Saat teman-temannya lagi sibuk mempersiapkan liburan dengan pulang ke kampung halaman, Annisa malah sibuk mempersiapkan diri berangkat ke Wakatobi. Dia dan beberapa temannya akan melakukan KKN di daerah yang terkenal dengan pemandangan bawah lautnya tersebut. Berangkat di tengah Bulan Ramadhan, tentu Annisa pun akan melewati hari lebaran di tempat KKN.

“Peraturannya sampai tanggal 31 Agustus. Waktu lebaran juga harus di tempat KKN,” ujara Annisa, mahasiswi UGM.

Advertisement

Masa semester antara yang bersamaan dengan Bulan Ramadhan ini membuat banyak mahasiswa yang harus merasakan hari raya di tempat KKN. Ada perasaan sedih karena tidak bisa kumpul bersama orang tua, tapi di satu sisi ada keseruan sendiri karena bisa merasakan lebaran di tempat yang berbeda.

1. Mulanya, kamu berpikir panjang untuk mengambil KKN pada semester pendek ini.

Ambil KKN nggak ya?

Ambil KKN nggak ya? via www.her.ie

Ketika akan mengisi KRS, kamu sempat ragu-ragu. Enaknya ngambil KKN semester ini apa menunggu semester depan saja ya. Kalau mengambil semester ini, kamu sudah tahu bahwa konsekuensinya kamu tidak bisa lebaran di rumah. Tapi, kalau harus mengambil semester selanjutnya, bisa-bisa kelulusanmu harus tertunda. Lagi pula, kalau semester ini nggak ambil KKN, mau ngapain?

2. Demi masa depan yang masih jauh dan panjang, kamu pun memutuskan untuk mengambil KKN semester ini.

Ambil aja lah biar cepat selesai

Ambil aja lah biar cepat selesai via ugm.ac.id

Dari pada harus menunggu semester berikutnya dan itu berarti menunda kelulusanmu, kamu pun memutuskan untuk mengambil KKN di semester antara ini. Enggak apa-apa deh, harus mengorbankan lebaran tahun ini, tapi bisa membuahkan hasilnya di tahun-tahun yang akan datang. Amin.

3. Menjelang hari keberangkatan, orang tuamu juga sedikit protes karena kamu tak bisa menghabiskan lebaran bersama keluarga, tapi pada akhirnya mereka pun mengerti.

Hati-hati ya, Nak!

Hati-hati ya, Nak! via nyonyakim.wordpress.com

Advertisement

            “Memangnya nggak bisa pulang sebentar ya pas lebaran?” kata Bapak saat kamu akan berpamitan dan mengatakan tidak bisa ikut lebaran di rumah.

Pastinya, orang tua sangat mengharapkan kamu dapat ikut berkumpul bersama kerabat yang lainnya saat lebaran. Apalagi untuk kamu yang kuliah di perantauan, tentu momen lebaran begitu ditunggu-tunggu karena mungkin hanya pada saat lebaran itu seluruh anggota dapat kembali berkumpul.

Namun, pada akhirnya, mereka paham bahwa kamu harus menyelesaikan kewajibanmu. Semakin kamu cepat mengambil KKN, tentu akan semakin cepat orang tuamu datang ke acara wisudamu.

4. Sebenarnya, kamu pun sedikit was-was, nanti puasa pas KKN gimana ya? Di sana orang-orangnya ada yang lebaran nggak ya?

Bakal kuat nggak ya puasanya?

Bakal kuat nggak ya puasanya? via ugm.ac.id

Bagi kamu yang KKN di tempat yang jauh dari tempat tinggalmu, mungkin ada juga perasaan cemas yang menghampirimu. Ketika berangkat KKN, masih dalam Bulan Ramadhan, kamu pun menduga-duga, kira-kira bagaimana ya puasa di tempat KKN nanti. Apalagi pada saat puasa, kamu juga harus menjalani segala macam program KKN yang cukup padat.

5. Tapi kamu tahu kamu nggak sendirian. Teman-teman KKN yang lain tentu juga merasakan hal yang sama.

Tenang, kamu nggak sendirian

Tenang, kamu nggak sendirian via mizwandiwandi.wordpress.com

Tentu bukan cuma kamu yang merasakan kecemasan-kecemasan tersebut. Teman-teman KKN-mu juga memiliki keresahan yang serupa seperti yang kamu rasakan. Karenanya, kalian menjadi semakin kompak saat berada di tempat KKN. Kamu dan teman-teman KKN mendiskusikan bagaimana kegiatan yang pas dilakukan selama masa Bulan Ramadhan. Kalian juga akan bersiasat bagaimana menyiapkan saur dan buka saat di tempat KKN nanti. Ya. Kamu dan teman-teman KKN satu unitmu akan menjadi sebuah keluarga yang saling membantu di tempat KKN nanti.

6. Ternyata, menjalani bulan Ramadhan di tempat KKN tak serumit yang kamu bayangkan. Di tempat KKN, kamu menemukan tradisi baru berpuasa di tempat lain.

merasakan Bulan Ramadhan di daerah lain

merasakan Bulan Ramadhan di daerah lain via www.facebook.com

Meski mayoritas di tempat KKN-mu penduduknya tak menjalankan ibadah puasa, kamu dan teman-teman satu unit KKN-mu tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik. Mereka, orang-orang di desa tempat KKN-mu paham bahwa kamu dan teman-teman KKN menjalankan ibadah puasa. Mereka selalu menawarkan untuk membuatkan hidangan saur atau berbuka puasa.

“Kita sih udah persiapan untuk saur dan berbuka karena tahu di sana mayoritas penduduknya nggak puasa, tapi mereka tetap berbaik hati menawarkan menyiapkan saur dan hidangan berbuka puasa,” ungkap Annisa.

7. Pada saat lebaran, kamu dan teman-teman satu unit pergi ke masjid di sekitar tempat KKN dan diundang berlebaran di rumah salah seorang warga yang kebetulan juga merayakan lebaran.

Lebaran di tempat KKN

Lebaran di tempat KKN via ntb11.blogspot.com

Meski mayoritas penduduk tempat KKN-mu tidak berlebaran, tapi ada juga sebagian kecil warganya yang merayakan lebaran. Di rumah merekalah, kamu menghabiskan hari lebaran. Sehabis sholat ied di masjid yang ada di sana, kamu dan teman-teman satu unit bersilahturahmi dengan warga sekitar baik yang merayakan lebaran maupun yang hanya datang memberi ucapan selamat. Melihat kehangatan lebaran di tempat KKN, kamu pun teringat suasana lebaran di kampung halamanmu. Keluarga yang sedang berkumpul di rumah tersebut hanya dapat kamu sapa melalui telepon.

“Maaf lahir batin ya, Pak, Bu. Salam buat keluarga yang datang ke rumah!”

8. Berlebaran di tempat KKN membuatmu memiliki pengalaman baru yang mungkin hanya akan sekali kamu rasakan.

Selamat lebaran!

Selamat lebaran! via ciwulsky.blogspot.com

Merayakan lebaran di tempat baru yang sebelumnya belum pernah kamu kunjungi menjadi pengalaman baru bagimu. Tentunya berlebaran di tempat KKN ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagimu. Dengan berlebaran jauh dari rumah, kamu jadi tahu tradisi lebaran di tempat lain yang mungkin jauh berbeda dengan di rumahmu. Berada jauh dari keluarga juga membuatmu semakin rindu dengan keluarga. Kamu pun menyadari makna pentingnya kehadiran keluarga bagimu.

“Maaf ya, Pak, Bu… Aku nggak bisa berkumpul saat lebaran tahun ini. Semoga setelah ini kalian bisa segera melihatku mengenakan toga!”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya