Nikah siri itu katanya mengandung risiko, salah satunya karena nggak ada pengakuan resmi akan legalitasnya oleh negara kita. Tapi ternyata makin ke sini makin marak aja nikah siri. Dan kamu pasti bertanya-tanya dong apa aja alasan dari pasangan-pasangan yang memilih melakukannya? Memang, ada beragam alasan. Apakah melulu negatif? Yuk kita buktikan. Bacanya pelan-pelan, hati-hati nanti kepengen nikah siri juga lho.

1. Alasan utama, apalagi kalau bukan adanya legalitas seksual. Katanya sih, “daripada zina, disahkan oleh agama dulu aja, negara mah nanti-nanti bisa”

legal sih, tapi ya secara agama aja via rukun-islam.com

Mengurus pernikahan yang sah di mata negara itu butuh waktu dan tenaga ekstra. Karenanya, hal ini pun dikenal ribet dengan segala dokumen persyaratan dan tetek bengeknya. Daripada sudah keburu nafsu nggak mampu menahan hasrat dan malah jatuh dalam jurang zina, kenapa nggak disahkan oleh agama saja? Kalau sudah sah kan jatuhnya malah kewajiban dan mendapat pahala. Tapi kalau begini juga pernikahan jadi kaya legalitas seksual aja maknanya, padahal masih banyak hal menguntungkan lainnya yang tak hanya tentang hubungan badan semata.

2. Tapi masalah legalitas seksual bukan gara-gara nafsu doang. Kadang juga untuk menghindari fitnah saat melangsungkan persiapan nikah

kalau nikah siri ya jangan harap kamu punya ini via cdn.gresnews.com

Berulang kali ada kasus, seorang pria melamar wanitanya dan malah disuruh langsung melantunkan ijab kabul oleh orangtua sang wanita, padahal belum punya dokumen persyaratan apapun untuk menikah. Jawaban yang biasa terdengar ialah “untuk menghindari adanya fitnah dari tetangga dan orang-orang lainnya”. Hal begini menurut mereka justru bagus untuk persiapan resepsinya. Bayangkan saja, untuk resepsi tentu butuh sering berjalan berdua untuk mencari gedung, gaun, undangan, suvenir dan mengurusi tetek bengek lainnya. Supaya tak ada fitnah dan malah menambah dosa orang lain gara-gara memperbincangkan mereka, nikah siri dipilih jadi jalan pintas.

3. Ganjalan restu dari orangtua pun tak pelak jadi salah satu alasan pasangan yang memilih menikah siri. Semacam gaya lain dari kawin lari

Advertisement

karena nggak menuntut adanya orangtua via riaucitizen.com

Ketika melaksanakan nikah siri, untuk pihak mempelai wanita tak butuh orangtuanya, sebab yang jadi wali memang tak mutlak harus orangtua. Karena hal itulah, nikah siri seolah menjadi pilihan bagi mereka yang cinta dan hubungannya terhalang restu. Lha kalau sudah sah secara agama, apalagi sudah ada benih dari hasil hubungan mereka, orangtua bisa apa? Kesannya memang memaksa, agar orangtua menjadi tak tega dan lantas merestui jalannya rumah tangga mereka. Hal begini seringkali jadi alasan di Indonesia.

4. Nikah siri juga kerap dilakukan oleh mereka yang menjadi istri kedua atau ketiga atau entah ke berapa. Ya, bisa saja kita sebut ini sebagai dampak dari adanya poligami

begitu tahu, lalu istri pertama minta cerai, sama aja via beritamuslim.com

Yang seringkali jadi pertanyaan ialah, apakah melarang seseorang untuk berpoligami itu melanggar Hak Asasi Manusia? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Tapi biasanya, ketika si istri pertama tak mengizinkan adanya poligami, suami akan tetap melakukannya dengan menikah siri. Kalau begini bukannya malah melanggar hak istri pertama ya? Apa boleh dibilang kalau nikah siri itu serupa bentuk mengkhianati dan membohongi istri pertama? Ya, tergantung gimana sudut pandangnya.

5. Alasan yang satu ini terkesan jahat sih, tapi ada juga yang menggunakannya. Beberapa mengaku ingin menghilangkan jejak agar nantinya tak ada tuntutan apapun yang memberatkan

nikah siri itu pilihan sih, jangan ada judgement lah via okezone.com

Kalau ada alasan model begini, apa kamu masih mau kalau ada yang ngajak menikah siri? Dari niatnya aja sudah begitu, bukan tak mungkin ‘kan ketika dalam mahligai pernikahan nanti dia melakukan tindakan buruk? Dan ketika kamu baru kepikiran melayangkan tuntutan kepada pihak yang berwajib, pikiran itu patah dengan sendirinya lantaran kamu tak bisa menuntutnya sebagai suami atau istri. Memang sah menurut agama, tapi kamu tak punya surat apapun dari negara yang melegalkan pernikahan kalian, jadilah tak ada yang bisa dipersalahkan.

6. Ada juga yang benar-benar melakukan nikah siri karena terpaksa sama sekali tak punya biaya. Terjepit situasi dan punya masalah dengan ekonomi

pasti ada alasan di balik terlaksananya sesuatu via www.mantenhouse.com

Pasangan yang memutuskan menikah siri bisa jadi juga karena tak memiliki cukup dana untuk melangsungkan pernikahan secara hukum negara. Keduanya bukan tak mungkin sedang terjepit situasi dan keadaan lingkungannya. Misalnya ketika harus segera dinikahkan ataupun tidak mampu mengurus surat-menyurat di kantor urusan agama (KUA). Mungkin lingkungan rumahnya nggak memungkinkan untuk diadakan pesta pernikahan atau bisa saja dia tinggal di desa tertinggal. Bukan tidak mungkin juga memang mereka tak menginginkan pesta pernikahan yang ramai.

7. Sebutlah Ayu Utami, dia salah satu orang yang memilih menikah siri dan tak berniat mendaftarkan pernikahan ke negara sama sekali. Kenapa?

ayu utami dan suami yang akhirnya menikah secara agama via ayuutami.info

Sebab, hukum perkawinan di Indonesia dianggapnya masih tidak adil. Lantaran, secara otomatis menempatkan suami sebagai kepala keluarga.”Padahal tentang siapa yang jadi kepala keluarga, apa harus ada kepala keluarga, atau apa benar harus ada kepala keluarga, serahkan saja pada pasangan yang menikah,” terangnya dilansir dari ayuutami.info

Dia menginginkan hal itu jadi urusan pribadinya, tak perlu mengikuti aturan negara. Karena pada praktiknya, banyak istri yang justru menjadi tulang punggung keluarga, tapi malah tak mendapat pengakuan, perlakuan, dan penghargaan yang layak sebagai pencari nafkah utama.

Tujuh alasan di atas semoga menjawab pertanyaanmu tentang apa sih yang jadi alasan seseorang memilih melakukan nikah siri. Terlepas dari adanya pro kontra selama ini, apalagi saat maraknya jasa nikah siri online, ya inilah realita yang terjadi. Jangan gegabah, segalanya ada positif negatif dan dampak atau risiko yang menanti.