Wahai, tukang parkir yang saya hormati. Perkenalkan, saya anak muda yang masih kudu berfikir keras uang bulanan cukup apa nggak sampe tanggal tua.

Surat buat orang parkir

Surat buat orang parkir via unik-ituindah.blogspot.com

Mungkin bapak kaget dan heran,

Tumben-tumbenan ada yang nulis surat buat saya.

Advertisement

Agar bapak gak makin heran, perkenalkan saya anak muda yang rajin ke ATM tempat bapak jaga tiap awal bulan dengan wajah ceria. Soalnya kiriman uang bulanan baru saja datang. Kalau sudah tanggal tua, wajah saya memang agak suram. Maklum nominal uang yang tertera bikin saya bingung mau makan apa.

Saat awal-awal gajian, saya juga semakin sering ketemu bapak di berbagai tempat. Ya, tahulah gaya hidup anak zaman sekarang, gak bisa kalau cuma diem dikamar.

Tapi bapak seneng ‘kan? Semakin banyak orang yang keluar, maka pemasukan bulanan yang bapak dapatkan juga semakin banyak. Syukurlah.

Menjadi penjaga parkir bukanlah pekerjaan yang hina. Profesi bapak yang kelihatannya gampang sesungguhnya menyimpan tanggung jawab yang besar.

Surat buat tukang parkir

Surat buat tukang parkir via abekabek.blogspot.com

Advertisement

Menjadi tukang parkir tentu bukan pekerjaan gampang. Pasalnya tugas tukang parkir itu berat, bahkan tanggung jawabnya lebih besar dari pegawai bank. Bagaimana gak? Bapak kudu mengatur semua kendaraan dengan benar meski belum pernah ikut pelatihan. Bapak harus menjaga kendaraan-kendaraan mahal yang kalau dijual pasti bisa untuk bikin rumah. Bapak mesti memastikan kendaraan tetap baik-baik saja tanpa ada “luka” meski berada di ruangan terbuka.

Kalau ada yang bilang menjadi tukang parkir adalah pekerjaan yang hina, itu adalah dusta. Mereka gak tahu kalau sebenarnya bapak amat berharga dan bermanfaat untuk kebaikan banyak orang.

Tapi ibarat kata, terkadang bapak itu mirip mantan saya. Sukanya datang tiba-tiba bikin aku gundah gulana.

Surat buat tukang parkir

Surat buat tukang parkir via kaskushootthreads.blogspot.com

Tapi tahukah? Bapak itu sering mengingatkan saya pada mantan saya. Bukan karena wajah bapak mirip dia atau gesturnya sama. Kemunculan bapak yang tiba-tiba dari balik keremangan malam bikin saja jadi kaget, resah dan gundah gulana.

Pas saya tiba di gerai ATM misalnya, gak ada siapa-siapa di areal parkirnya. Saya berusaha parkir sendiri, cari tempat kosong sendiri, geser-geser motor yang melintang, memposisikan kendaraan sendiri tanpa bantuan siapa-siapa. Lalu saya ngecek saldo ATM yang ternyata nominal masih belum beranjak dari 5 digit. Jangankan buat belanja, buat ditarik aja gak bisa (akibat ‘kebijakan’ bank). Kalaupun bisa paling cuma buat bensin atau fotocopy tugas 500 rupiah atau makan mie rebus. Pas saya sudah mau pergi dan tinggal tancap gas, eh bapak nongol dibalik belakang bangunan, sambil bilang,

Bayar parkir dulu Mba/Mas

Pengan rasanya saya bertanya,

Kok ada tukang parkir? Dari tadi bapak kemana saja, udah mau pergi malah baru datang cuma minta uang pula.

Lalu apa bedanya dengan mantan saya yang tiba-tiba minta balikan saat saya sudah move on darinya? Duh, resah hati saya Pak.

Bukan berarti saya gak mau mengeluarkan seribu atau dua ribu rupiah untuk keamanan. Tapi engkau yang datang nagih uang parkiran saat saya sudah mau jalan, bikin saya jadi meradang.

Surat buat tukang parkir

Surat buat tukang parkir via ilhamsyahzp.blogspot.com

Uang seribu, dua ribu, atau lima ribu rupiah tentu bukan jumlah yang besar. Harga kendaraan yang beratus-ratus kali lipat dari uang jasa keamanan, tentu ini bisa dibilang sedikit. Sungguh saya tak berat hati untuk mengeluarkannya. Karena toh ini juga buat kebaikan saya sendiri.

Tapi bapak yang cuma semangat saat saya sudah mau pergi untuk cuma menagih uang parkiran, bikin saya gregetan. Sedangkan bapak cuma duduk santai dipojokan, membiarkan saya sendiri kesusahan, menawarkan bantuan saja tidak, cukup bikin saya agak meradang. Pengen marah tapi gak tega, mau ngasih uang itu kok mirip gaji buta. Pengen melarikan diri, nanti dikira maling. Gimana dong? Serba salah saya jadinya~

Jujur, saya juga kadang tak sampai hati mau meluapkan amarah pada bapak ketika helm dan kendaraan saya jadi lecet tanpa penjagaan yang baik. Tapi, ah sudahlah~

Surat buat tukang parkir

Surat buat tukang parkir

Sebagai anak muda yang diajari Pancasila, tentu saya tak diperbolehkan memarahi orang yang lebih tua. Lantas, bisakah bapak bayangkan perasaan saya ketika kendaraan yang masih belum lunas atau helm hadiah ranking 1 saya lecet tanpa penjagaan? Saya cuma pengen nyemil batu krikil.

Kadang saya bertanya-tanya,

Bapak niat gak sih kerja jaga parkir?

Mungkin bapak gak tahu, kendaraan saya itu masih kreditan, didapat dengan perjuangan. Biaya perawatan juga masih sering minta sama orangtua, itupun seingat saya sudah 8 bulan yang lalu. Bahan bakarnya pake premium, bukan pertamax.

Saya gak berharap balasan berlebih dari uang seribu rupiah, tapi sikap bapak yang baik dan bertanggung jawab bukankah lebih baik bagi kita berdua?

Surat buat tukang parkir

Surat buat tukang parkir via www.republika.co.id

Tentu saya gak boleh berharap dan menuntut banyak hal sama bapak. Uang kecil yang tak seberapa itu juga tak sebanding jika tuntutan saya besar. Tapi aku cuma ingin satu, satu aja Pak,

Bekerjalah dengan bertanggung jawab.

Saya gak menyuruh bapak ngelap kaca jendela kendaraan saya yang banyak debunya. Saya gak menyuruh bapak untuk benerin jok motor saya yang sobek. Saya juga gak mau mengomentari perihal biaya parkir yang tiba-tiba naik saat musim-musim tertentu. Saya juga tak berencana menuntut bapak ketika kendaraan saya rusak. Toh, orangtua saya masih bisa dimintai uang jajan.

Dan saya cuma ingin bapak melaksanakan tugas sebagai juru parkir secara bertanggung jawab.

Dengan begitu, bukankah kita jadi sama-sama untung? Pekerjaan bapak lebih berkah, saya juga lebih ikhlas.

Setuju Pak?

Setuju dong.

Dari,

Pengguna jalan yang sering di-PHP-in tukang parkir

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya