Pada Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei lalu, Hipwee iseng (tapi serius) melakukan poling ke kawan-kawan tersayang dari Hipwee Community. Kami ingin tahu siapa penulis fiksi dan sastrawan asal Jogja yang paling populer dan disukai oleh pembaca setia Hipwee.

Tujuannya tentu selain untuk menghasilkan sebuah artikel yang seharusnya bisa jadi rujukan untuk pembaca Hipwee lain mencari rekomendasi bacaan, juga berasal dari keinginan kami untuk lebih dekat dengan pembacanya. Kami tahu kalian suka membaca (kalau tidak, kalian pasti lebih banyak nonton video Atta Halilintar daripada baca Hipwee dong ~), maka dari itu kami penasaran, seperti apa sih tulisan-tulisan fiksi yang berhasil memikat kalian?

Advertisement

Adanya unsur “asal Jogja” mungkin agak problematis ya. Apakah artinya nama-nama di bawah ini khusus mereka yang lahir di Jogja? Bukan sih, lebih ke sosok-sosok yang kiprahnya tumbuh dan berproses di Jogja. Kami yakin lingkungan ikut menentukan pengaryaan seseorang. Dan kami memilih Jogja sesederhana karena tim redaksi Hipwee sendiri kebanyakan di Jogja, jadi kami ingin mulai dari medan terdekat. Lagipula Jogja jelas punya segudang pilihan jago untuk dipilih. Simak hasilnya!

1.Emha Ainun Najib atau Cak Nun menjadi yang paling dinikmati karya-karyanya oleh pembaca Hipwee, nggak kaget sih ~

Cak Nun via joglosemarnews.com

Mungkin lebih mahsyur dengan nama Cak Nun. Tak sebatas penulis dan sastrawan, Cak Nun adalah musikus, budayawan, dan mantan pelukis kaligrafi. Figur publik kelahiran desa Menturo, Jombang, Jawa Timur yang lahir lebih dari setengah abad silam ini punya reputasi dan pengaruh yang tak main-main dalam seni, budaya, bahkan politik dan cara banyak orang menyikapi kehidupan spirituil.

Menyoal kekaryaan penulisan saja, beliau sudah sangat produktif. Buku-bukunya di toko buku seakan selalu baru, ada lagi dan ada lagi. Kebanyakan bicara tentang ketuhanan dan kemanusiaan. Untuk sastra, puisi-puisinya seperti Sajak-Sajak Cinta, Nyanyian Gelandangan, dan Lautan Jilbab amat mengesankan. Namun,  tuangan pemikirannya dalam tulisan-tulisan esai sepertinya lebih banyak merambah pembacanya.

Advertisement

Tak ada secuilpun keheranan jika beliau menang di poling Hipwee ini. Bukan cuma pembaca atau penggemar, ia bisa dibilang punya pengikut yang militan. Cak Nun juga aktif di luar bidang kepenulisan. Misalnya adalah Kiai Kanjeng, grup musik shalawat semi-gospel dengan iringan gamelan yang sudah mementaskan dramanya di berbagai kota. Sepak terjangnya dalam kebudayaan dan sastra bahkan sempat diapresiasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan sebuah penghargaan Satyalancana Kebudayaan pada tahun 2010.

Lebih-lebih, karya-karya Cak Nun serta sosoknya memang lintas generasi. Kendati sudah berumur, namun anak muda tetap saja terpikat olehnya. Selain karena bentuk-bentuk karyanya, Cak Nun juga menyuarakan semangat pluralisme dalam islam, religius tapi tetap berpikir terbuka. Dari tulisan sampai ceramahnya, tiada seruan-seruan anti komunis atau cemooh terhadap agama lain yang kolot itu. Kerukunan adalah yang terpenting. Oiya, beliau juga merupakan ayah dari Noe, vokalis band pop bernama Letto pelantun “Ruang Rindu” itu.

Dalam majalah Horison–dikutip dari blognya--Cak Nun sempat  menegaskan pentingnya sastra bagi manusia dan kehidupan ketuhanannya;  “Manusia sangat dipersyarati oleh sastra untuk kemanusiaannya. Jika manusia itu punya keperluan terhadap Tuhan, maka manusia sangat membutuhkan sastra untuk mengolah proses perohanian dan pelembutan kehidupan keber-Agama-annya. Dan jika manusia berkumpul sebagai bangsa, mereka sangat butuh sastra untuk punya kemungkinan mencapai ke-beradab-an Negaranya”.

2. Joko Pinurbo, salah satu penyair terbaik di Tanah Air saat ini

Joko Pinurbo via www.whiteboardjournal.com

Reputasinya tumbuh dari puisi-puisinya yang berkarakter kuat. Ada banyak unsur yang membuat kita bisa mudah mengenali puisi-puisi besutan Jokpin. Cek saja mulai dari kumpulan puisinya yang bertajuk Celana. Mahakaryanya ini menunjukan kepandaian Jokpin memainkan tema dan objek yang tidak lazim, biasanya adalah objek-objek domestik seperti kamar mandi, sarung, hingga celana tadi. Semuanya diandai-andaikan untuk berpuitis ria.

Ditambah dengan gayanya yang seperti bercerita, bukan asal memuitiskan segala sesuatu, jadilah puisi yang menarik. Selain itu, puisi Jokpin juga melibatkan unsur humor yang kuat. Biasanya terkait unsur jenaka dari bagaimana manusia menyikapi hidup.

“Saya banyak belajar dari orang Jawa, bagaimana menghadapi hidup yang sering absurd dan tidak terpahami, nasib sial dan ternyata semua absurditas hidup itu bisa dinikmati melalui humor. Jadi humor saya bukanlah humor yang dimaksudkan untuk mendapatkan efek kelucuan, tetapi humor yang bisa menggugah orang supaya bisa menghidupi, menghadapi dan menjalani hidup sehari-hari mereka dengan rileks,” ujarnya dalam wawancara dengan Soni Triantoro dalam Whiteboard Journal.

Ambil contoh:

Mata

Ada tiga mata bertemu di kafe itu

Matasenja, matakata dan matangantuk

Mata senja lekas terpejam karena hujan bilang

pertemuan ini memang jatahnya malam

Matakata minus delapan karena katakata

waduh mabuk berat dihajar kenangan

Matangantuk merah merindu melihat botol bir

Makin penuh dengan airmatamu

(2002)

Penggunaan objek unik dan humor itu rasanya membuat Jokpin lebih akrab dengan anak muda. Ini alasan kenapa banyak pembaca Hipwee yang tidak lari darinya. “Kita harus menyesuaikan dengan zaman, hanya cara mengekspresikan saja yang berbeda,” uar Jokpin, dalam acara 77 Tahun Sapardi Djoko Damono dan Peluncuran Buku, di Bentara Budaya Jakarta.

3. Bernard Batubara, tampaknya berhasil menaklukan para pembaca Hipwee yang menggemari fiksi-fiksi asmara

Bernard Batubara via www.gramedia.com

Dibanding semua nama yang masuk di lis ini, Bara tergolong yang paling mengandalkan karya-karya yang ringan dan cenderung pop, roman picisan jika boleh disebut. Namun, justru ini agaknya yang membuat pembaca Hipwee banyak kepincut padanya.

Bara adalah seorang penulis muda, masih kepala dua, namun amat produktif di bidang fiksi. Ia menulis sejak tahun 2007, dan akhirnya menerbitkan buku kumpulan puisi perdananya yang bertajuk Angsa-Angsa Ketapang pada 2010. Selanjutnya, segera saja beruntun belasan karya dengan jangka tak terpaut jauh itu lahir, termasuk Kata Hati, Cinta dengan Titik, dan Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri .

Ia juga banyak berminat dengan wilayah pengaryaaan alih wahana. Beberapa karyanya diadaptasi ke film layar lebar, yakni Radio Galau FM dan Kata Hati oleh  Rapi Films. Menariknya, sebaliknya Bara juga menafsirkan film atau lagu menjadi bukunya, yakni Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran yang disutradarai oleh Ismael Basbeth dan Asal Kau Bahagia dari lagu Armada yang pasti kamu pernah dengar itu–dan skrip film adaptasinya .

Sebagian pihak mencoba membuat dikotomi antara fiksi populer dan sastra, terutama yang menganggap sastra punya wilayah adiluhungnya sendiri. Apalagi ada terminologi sastra populer dan sastra serius. Karya-karya Bara pun rentan dikategorikan sebagai fiksi atau sastra populer, namun ia juga punya pendapat terkait itu. “Ketimbang sastra populer dan serius, aku lebih percaya pada kedalaman dan lapisan. Aku percaya ada karya yang dangkal dan dalam. Nah, dangkal dan dalam ini definisinya bisa macam-macam. Bagiku, ya, bagaimana si penulis ini menggali apa yang disampaikan. Bisa saja novel label metropop dengan bahasa dan konflik yang sangat populer, tetapi penulisnya tidak hanya menghadirkan sesuatu yang populer saja. Ia juga memasukkan lapisan-lapisan lain, selain lapisan konflik yang tampil di permukaan, seperti lapisan sosial, politik, hukum, atau ekonomi,” tukasnya pada Jurnal Ruang.

4. Muhidin M. Dahlan, penulis Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! yang juga merupakan pengarsip yang baik

Muhidin M Dahlan via www.youtube.com

Karyanya yang paling tenar adalah Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!. Mungkin kamu sudah pernah dengar. Judulnya begitu provokatif dan menghunjamkan banyak pertanyaan, lalu apakah isinya adalah penistaan agama? Tidak, seperti sejumlah karyanya yang lain (sebut saja Adam Hawa , dan Kabar Buruk dari Langit), Muhidin di novel ini mencoba mengangkat aspek-aspek religiusitas yang mengundang banyak keresahan. Karya yang mampu mendorong kontemplasi akan pemakanaan agama yang kadang terlalu sempit dan naif.

Muhidin memang punya latar belakang yang erat dengan itu. Berasal dari Sulawesi, Muhidin lahir di tahun 1978 dan sempat mengecap pengalaman sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), plus menjalani studi di Universitas Negeri Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga. Ia dibesarkan di lingkungan masjid dan sempat menjadi takmir masjid. Usia remajanya tak jauh-jauh dari kehidupan sosial umat beragama yang cukup fanatis.

Dan Selain sebagai penulis, Muhidin juga dikenal sebagai seorang pegiat arsip yang baik.

Salah satu kendaraannya adalah Radio Buku, sebuah ruang arsip suara yang mengomunikasikan berbagai aktivitas literasi yang dilakukan di semua lembaga di dalam naungan Yayasan Indonesia Buku. Selain itu, pada tahun 2011, Muhidin juga membuat Warung Arsip untuk menampilkan koleksi-koleksi literasi bernilai sejarah di Indonesia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya