Artikel ini dipersembahkan oleh Samsung Galaxy E. Ponsel yang membuat jarak tak lagi jadi masalah bagi urusan cinta.

Hari yang biasa. Seperti sebelum-sebelumnya, sore itu aku duduk santai bersama teman selepas hari yang panjang. Menenggak minuman dingin sembari bertukar candaan ringan. Di tengah kelakar yang menghangatkan hati, mataku awas melirik ke ponsel yang tergeletak di sisi kiri. Samsung Galaxy E kesayanganku, yang selalu jadi sarana terbaikku untuk menghubungimu.

Kita memang bukan pasangan biasanya. Bebas bertemu sesuka hati, bisa saling memeluk setiap rindu mendatangi adalah kemewahan dalam hubungan yang sedang kita jalani. Tapi kali ini ijinkan aku jadi orang keras kepala yang hendak berjuang sekuat tenaga. Sebentar lagi saja, sampai jarak akhirnya berpihak pada kita — maukah kau tetap berusaha?

Percayalah, setelah sekian lama kau adalah orang pertama yang membuatku mau berdamai dengan jarak yang nyata.

kaulah yang membuatku mampu

kaulah yang membuatku mampu via www.axioo.com

Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sedari lama, sewaktu kita masih berada dalam satu kota. Ketika jarak rumahmu dan rumahku bisa ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Namun kemudian aku enggan melontarkan, niat ini pun segera kupendam. Aku tak ingin kau mengira bahwa aku merupakan sosok yang gemar melempar kata manis demi menjerat hati para gadis.

Kini, sepertinya saat yang tepat untukku menuturkan sebuah pengakuan. Dari sekian manusia yang ada, hanya denganmulah aku bersedia bertahan dalam panjangnya jarak yang nyata. Aku mengizinkan jarak menyelinap masuk dan berdiam di antara kita.

Kamu mengubah semua sudut pandangku soal ketidakpastian. Baru kamu yang membuatku tidak gentar terhadap jarak dan jarangnya pertemuan. Jeda justru kulihat sebagai jarak untuk sedikit bernafas lega.

Kita memang berbeda kota dan tak setiap saat bisa berjumpa, namun bertukar kabar dan suara setiap hari sudah cukup membuat rasa cinta ini tetap menyala.

rasa cinta selalu menyala

rasa cinta selalu menyala via www.axioo.com

Kebiasaan kita setelah menjalani jalinan jarak jauh memang berubah banyak. Dulu, kita selalu meluangkan waktu untuk bertemu saban hari. Di kala kesukaran hidup mendera, selalu ada usapan lembut di punggung yang kurasa. Ada tanganmu yang tersedia untuk digenggam, memantapkan diriku di segala keadaan. Di akhir hari pun selalu ada dekapan dan kecupan hangat yang tak lupa kau sediakan.

Kini, aku harus berpuas diri dengan bertukar kabar melalui ponsel yang kupunya. Namun kurasa tak apa, aku selalu menikmati setiap waktu yang kuhabiskan untuk mendengar suara dan membaca pesan manis yang kau kirimkan. Toh, berkat layar lebar dari Samsung Galaxy E milikku, aku selalu bisa menikmati foto yang kau kirim tiap waktu. Membuat jarak tak terasa berarti lagi, karena selalu bisa kurasakan pendampinganmu yang ada di sisi.

Bila rindu ini sudah mencapai ambang batasnya dan kau sedang sibuk-sibuknya, aku pun tetap bisa membayar lunas rindu yang ada. Kugunakan waktu luangku untuk menikmati foto jernih yang ada di galeri ponselku. Puluhan foto selfie yang kita ambil dengan kamera depan 5 MP milikku terlihat sangat nyata. Membuatku kembali dilumat kenangan lama ketika kita liburan berdua.

Asal kau tahu, tak ada bibirmu yang bisa kutemukan aku sudah cukup puas dengan pesan suara dan foto yang selalu kau kirimkan.

Aku yang harus puas melihat wajahmu lewat layar ponsel saja memang sering dilumat rasa iri pada para kawan yang bebas menggandeng tangan pasangannya. Namun tak mengapa, toh dengan begini aku justru meyakini kamu memanglah orang yang aku cinta.

kamu memanglah yang aku cinta

kamu memanglah yang aku cinta via www.axioo.com

“Sayang, lagi ngapain?”

“Ini lagi tiduran aja sayang. Kamu lagi ngapain?”

“Lagi kangen. Kapan sih kita bisa ketemu?”
“Iya, sama aku juga kangen. Sabar ya, sebentar lagi liburan panjang. Kita bisa punya banyak waktu buat ketemu.”

Aku memang tak bisa membohongi diri. Rasa iri dan cemburu sering kutemukan sedang menggelayuti diriku dengan manja. Hati ini pun sedikit menghangat ketika melihat kawanku yang memegang mesra tangan pasangannya. Terkadang keluhan tak sengaja terlontar mengingat kondisiku yang harus puas menggenggam ponsel demi ber-video call denganmu. Menjalani ritual wajib tiap malam dan akhir pekan.

Keluhan yang tertambat di lidah pun akhirnya teruraikan ketika kusadari parasmu yang memenuhi kejernihan layar HD Super Amoled selalu sanggup menenangkan. Aku selalu bisa kembali merasa girang dan merasakan dirimu yang ada di pelukan. Jika sudah begini, pantaskah bila aku terus menyalahkan jarak serta keadaan?

Kini, hatiku tak lagi berserak karena jarak. Aku percaya kamu memang layak diperjuangkan.

Aku sungguh meyakini jarak akan berpihak pada kita. Suatu hari rasa ini akan terbayar sepenuhnya.

Suatu hari jarak akan berpihak pada kita

Suatu hari jarak akan berpihak pada kita via www.axioo.com

Sungguh, percayalah suatu hari rindu ini akan terbayar sepenuhnya. Jarak akan melihat kesabaran yang kita pupuk berdua. Ia pun akan menghargai segala niat dan jerih payah yang sudah kita peras bersama. Melihat keteguhan kita, aku berani bertaruh bahwa sebentar lagi dia pasti akan meluluhkan diri dan berpihak pada kita.

Aku ingin kau tahu bahwa berhenti berusaha tak pernah ada di kamus hidupku, maukah kau juga melakukan hal yang sama?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya