Selalu ada satu chapter dalam perjalanan hati yang membuat kita merenung lama dan bertanya. Biasanya perjalanan ini melibatkan kejatuhan yang amat sangat, porsi percaya akan masa depan yang besar — kemudian diakhiri dengan sakit hati yang meremukkan dan membuat kita lupa akan arti kata tegar. Cinta yang sejatuh-jatuhnya, cinta yang membuta kita amnesia terhadap perasaan bahagia: cinta yang membentuk kita jadi manusia dewasa.

Sampai detik ini kamu jelas tidak mengharapkannya kembali. Jalan hidup kalian memang sudah tidak bersisian lagi. Namun cinta macam ini tetap saja meninggalkan ganjalan dalam hati. Kalian sama-sama pergi, tanpa pernah ada ikrar untuk mengakhiri.

Advertisement

Tidak mudah memahami kenapa ada beberapa cinta yang tak pernah bisa selesai. Tapi hidup terus berjalan, dan satu-satunya pilihan yang tersisa adalah berdamai.

Ada rasa ingin protes kenapa perasaan ini mesti dipertemukan dengan kata ‘hampir.’ Meski sudah sakit berkali-kali ketiadaan stempel tamat membuatmu sulit menyingkir

Ketiadaan stempel tamat membuatmu sulit menyingkir

Ketiadaan stempel tamat membuatmu sulit menyingkir via bridalmusings.com

Setiap kali orang bertanya tentang hubungan kalian (dalam konteks lampau, tentunya) selalu tertangkap perubahan mimik di wajahmu yang berusaha tampak biasa. Senyum di wajahmu tetap ada, namun sinar di matamu hilang sementara. Pembicaraan tentang dia selalu membawa pikiranmu ke kilas balik panjang yang membuka kembali luka perih di dada.

Dia adalah kehampiran yang sampai hari ini membuatmu terus bertanya.

Advertisement

Kalian pernah hampir bahagia. Hampir membangun masa depan bersama. Hampir menjadi tempat pulang yang nyaman di akhir hari panjang. Kalian hampir menyelesaikan satu chapter yang menasbihkan diri sebagai orang dewasa. Sayang, perjalanan ini tidak pernah mencapai titik tamatnya.

Gabungan kecewa, sakit, buramnya masa depan, sampai usaha menjaga perasaan orang-orang sekitar membuatmu memilih pergi dalam diam. Dia pun lebih memilih mendekapmu erat dalam bungkam. Kalian berpisah. Dalam sepi. Namun tetap lebam.

Bukan cuma sekali kamu bertanya. Seandainya kata FIN ada di akhir chapter yang dirajut bersama — akankah langkah lebih ringan terasa?

Seandainya ada kata FIN, mungkinkah akan lebih mudah rasanya

Seandainya ada kata FIN, mungkinkah akan lebih mudah rasanya via bridalmusings.com

Seandainya dulu kalian duduk dan bicara empat mata sebelum mengakhiri ke-kita-an yang dipunya. Seandainya kamu sempat mengeluarkan semua ganjalan dan kekecewaan yang tersimpan dalam dada. Seandainya dia sempat punya kesempatan menjelaskan semua tindakan yang membuatmu sakit berkepanjangan, mungkinkah langkahmu saat ini terasa lebih ringan?

Rasionalnya, keikhlasan jelas lebih mudah datang setelah semua masalah menemui jalan terang. Kerelaan melepas ikatan tak perlu susah didatangkan jika semua intrik diselesaikan, dirunut sumbernya dalam satu rentang. Tapi tidak dalam kisahmu ini. Pertanyaan “Kenapa?”; “Kok Bisa?” tidak lagi bijak ditanyakan. Bahkan sesederhana kata, “Sudah ya diikhlaskan.” tidak lagi punya taji untuk muncul di hadapan.

Kali ini kalian belajar satu  hal besar. Hubungan yang dimulai dengan baik-baik ternyata tidak selalu berakhir dengan sama manisnya. Barangkali inilah seninya jadi orang dewasa.

Beberapa cinta memang tidak hadir untuk menemui kata selesai. Barangkali ini cara Tuhan bercanda dan mengajari kita kata ‘Damai’

...barangkali ini cara Tuhan mengajarkan kita untuk berdamai

…barangkali ini cara Tuhan mengajarkan kita untuk berdamai via bridalmusings.com

Seperti cokelat yang bisa dibagi ke 2 bagian dengan mudah, ikatan yang tak pernah selesai memang segampang itu mencipta payah. Ikatan yang menggantung jelas tak nyaman. Belum lagi kalau tak semudah itu mengusir kuatnya perasaan. Kamu mesti berdamai dengan berbagai pertanyaan, membiarkan diri sendiri tenggelam sementara dalam kegalauan. Sebelum bisa kembali bangkit dan berjalan.

Tapi bukankah hidup dan perasaan bukan rel kereta yang selalu ada ujungnya? Termasuk juga dalam urusan cinta. Beberapa cinta yang tak selesai barangkali jadi cara Tuhan untuk sedikit bercanda dan mengajari kita.

Ada beberapa perasaan yang memang tak pernah tamat. Berdamai dengannya jadi satu-satunya cara agar kamu tetap jadi pejuang yang terhormat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya