Hei… Selamat ulang tahun.

Rasanya aneh ketika aku tidak lagi merencanakan sebuah kejutan manis untukmu, dan aku juga tidak menyibukkan diri dengan pemikiran mengenai hadiah apa yang hendak kuberikan untukmu. Aku masih ingat dengan jelas ketika kita berdua melalui hari ulang tahunmu dengan begitu romantis layaknya pasangan lainnya. Namun tahun ini, kurasa itu akan terasa sama saja seperti 364 hari lainnya dalam satu tahun ini.

Advertisement

Kali ini, kuputuskan untuk menghabiskan satu hari ulang tahunmu untuk menulis. Menulis tentangmu, tentang kita, tentang hubungan yang berjalan jauh dari pengharapan.

Apakah kamu masih ingat ketika matahari terbit dengan seribu harapan namun tenggelam dengan sejuta penyesalan? Apakah kamu masih ingat hari ketika kamu menghilang dari hadapanku yang sampai saat ini masih menunggu?

Aku yakin kamu masih mengingatnya, karena hari-hari yang kita lalui akan tetap bersamamu selamanya. Dan aku tahu kamu masih sering mencemaskan keadaanku dengan menanyakannya kepada orang-orang terdekatku, yang juga orang terdekatmu. Perlu kamu ketahui bahwa keadaanku di sini amat sangat sempurna, hanya saja kadang hatiku masih sering bertanya mengapa dengan cepatnya kamu bertemu dengan seseorang yang baru dan dengan mudahnya kamu melupakanku.

Jujur, sangat mudah bagiku untuk tak menyukai gadis barumu. Namun kurasa itu bukan hakku untuk mengganggu.

Jika bersamanya kau temukan kebahagiaan, mungkin sudah saatnya aku kau lupakan...

Jika bersamanya kau temukan kebahagiaan, mungkin sudah saatnya aku kau lupakan… via tumblr.com

Advertisement

Sangat mudah untuk menaruh suatu dugaan dan sangkaan yang tidak benar terhadap seseorang yang kamu kenal, dan penghakiman yang begitu cepat tentang gadis barumu itu mampu kulakukan untuk merebutmu. Namun melihatmu bahagia bersamanya, rasanya itu bukan menjadi hakku untuk mengganggu.

Bukan karena aku tak menyukainya, tidak. Hanya saja aku tidak suka ketika kamu lebih dulu memilihnya sebagai pengganti sedangkan aku disini masih tetap begini, terkungkung dalam perasaan yang penuh emosi.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah kamu lupa seberapa terlukanya aku sehingga tidak memberikan waktu yang cukup untuk menyembuhkannya.

Kuharap kau tidak lupa bahwa aku juga terluka...

Kuharap kau tidak lupa bahwa aku juga terluka… via favim.com

Semua orang berkata bahwa aku tak boleh membiarkan luka terbuka telalu lama. Namun kenyataannya, semakin aku mencoba untuk menunjukkan pada dunia bahwa aku baik-baik saja, maka semakin dalam pula aku akan terbenam. Kadang aku bertanya-tanya, apakah kamu lupa seberapa terlukanya aku sehingga tidak memberikan waktu yang cukup bagiku untuk mencoba sembuh. Melihatmu bersamanya hanya akan semakin membuat luka bertambah parah. Dan setelah aku sadar betapa susahnya untuk berpura-pura, aku juga sadar bahwa selama ini aku hanya memperburuk keadaan dengan terus-terusan mengeluh tentangmu dan gadis barumu.

Tidak ada keajaiban yang akan membuatmu berhenti mencintai dalam satu malam, karena hidup tidak pernah berjalan seperti itu. Hidup hanya butuh waktu, dan sesederhana itu.

Salah satu penyebab luka makin menyebar, karena dulu aku percaya bahwa kita akan saling melengkapi, bukan saling menyakiti.

Kupikir kita akan saling melengkapi, namun kini kita terus saling menyakiti...

Kupikir kita akan saling melengkapi, namun kini kita terus saling menyakiti…

Bersamamu memang segalanya terasa indah, bahkan dengan mantapnya kau yakinkan hatiku bahwa kita akan bersama selamanya. Tanpa melihat segala konsekuensi yang ada, aku pun menutup mata dan membiarkan diriku jatuh ke pelukan seseorang yang bahkan tak akan pernah mengetahui apa yang terjadi di masa depan.

Dan itulah kesalahanku yang kini masih sering menghantui, aku terlalu percaya bahwa kita akan saling melengkapi satu sama lain, bukan saling menyakiti seperti ini. Seharusnya aku tetap pada fakta bahwa kita berdua mungkin saja menemui persimpangan dan memutuskan untuk tak lagi bersama.

Sebenarnya aku hanya masih enggan untuk menghadapi fakta bahwa aku bukanlah yang terbaik bagimu. Dan itu sedikit memaksaku untuk merelakan kepergianmu.

Mau tak mau aku harus melepasmu...

Mau tak mau aku harus melepasmu… via pixshark.com

Setelah membaca separuh suratku, apa kau masih mau bertanya bagaimana keadaanku?

Apakah aku patah hati? Ya.

Namun patah hati ini tidak akan pernah aku rutuki. Karena keadaanku akan jauh lebih baik daripada ini. Jika mengingatmu yang dulu pernah menggurat luka dan kini telah bahagia bersamanya, aku semakin percaya bahwa hubungan kita tidak lain tidak bukan hanyalah sebagai sebuah pelajaran.

Kamu tahu kan? Kadang kita bertemu dengan seseorang yang salah sebelum menemukan tambatan hati sebenarnya. Maka dengan ini aku yakinkan diriku bahwa aku akan sanggup untuk mencintai lagi, lebih daripada semua ini. Aku memang bukanlah yang terbaik buatmu, namun kamu akan selalu menjadi sebuah bagian terbaik bagiku untuk terus melaju.

Untuk kamu yang kini mengisi hatinya; terimakasih untuk memberiku alasan untuk memulai segalanya dari awal dan untuk membebaskanku dari hubungan yang hanya akan membuat luka.

Terima kasih...

Terima kasih… via pixshark.com

Terima kasih karena datang ke dalam hidupku, hidupnya yang kini juga hidupmu. Jika saja kamu tak pernah datang, aku akan terus terperangkap dalam pikiran bahwa aku dan ia akan bersama selamanya. Karenamu, aku sadar bahwa diriku lebih berharga dari sebuah hubungan yang akan membuat luka jika terus berjalan.

Pesanku untuk kalian berdua,

Nikmatilah hidup dengan sebaik-baik hidup, cintai diri kalian. Karena ketika kalian mencintai diri sendiri, cinta lainnya akan datang menghampiri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya