Apa yang ada dalam benakmu ketika mendengar tentang pembunuh bayaran? Satu kata: Ngeri! Pembunuh bayaran ialah sebutan bagi seseorang yang menawarkan jasa menghilangkan nyawa seseorang demi sejumlah uang atas dasar permintaan klien.

Banyaknya film yang menceritakan kisah pembunuh bayaran membuat kebanyakan dari kamu sudah sedikit mafhum dengan pekerjaan mereka. Fim-film semacam Pulp Fiction (1994), Kill Bill (2003), 9 Naga (2006) dan lainnya mengisahkan bagaimana manusia tega membunuh sesamanya demi uang. Ngeri, ya! Namun apakah kamu tahu pembunuh bayaran nggak cuma ada di film fiksi saja?

Advertisement

Di dunia nyata, pekerjaan semacam itu memang ada.

Nggak usah jauh-jauh mencari ke luar negeri, profesi pembunuh bayaran ada di Indonesia

Foto ayahnya, Murtado si Macan Kemayoran

Orang itu bernama Iwan Cepi Murtado. Pria berusia 75 tahun asal Betawi ini dulunya merupakan seorang pembunuh bayaran yang dikenal bengis saat melakukan aksinya. Nama belakang ‘Murtado’ diambil dari nama ayahnya ‘Murtado si Macan Kemayoran’. Ayahnya merupakan legenda Betawi yang memiliki kemampuan silat yang tiada tandingannya. Beliau dipercaya sebagai mandor pada masa Belanda, namun akhirnya mengkhianati mereka dengan mencuri persediaan pangan Belanda dan memberikannya pada kaum pribumi.

Beda dengan sang ayah, Iwan Cepi Murtado tidak memiliki kemampuan silat, tapi ia sangat cermat, cerdas, dan bengis. Ia bisa melakukan apa yang ia inginkan secara rapi dan tidak diketahui siapa-siapa. Alih-alih berbuat baik seperti yang dilakukan ayahnya, ia malah menggunakan kemampuan itu untuk melakukan pekerjaan kotor.

Latar belakang sebagai tentara membuat Iwan mudah melancarkan aksi bersama rekannya

Mantan tentara via www.boombastis.com

Advertisement

Sebelum berprofesi sebagai pembunuh bayaran, pria yang bernama asli Muhammad Ikhwan ini bekerja sebagai tentara yang bertugas di Malang, Jawa Timur. Karena gaji tentara itu kecil, ia memutuskan untuk kabur. Pengalamannya di militer inilah yang membuat Iwan pandai mengatur strategi, memata-matai, dan mengeksekusi korban. Memang, pada saat menjadi prajurit, ia sering ditugaskan untuk membunuh antek komunis.

Sebelum menjalankan aksinya, Iwan merencanakan segala sesuatunya terlebih dahulu dengan menguntit korbannya selama tujuh hari tujuh malam tanpa tidur. Diintainya gerak-gerik dan perilaku korban dari rumah hingga kantor. Pada hari-H, ia langsung menikam korban dan melenyapkan jasadnya. Saat melancarkan aksi, Iwan dibantu oleh seorang kawan yang disebut dengan “pilot” yang bertugas menyetir mobil yang membawa jenazah korban ke tempat pembuangan.

Pekerjaan kotornya ini membawanya menjadi jutawan pada masanya. Kaya, sih, tapi apa berkah duitnya?

Saat mendekam di penjara via www.boombastis.com

Sekali membunuh, Iwan meraup upah 2 juta-25 juta Rupiah. Di tahun 70-an, jumlah itu sangatlah banyak. Jumlah yang menggiurkan itu membuat Iwan tidak ragu-ragu dalam menerima pesanan. Sebelum masuk penjara, ia telah menghabisi nyawa tujuh orang.

Pembunuhan terakhir yang ia lakukan adalah pesanan dari orang Sekretariat Negara di tahun 1980-an. Korban adalah istri muda pejabat yang dibunuh dengan tali tambang. Upah dari pembunuhan ini mencapai 100 juta rupiah! Meski begitu, tindakannya ini membuat Iwan harus mendekam di penjara selama satu dekade.

Setelah keluar dari penjara, pembunuh ‘berdarah dingin’ ini mulai menata hidupnya kembali dan bertaubat

Iwan telah bertaubat via www.boombastis.com

“Saya udah nggak mau mengungkap lagi. Karena yang saya kerjakan ini bukan mencuri, nyawa orang yang saya habisi…Jangan ditanya lagi. Kalau saya ditanya sampai ke situ (membunuh), hati saya terenyuh,”

Dilansir dari wawancara On The Spot Trans 7 edisi 15 November 2017, kehidupan Iwan berubah sejak ia memiliki keluarga. Hatinya menjadi luluh berkat anak perempuannya, Ade Naziha. Ia lantas berhenti membunuh orang. Meski banyak permintaan untuk kembali melakukan tindakan kriminal, Iwan menolak dan memilih untuk memiliki pekerjaan halal.

“Apakah saya bertaubat ini ada ampunan Allah? Saya serahkan kepada Allah,”

Semua yang telah dilakukan Iwan di masa silam adalah hal yang mengerikan. Namun, kini ia telah bertaubat dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Saat ini, ia pun turut mendirikan lembaga ‘Macan Kemayoran’ yang fokus pada kegiatan sosial. Jika mau berusaha, masih ada kesempatan untuk kita berubah dan memperbaiki kehidupan di masa mendatang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya