5 Alasan Sekali Waktu Kamu Boleh Berhenti Berjuang. Daripada Meneruskan Lantas Terkekang

Berhenti berjuang

Sejak kecil kita diajarkan untuk selalu memperjuangkan sesuatu. Nasihat orangtua itu terpatri dalam-dalam. Sadar atau enggak, nasihat itu kemudian berubah menjadi sikap hidup. Bisa terlihat dari caramu memperjuangkan sesuatu; kalau belum dapat belum berhenti.

Advertisement

Sikap pantang menyerah itu penting dimiliki setiap orang. Sebab sikap itulah yang akan membawamu meraih cita-cita. Sayangnya hidup ini nggak seperti FTV yang ceritanya selalu mulus. Perjuangan nggak selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Ya, sekali waktu kita perlu untuk berhenti berjuang. Terlebih dalam urusan asmara.

1. Adakalanya kita mesti berpasrah dengan keadaan dan menerima semuanya. Kamu cinta dia tapi dianya nggak cinta

Yasudah mau gimana lagi via www.unsplash.com

Nggak ada yang pasti saat ngomongin soal hati. Sebab perasaan yang terkandung di dalamnya susah untuk diprediksi. Kamu boleh saja memperjuangkan orang yang kamu cinta, tapi mesti tahu kapan harus berhenti. Cinta nggak bisa sepihak. Ketika kamu cinta sama dia namun dianya enggak. Kalau sudah begini ada baiknya kamu berhenti. Melanjutkan perjuangan bisa membuat dia ilfeel.

2. Perjuangan nggak selalu membuahkan. Adakalanya kita harus menerima bahwa dia sudah jadi milik orang lain

Berhenti, dia sudah jadi milik orang lain via www.unsplash.com

Berjuang untuk mendapatkan cinta itu perbuatan terpuji. Setiap orang berhak dan perlu melakukannya dalam hidup. Namun adakalanya kita perlu berhenti berjuang. Kita mesti menerima takdir bahwa dia sudah jadi milik orang lain. Dalam kondisi ini sebaiknya kamu mundur. Terus berjuang bisa mengganggu hubungan dia dengan kekasih. Biarkan dia bahagia, bukankah itu hakikat cinta?

3. Ketidakmampuan membedakan mana cinta dan mana obsesi kerap mencederai perjuangan cinta itu sendiri. Pastikan dulu sebelum berjuang

Pastikan dulu via www.unsplash.com

Nggak sedikit orang tega meninggalkan seseorang yang sudah membalas cintanya. Dulu dia yang memohon untuk jadian, namun ketika benar kejadian, dianya malah meninggalkan. Perlakuan semacam ini boleh jadi imbas dari ketidakmampuan orang membedakan cinta dan obsesi. Yang dia rasakan ketika berjuang adalah obsesi. Cinta sejati nggak pernah meninggalkan.

Cinta perihal hati, nggak bisa main-main!

4. Jika meneruskan cinta bikin kamu dan dia terluka, maka sebaiknya sudahi saja

Kita mesti berpisah via www.unsplash.com

Pelaminan adalah tujuan cinta orang pacaran. Untuk bisa sampai ke sana banyak hal yang mesti dilalui. Salah satunya perihal kecocokan. Akan ada suatu masa di mana hubunganmu nggak bisa dilanjutkan. Kamu dan dia memang saling cinta tapi dalam perjalanannya begitu banyak pertengkaran yang lahir. Perasaan saling suka nyata nggak selalu berhasil membawa pasangan sampai ke pelaminan. Kita mesti menerima.

Advertisement

5. Kita mesti menerima kalau dalam sebuah hubungan saling cinta aja belum cukup. Restu orangtua juga patut dipandang

Restu orangtua juga penting via www.unsplash.com

Rintangan yang dihadapi pejuang cinta begitu banyak. Raja terakhirnya adalah restu orangtua. Nggak semua orang beruntung mendapatkannya. Ketika masing-masing sudah saling cocok tapi orangtua nggak kunjung memberi restu, meneruskan hubungan agaknya berat sekali. Akan ada omongan sana-sini yang menyakiti hati. Akan ada perseteruan orangtua dan anak yang menyiksa batin. Daripada saling melukai, lebih baik berhenti. Sedih memang, tapi mau gimana lagi. Kultur timur memang begitu adanya.

Nyatanya hidup nggak semudah yang dibayangkan. Adakalanya kita mesti menerima kekalahan. Nggak semua yang kita harapkan dalam hidup bisa kita genggam. Inilah hidup, penuh kejutan dan ujian untuk manusia. Tidak, perjuangan kita nggak sia-sia. Pasti ada pelajaran yang bisa kita petik dari sana. Kita hanya nggak beruntung saja.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Fiksionis senin-kamis. Pembaca di kamar mandi.

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.

CLOSE