meragukan Iqbaal pada awalnya? Sebenarnya jawabannya cukup simpel. Sosok Iqbal sama sekali nggak ada dalam bayangan setiap pembaca buku “Bumi Manusia”. Ya, walau akhirnya saya mengaku salah. Iqbaal bermain cukup baik dan dapat memberikan sedikit senyuman pada wajah setiap orang yang menonton.

Chemistry antara Iqbal yang memerankan Minke dengan Eva de Jongh sebagai Annelies cukup membuat saya tenang. Menurut saya cukup seperti itu, karena memang pesan yang ingin disampaikan dalam “Bumi Manusia” adalah diskriminasi ras, kolonialisme serta stigmatisasi terhadap suatu ras yang lewat tokoh Nyai Ontosoroh alias Sanikem yang diperankan oleh Ine Febriyanti.

Saya harus memberi acungan dua jempol pada Ine yang berhasil membawa tokoh Nyai muncul di layar laca. Semua terasa sempurna membuat emosi penonton naik turun. Bagaimana Nyai tegak berdiri menghadapi pengadilan Pribumi maupun pengadilan Eropa dan bagaimana ia bangga menjadi seorang pribumi.

Durasi film 3 jam sebenarnya nggak cukup untuk menceritakan semua kisah dalam novel. Namun pemangkasan cerita adalah hal yang biasa terjadi pada film adaptasi

Annelis dan Nyai Ontosoroh via www.cnnindonesia.com

Terlepas dari itu semua, ada beberapa tokoh yang kurang mendapat fokus dalam film ini, yakni May, anak Jean Marais si Pelukis yang tidak diberi ruang dialog. Padahal dalam novel May adalah anak perempuan yang cerewet dan kritis. Lalu ada Sarah dan Miriam de la Croix yang semestinya melakukan diskusi berat dengan Minke.

Saya bisa mengerti keterbatasan yang berujung pemangkasan, jika film “Bumi Manusia” direncanakan berlanjut pada ketiga ceritanya yang lain, maka saya harus bicara bahwa akan banyak kekurangan.

Kekurangan-kekurangan dalam film ini juga fatal, salah satunya adalah tentang pertemuan Minke dengan Ayahnya yang diubah total. Dalam film saya malah mendapatkan kesan lucu. Namun sebenarnya dalam novel adegan tersebut adalah adegan paling sentimental dalam diri Minke karena mengkritisi kebudayaan Jawa. Namun saya juga bisa maklum kalau ada pemangkasan cerita. Itu sudah jadi hal umum yang terjadi pada film adaptasi.

Nah, itu dia review film “Bumi Manusia”. Gimana menurut kalian? Apakah film ini bagus, atau biasa-biasa saja?~

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Represent

CLOSE