Iko Uwais yang tampil begitu apik membuat Mile 22 terselamatkan dari plot yang sedikit rumit dan efek yang kurang menggigit. Iko, justru tampil begitu sempurna bahkan seimbang dengan superioritas Mark Whalberg dalam film. Meski begitu, film ini bisa jadi tolok ukur yang baik kalau kualitas aktor kita memang sudah luar biasa.

7/10
RATING

Akhirnya film Mile 22 yang membawa nama Iko Uwais ke Hollywood sudah tayang. Setelah sempat beberapa lama dibuat penasaran karena cuplikannya yang cakep banget, kamu akhirnya bisa menyaksikan langsung aktor martial arts andalan Indonesia yang sudah sukses dengan waralaba The Raid dan film Headshot.

Namun tentu saja ada beberapa hal yang sepertinya kurang genap di film garapan Peter Berg ini. Beberapa elemen seperti scorring, efek visual, hingga kronologi plotnya kurang berhasil dimainkan dengan baik. Seolah jadi sayang, aksi keren Iko Uwais di dalam film jadi nggak tersampaikan dengan baik. Tapi tenang, Iko Uwais yang berperan jadi tokoh misterius jago berantem dan super ‘badass‘ tetap akan membuatmu tepuk tangan dan bangga setengah mati. Lengkapnya, baca sampai selesai ulasan film Mile 22 dari Hipwee Hiburan, berikut ini!

Film ini membawa dialog bahasa Indonesia dengan porsi yang lumayan. Kamu bisa sedikit senyam-senyum mendengar Lauren Cohan mengucapkannya meski masih medok

Luren Cohan banyak mengucapkan bahasa Indonesia. via www.slashfilm.com

Advertisement

Mile 22 diawali dengan adegan menegangkan yang dilakukan agen rahasia profesional di Amerika. Tim tersebut dipimpin oleh aktor kawakan Mark Whalberg yang berperan menjadi James Silva. Tujuan mereka adalah merampas bubuk cesium dari tangan Rusia agar nggak terjadi lagi pengeboman besar-besaran layaknya di Hiroshima dan Nagasaki. Misi ini kurang berjalan dengan lancar, bubuk cesium nggak didapatkan, dan di akhir scene James Silva membunuh seorang anak berkebangsaan Rusia berusia 20 tahun. Di sinilah cerita dimulai.

Iko Uwais kemudian hadir di kedutaan besar, menawarkan sebuah ‘hadiah’ bagi agen rahasia Amerika untuk memberitahukan lokasi cesium. Saat diinterogasi, Li Noor (Iko Uwais) sempat bercakap menggunakan bahasa Indonesia dengan Alice (Lauren Cohan). Begitu pula di beberapa pertarungan, terdengar percakapan bahasa Indonesia dari beberapa pasukan antagonis di film ini. Kamu mungkin akan senyam-senyum mendengarnya, karena kamu lumayan hemat tenaga untuk nggak membaca subtitle di beberapa adegan.

Setelah menonton ini kamu pasti akan setuju kalau Iko Uwais adalah daya tarik utama dari film ini

Salut! via beritagar.id

Selain dapat peran yang sangat banyak sebagai pemeran utama kedua yang paling diantisipasi setelah Mark Whalberg, Iko Uwais seperti biasa, selalu tampil keren. Kamu akan nostalgia sedikit dengan aksinya yang khas seperti di film The Raid dan Headshot, bunuh-bunuhan dengan benda tajam, lumayan kejam tapi nggak membuatmu ingin lama-lama terpejam. Mengingat, jarang ada film aksi Hollywood yang berani menampilkan pertarungan dengan eksekusi yang menggiris.

Advertisement

Dibandingkan Whalberg, tokoh Li Noor justru ditampilkan sangat apik dan keren oleh Iko Uwais. Akan wajar kalau setelah nonton film ini kamu menyadari betapa berbakatnya Iko Uwais. Bangga banget pokoknya!

Sayang, scorring yang nggak maksimal dan plot yang sedikit membosankan nggak cukup bikin perhatianmu terbayar

Iko bersama sutradara Peter Berg. via miignon.com

Untuk ukuran film sekelas Hollywood, Mile 22 kurang memberikan gereget yang bisa menjadikan film ini menarik dari awal hingga akhir. Teka-teki dan alur cerita maju mundur sempat membuat saya terus-terusan menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi. Saking lamanya, rasa penasaran tersebut berubah menjadi kebosanan akan aksi film ini yang nggak kunjung ditampilkan maksimal. Efek visual dan sound yang kurang nendang juga membuat Mile 22 kalah dibanding film Hollywood bergenre serupa. Sayang banget, padahal Iko Uwais sudah tampil super keren!

Lokasi yang kurang mendukung, dan percakapan bahasa Indonesia yang kurang beralasan juga jadi salah satu plot hole

Rumah susun dengan penghuni berbahasa Indonesia? via www.acmefilm.lt

Meski dipenuhi oleh orang-orang yang bercakapan dengan bahasa Indonesia, film ini sama sekali nggak menampilkan kalau mereka sedang bertarung di kawasan Indonesia. Bahkan beberapa orang dengan ras mongoloid yang diperlihatkan di film ini juga ‘dianggap’ menggunakan bahasa Indonesia. Sehingga hal ini akan membuatmu bingung; mereka sebenarnya sedang bertarung di mana sih? Padahal masalah teritorial dan geogrfi seharusnya sangat dipertimbangkan, mengingat Iko Uwais mengharapkan imbalan suaka dari pemerintah Amerika.

Sajian film Mile 22 bisa dibilang unik untuk sebuah film bergenre aksi. Tentu saja film ini tetap jadi rekomendasi tontonan buatmu buat membuktikan seberapa keren Iko Uwais dalam beraksi. Kabarnya film ini juga akan digarap sebagai waralaba dan akan hadir menjadi sebuah trilogi. Jadi, kamu perlu menonton sekuel pertama Mile 22 sebelum mereka menampilkan aksi yang lebih seru di film kedua.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya