Review Serial “Lupin”, Drama Pencurian Kalung dan Aksi Balas Dendam Penuh Trik Mengagumkan

Review Lupin 2

7/10

"Lupin" punya napas baru untuk penggemar kisah kejahatan. Bagi penonton yang sudah mengenal tokoh Arsène Lupin, serial ini menyegarkan. Meski digarap oleh sineas Perancis, serial ini nggak seperti kebanyakan sinema Perancis yang umumnya beralur panjang dan bertempo lambat.

Masyarakat kelas atas Perancis gempar. Sebuah kalung bersejarah yang akan dilelang di Museum Louvre untuk tujuan amal raib. Aparat kepolisian pun segera bertindak mengidentifikasi dan memburu sang pencuri yang piawai. Kalung tersebut hilang tepat di malam pelelangan yang hanya dihadiri tamu undangan dan dijaga ketat polisi bersenjata.

Advertisement

Kisah di atas adalah pembuka serial “Lupin” yang tayang dua musim di Netflix. Sekilas, kisah tersebut tampak klise. Sudah banyak film atau serial yang mengusung kisah kejahatan berupa pencurian barang mewah. Namun, “Lupin” punya napas baru untuk penggemar kisah pencurian. Bagi penonton yang sudah mengenal tokoh Arsène Lupin, serial ini menyegarkan.

Aksi balas dendam yang diawali jebakan pencurian kalung

Serial “Lupin” adalah kisah perjalanan Assane Diop (Omar Sy), putra dari imigran Senegal di Perancis bernama Babakar Diop. Diceritakan kalau Babakar yang bekerja sebagai supir pribadi terseret kasus pencurian kalung mewah milik sang majikan, Hubert Pellegrini. Belakangan diketahui hal tersebut hanya intrik sang majikan.

Babakar yang tak kuasa melawan jebakan harus menerima hukuman. Malu dengan kenyataan tersebut, ia memutuskan mengakhiri riwayatnya. Sebelumnya, ia sempat memberikan sebuah buku kumpulan cerita berjudul “Arsène Lupin” karangan Maurice Leblanc kepada sang anak. Buku ini lah yang kelak menjadi acuan Assane dewasa untuk menuntaskan dendam kematian sang ayah.

Advertisement

Arsène Lupin merupakan legenda di Perancis. Kepopuleran detektif fiktif ini telah menjadi inspirasi banyak film dan kesenian lain di Kota Mode. Begitu juga bagi Assane. Segala trik Lupin yang sudah ia hafal di luar kepala diterapkan untuk misi balas dendam. Hal itu menjadikan serial “Lupin” menarik.

Serial “Lupin” musim pertama penuh kejutan dan tak mudah ditebak

Alih-alih menampilkan kisah klasik Lupin lengkap dengan latar Perancis awal abad 20 sebagaimana pada buku, duo George Kay dan Francois Uzan selaku kreator “Lupin” memilih menghidupkan Lupin ke dalam karakter Assane. Dengan itu, Lupin hidup dengan kecanggihan teknologi. Berbagai trik yang dilakukan Assane jadi tampak semarak dan penuh kejutan. Keputusan ini juga memungkinkan cerita berkembang bersama gejolak problematika zaman kiwari.

Advertisement

Seperti persoalan rasialisme yang digambarkan dengan jelas sejak musim pertama. Orang kulit hitam ditempatkan untuk mengampu peran sebagai penjahat atau pesuruh. Sebaliknya, orang kulit putih sebagai dermawan hingga pahlawan. Menariknya, sang kreator mampu dengan apik melawan stigma tanpa dipaksakan. Seiring cerita, dua kelompok di atas bertukar posisi. Karakter kelas bawah menjadi protagonis dan karakter kelas atas menjadi antagonis.

Pejabat polisi yang digambarkan bak pahlawan, ternyata bisa menjadi oknum korup dengan cara menyalahgunakan kekuasaannya. Orang kelas atas yang tampak dermawan, nyatanya tamak. Sementara kelompok kelas bawah yang dicirikan negatif, ternyata adalah orang paling jujur dan apa adanya dalam menjalani kehidupan.

Musim pertama serial “Lupin” sangat menyenangkan untuk ditonton. Meski digarap oleh sineas Perancis, serial ini nggak seperti kebanyakan sinema Perancis yang umumnya beralur panjang dan bertempo lambat. Musim pertama serial ini menghadirkan lima episode saja. Masing-masing berjalan tak lebih dari 50 menit dan berhasil bikin penasaran.

Catatan untuk musim pertama “Lupin” hanyalah trik yang dilakukan Assane tampak begitu sempurna untuk menjadi kenyataan. Di luar itu, tidak ada yang mengganggu logika saat menontonnya.

Pola yang serupa membuat musim kedua “LUPIN” tidak istimewa

Memasuki musim kedua, “Lupin” menjadi klise tanpa bisa dihindarkan. Kelima episode pada musim anyar ini tak ubahnya musim pertama. Cerita berkutat pada kelanjutan aksi balas dendam Assane yang menggantung di musim pertama. Pertarungan Assane dan Hubert makin panas. Orang-orang terdekat Assane mulai terlibat, yang mana sudah bisa ditebak sejak awal.

Kebaruan lain yang hadir pada musim kedua hanyalah adegan baku hantam. Meski nggak mengagumkan tetapi cukup seru. Di luar itu semua, “Lupin” musim kedua nggak semenarik musim pertama. Hanya rasa penasaran terhadap akhir balas dendam Assane yang membuat saya bertahan hingga episode terakhir. Itu pun mengecewakan. Akhir dari cerita ini datar. Tidak sedramatis persiapan balas dendam Assane.

Berbagai trik yang dilakukan Assane untuk mengalahkan Hubert berpola sama seperti pada musim pertama. Melarikan diri dengan cara menyamar adalah trik yang mengagumkan di musim pertama. Ketika pola serupa diterapkan pada musim kedua, saya kehilangan selera. Polisi seperti keledai yang jatuh di lubang yang sama. Assane selalu bisa lolos di detik-detik ia nyaris tertangkap. Lagi-lagi ini terlalu sempurna untuk bisa jadi kenyataan.

Jika melepaskan diri dari hal-hal di atas, musim kedua “Lupin” cukup seru untuk ditonton. Alur dan tempo yang diterapkan konsisten. Nggak lambat dan bertele-tele sehingga tidak ada alasan lain untuk merasa bosan. Kepiawaian akting para aktor menyelamatkan jalan cerita yang biasa-biasa saja di musim kedua.

Selain itu, poin menarik dari keseluruhan serial “Lupin” adalah pemilihan pemeran. Serial ini kerap menyisipkan flashback ke masa lalu untuk melatari cerita dan aksi-aksi Assane di masa kini. Di sini, aktor-aktor yang dipilih sangat mirip satu sama lain.

Secara keseluruhan “Lupin” tetap layak ditonton. Penggemar cerita detektif, serial “Money Heist”, film “Now You See Me”, atau bahkan “Sherlock Holmes” dapat terpuaskan karena punya sensasi yang sama. Serial ini dilabeli rating 16+ oleh Netflix, meski beberapa bagian menampilkan adegan bu nuh diri dengan gamblang. Kebijaksanaan penonton diperlukan untuk menyaksikan serial ini.

Ikuti Instagram @wolesjon, biar nggak ketinggalan informasi seputar cowok dan dunia hiburan lainnya, kuy!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

get me away from here I'm dying

CLOSE