Datangnya cinta itu sama seperti undian berhadiah. Nggak bisa diprediksi, dan kadang nggak bisa dihindari. Ada yang jatuh cinta karena terbiasa. Ada pula yang karena sebuah kejadian kecil, lantas debar-debar di dada itu muncul begitu saja. Bahkan soal cinta, terkadang kita harus melupakan kriteria. Sehingga pertanyaan “Kok bisa sih kamu cinta sama orang kayak gitu?” itu muncul, sebab persoalan jatuh cinta sulit sekali dijelaskan dengan logika.

Ada banyak cinta yang seharusnya tidak ada. Misalnya jatuh cinta pada pacar orang, atau siapa pun yang rasanya mustahil untuk dimiliki. Kalau bisa memilih, mungkin kamu juga nggak ingin punya perasaan padanya. Barangkali benar jatuh cinta itu bukan pilihan. Namun, apa yang kamu lakukan atas perasaan itu tentu semuanya keputusanmu. Misalnya beberapa hal ini, kamu bisa menentukannya sendiri.

1. Rasa cinta itu kadang nggak bisa dihindari. Tapi mengungkapkan atau menyimpannya dalam hati, kamu yang bisa tentukan sendiri

setelah jatuh cinta, lalu apa?/Paul Theodor Oja via www.pexels.com

Advertisement

Ketika cinta itu datang, seringnya kamu menyadari dirimu sudah terjebak di sana. Kamu sudah blingsatan saat berdekatan dengannya. Kamu sudah memendam kangen kalau sehari saja nggak melihat dia. Dan kamu mulai merasa nyut-nyutan di hati saat melihatnya bersama orang lain. Rasa cinta itu mungkin sulit dihindari, tapi apakah kamu akan mengungkapkan perasaan itu atau menyimpannya dalam hati sampai mati, kamu sendiri yang menentukannya.

2. Meski cintamu padanya sangat besar, ada batas-batas yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan. Jadi bucin atau tidak itu pilihan

agar tidak bucin/sanivpetro via www.freepik.com

“Kok kamu mau-maunya sih ngelakuin ini demi dia?”
“Ya gimana lagi, cinta kok!”

Rasa cinta sering dijadikan alasan untuk melakukan segalanya. Misalnya mengubah penampilan atau merelakan berbagai pengorbanan demi membuatnya bahagia. Padahal meski mencintai seseorang, kamu harus tetap menerapkan batas-batas lo. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri. Dan soal ini, kamu bisa menentukannya sendiri. Jadi bucin atau tidak, itu keputusan dan sebenar-benarnya perkara pilihan.

3. Hubungan yang toxic bisa diakhiri, meski rasanya kamu cinta setengah mati. Biarkan logikamu bermain di sini

toxic relationship/Jen Palmer via unsplash.com

Advertisement

Sudah disakiti berkali-kali, namun memilih bertahan karena tak bisa mengenyahkan cinta yang terlalu besar. Mungkin juga ada harapan bisa mengubah pasangan dengan bekal cinta yang tanpa pamrih. Namun, cinta nggak bisa dijadikan alasan untuk bertahan kalau hubungan itu hanya menyakitkan dan menghalangimu berkembang. Di sini kamu yang bisa memutuskannya. Tetap menjalani hubungan yang kacau atau melepaskan diri dan mencari kemungkinan yang lebih baik di luar sana.

4. Saat jatuh cinta, menyenangkan si dia adalah prioritas. Tapi nggak semua permintaannya harus dilakukan bukan?

nggak semua harus diikuti/KML via www.pexels.com

Mencintai seseorang artinya membuka jalan baru membahagiakan diri sendiri dengan cara membahagiakannya. Membuat si dia tersenyum dan berbahagia mungkin akan menjadi candu. Namun, bukankah kamu tetap berhak menentukan sendiri hidupmu? Termasuk untuk menuruti semua permintaannya atau tidak. Saat dia sudah memintamu mengubah penampilan, meninggalkan teman-temanmu, menjadikannya prioritas nomor satu, atau mengubur mimpimu yang tak disukainya, kamu punya pilihan untuk menolak kok.

5. Perkara menjadikan dia prioritas ke berapa juga nggak begitu saja ada kok. Kamu yang tahu mana yang harus didahulukan dibanding yang lainnya

prioritas berbeda-beda/pressfoto via www.freepik.com

Cinta dan hubungan hanyalah salah satu aspek dalam hidup. Setiap orang pasti memiliki urusan dan tujuan hidup sendiri-sendiri. Seperti kamu yang punya pekerjaan, mimpi, dan rencana-rencana terkait masa depan. Kamu nggak wajib menyingkirkan hal-hal itu dari prioritasmu hanya karena kamu jatuh cinta kepada seseorang. Kompromi itu perlu, namun bukan sesuatu yang tak bisa dielak ataupun dipilih. Ingat, bahwa kamu selalu punya pilihan untuk menyusun prioritasmu sendiri.

6. Begitu juga saat patah hati melanda. Kamu bisa memilih untuk melupakannya dengan hal-hal positif atau memelihara luka dengan menggenggam konsep “seandainya”

Move on/Andrew Le via unsplash.com

“Kenapa sih kamu susah banget move on??”
“Aku juga mau move on! Tapi ya gimana, aku telanjur cinta…”

Seringkali cinta juga dijadikan alasan untuk nggak move on. Karena dalam hatimu masih terbersit banyak kata seandainya. Seandainya kamu nggak begini, seandainya kamu nggak begiu, seandainya kalian nggak menyerah secepat ini, seandainya kalian balikan. Di sini pun, bukan cinta yang menjadi penyebab kamu belum bisa move on. Namun, kamu sendiri yang membiarkan dirimu susah move on. Ya memang move on bukan perkara gampang, tetapi, bukankah asal ada niat pasti ada jalan?

Jatuh cinta memang seperti jebakan. Kamu tak akan bisa menebak kapan, tapi saat tersadar, kamu sudah terjerat di dalamnya. Namanya soal perasaan, bagaimana cara mengaturnya? Tapi bukan berarti kamu benar-benar tak punya kendali kok. Jika jatuh cinta itu bukan pilihan, apa yang kamu lakukan setelahnya sepenuhnya kamu yang bisa tentukan.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya