Hanya 15 dari 500 judul film yang diproduksi di Indonesia, diperuntukkan bagi anak-anak. Di antara 'kepalsuan' glamornya Instagram, idealisme pengguna Twitter yang pelik, dan tayangan TV yang semakin minim kualitas, film Kulari ke Pantai jadi salah satu antitesis yang tepat untuk memberikan hiburan bagi anak-anak. Riri Riza dan Mira Lesmana nggak gagal, sajian film ini bahkan sangat menyenangkan ditonton orang dewasa.

8/10
RATING

Alangkah kagetnya saya mengetahui kalau salah satu medsos yang tengah digandrungi anak-anak Indonesia diblokir oleh Kemkominfo. Alih-alih protes pada pemerintah dan mengunggah pembelaan layaknya SJW (Social Justice Warrior), saya lebih khawatir, ke manakah nantinya hiburan bagi anak-anak akan beralih? Kita nggak mungkin, kan, membiarkan mereka terus-terusan bermain boneka, atau sekadar beli Lego dan Gundam yang harganya nggak pernah menegur sapa nggak ramah?

Saya rasa, ini merupakan momen yang begitu pas. Film Kulari ke Pantai mampu bahkan menjawab keresahan orang tua dan memberi penjelasan secara eksplisit kepada anak untuk bermain dengan lebih menyenangkan, melepaskan ponsel pintar mereka untuk sejenak dan berkenalan dengan lingkungan sosial, dengan alam. Di tengah minimnya film layar lebar bersegmen anak-anak di Indonesia, duet maut Riri Riza dan Mira Lesmana kali ini berhasil mengukir senyum semua penonton begitu melenggang keluar dari bioskop. Makin lengkap, karena skrip dikerjakan oleh mereka berdua ditambah Gina S. Noer dan sentuhan komedi dari Arie Kriting.

Sejenak lupakanlah hiruk pikuk dunia maya dan kembalikan anak pada lingkungan sosialnya. Mereka akan banyak belajar dengan cara yang menyenangkan

Penampilan Dodit Mulyanto nggak kalah kocak. via id.bookmyshow.com

Advertisement

Film Kulari ke Pantai memang menceritakan tentang sebuah perjalanan, yang kemudian memberikan banyak pelajaran. Persis dengan banyak film roadtrip lainnya, terkadang apa yang kita cari, nggak selalu kita dapatkan persis seperti apa yang kita inginkan.

Dua karakter anak yang kontras ditampilkan dalam film ini, dalam suatu kondisi mereka pun harus berdamai dengan ego mereka masing-masing. Nggak ada karakter yang diciptakan sempurna layaknya pahlawan di tengah konflik, semua karakter dibangun dengan jujur dan apa adanya. Happy (Lil’li Latisha), seorang gadis cilik yang disibukkan dengan ponsel pintar dan geng ‘cantik’-nya, mendapat tantangan untuk melakukan perjalanan dari Jakarta ke Banyuwangi bersama sepupunya Samuda biru atau Sam (Maisha Kanna) dan tantenya Uci (Marsha Timothy). Dalam film ditampilkan bahwa Sam sangat jarang menyentuh ponsel pintar, sedangkan Happy selalu sibuk bermain Instagram dan melakukan panggilan video dengan sang kawan.

Karakter Happy ditampilkan sangat baik. via id.bookmyshow.com

Awalnya sang Mama Uci mebatasi Happy untuk bermain dengan ponselnya, lambat laun mereka pun bisa membaur dan menemukan banyak hal baru selama perjalanan. Hal ini secara nggak langsung menyindir mereka, para orang tua yang nggak mau ribet lalu membelikan anaknya ponsel pintar sebagai hadiah agar sang anak nggak rewel dan bahagia. Padahal di sisi lain, banyak pembelajaran dan hadiah yang jauh lebih berharga dari sekadar teknologi dan kekayaan.

Meski menampilkan bintang cilik baru, namun penyampaian cerita yang mengalir secara sederhana justru membuat penonton gembira

Bermain di alam. via www.duniaku.net

Advertisement

Perasaan senang, kagum, hingga sedih ditampilkan dalam porsi yang seimbang. Sesuai dengan kemampuan kognitif anak buat mencerna film dengan level ini. Meski begitu, orang dewasa pun tetap akan merasa gembira setelah menontonnya. Cerita mengalir dengan jujur, tanpa beban, dan membuat semua yang menonton membawa perasaan gembira seusai menonton. Nggak jarang yang kemudian teringat dengan film anak legendaris yaitu Petualangan Sherina, namun dalam versi yang lebih kekinian.

Indahnya alam, persahabatan, dan keluarga nggak kurang untuk ditampilkan

Sesederhana anak bertengkar dan baikan lagi. via wwwsinemareview.blogspot.com

Perjalanan Sam, Happy, dan Mama Uci memang nggak selalu berjalan mulus. Mereka bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter. Baruna dan Dani (bule berlogat Papua yang kocak) yang memiliki hobi sama dengan Sam, Geng cantik Mama Ella yang centil, Mukhidi pemilik penginapan dan anaknya Wahyu, hingga Chuck Norris yang kemudian adiknya ditolong oleh Sam dan Happy. Justru di sinilah sentilan mengenai kehidupan sosial, tenggang rasa, dan saling menolong, mencoba diajarkan pada anak-anak. Pada akhirnya kita jatuh pada kesimpulan bahwa teknologi dan modernisasi memang bukanlah solusi bahagia. Apalagi sekadar uang yang digunakan Happy untuk ‘menyogok’ demi barangnya kembali.

Secara keseluruhan, film Kulari ke Pantai adalah kesederhanaan yang dibungkus dengan begitu menyenangkan. Meski beberapa product placement sangat kelihatan, toh ini jauh lebih baik dari banyak film lainnya yang menampilkan produk secara lebih terang-terangan. Sebenarnya hiburan inilah yang tepat untuk anak-anak. Ketimbang membebaskan anak main media sosial yang berujung goyang dua jari, alangkah baiknya kalau anak-anak mendapat hiburan tepat seperti film Kulari ke Pantai. Bisa jadi, bakal lebih banyak bibit unggul yang tertarik dengan perfilman dan teater, kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya