Kabar mengejutkan datang dari restoran cepat saji asal Amerika, McDonald’s. Hari minggu kemarin, McD baru saja memecat sang CEO, Steve Easterbrook. Kabar ini cukup mengejutkan, karena selama ini Easterbrook tergolong berprestasi. Sejak menjabat sebagai CEO McD tahun 2015 lalu, Easterbrook berhasil menaikkan harga saham McD hingga 96%. Dikutip dari The New York Times, pemecatan ini dikarenakan Steve Easterbrook terlibat hubungan konsensual dengan salah seorang karyawan.

Steve Easterbrook dianggap menciderai kebijakan perusahaan yang memang melarang hubungan asmara antar karyawan, terutama yang terganjal hierarki kekuasaan. Melalui email perpisahan, Easterbrook mengakui kebenaran hubungan tersebut dan mengapresiasi keputusan perusahaan.

Advertisement

“Berdasarkan nilai-nilai perusahaan, saya setuju dengan direksi bahwa ini saatnya bagi saya untuk pergi,” ujarnya, seperti yang dikutip dari BBC.

Kasus ini membuktikan bahwa office romance ternyata nggak seindah di drakor What’s Wrong with Secretary Kim atau Her Secret Life, ya. Di sana, kita melihat bahwa benih-benih cinta yang muncul di kantor itu super romantis. Kita jadi berandai-andai, bagaimana rasanya pacaran dengan bos sendiri. Pasti ngantor nggak lagi berat dan membosankan. Tapi sebenarnya pacaran dengan bos itu yeay or nay sih?

1. Ada banyak alasan di balik pelarangan office relationship, yang melibatkan hierarki jabatan. Salah satunya adalah penilaian yang jadi nggak objektif

rentan pelecehan seksual via www.kshb.com

Salah satu alasannya adalah bahwa hubungan yang melibatkan emosi dan perasaan ini dikhawatirkan bakal mempengaruhi keputusan-keputusan penting, termasuk penilaian kerja. Padahal demi kepentingan perusahaan, seorang atasan harus menilai secara objektif kinerja bawahannya. Masuk akal sih. Kalau sudah sayang, selalu ada pemakluman meski sikap si doi kurang sesuai dengan harapan, bukan?

Advertisement

Selain itu, hubungan ini rawan sekali pelecehan seksual di dunia kerja. Sebab, gap kekuasaan menempatkan salah satu di posisi yang lebih lemah. Sehingga bisa saja hubungan tersebut dilandasi oleh pemaksaan, karena takut konsekuensinya membahayakan posisi di perusahaan.

2. Di sisi karyawan juga bisa jadi sasaran empuk politik dan gosip kantor. Bisa saja ia dianggap mengencani atasan demi dilancarkan jenjang kariernya

dianggap memanfaatkan hubungan via stories.avvo.com

Sudah tahu ‘kan bahwa politik kantor itu kadang nggak kalah sikut-sikutan? Nah, di posisi anak buah, menjalin hubungan dengan atasan akan membuatmu jadi sasaran empuk gosip negatif. Mungkin kamu bakal dianggap sengaja memacari atasan supaya promosinya lebih cepat, gaji naik, nggak disuruh lembur, dan sebagainya. Yah, meskipun kamu bisa saja menampik itu semua, tapi mulut “warga” kan kadang nggak bisa dikendalikan.

3. Lantas posisimu jadi serba salah dan nggak enak. Berprestasi dianggap nepotisme, performa buruk dianggap memalukan

serba salah via www.freepik.com

Lain soal alasan pacaran, lain juga dengan performa kerja. Pacaran dengan atasan itu ibaratnya kursi panas. Mendadak kamu menjadi spotlight yang menyita perhatian. Saat performa kerjamu bagus,dan atasan (yang juga pacarmu) memberikan pujian atau apresiasi, semua orang akan menganggapnya nggak objektif. Sebaliknya, saat performamu menurun dan targetmu nggak tercapai, kamu akan dianggap malu-maluin. Pokoknya serba salah deh.

4. Kecemburuan juga bisa muncul dari rekan-rekan kerja lainnya. Sebab mudah berpikir bahwa kamu diperlakukan istimewa dan mendapatkan hal-hal yang tak bisa mereka dapatkan

Dicemburui teman via www.entrepreneur.com

Menjalin hubungan istimewa dengan atasan, akan membuatmu dianggap mendapat keistimewaan juga. Misalnya, kamu dianggap mendapat ilmu dan info dari atasan yang nggak bisa didapatkan oleh rekan-rekan kerjamu yang lain. Kecemburuan ini dengan sendirinya akan menciptakan jarak antara kamu dengan yang lain. Mungkin mereka juga nggak enak lagi kalau mau ngomongin atasan di hadapanmu. Jangan heran kalau hal ini membuatmu merasa sendirian di kantor. Habis, kamu dianggap “beda kasta” sih.

5. Meski bekerja di tempat yang membuat interaksi kalian lebih mudah, percayalah, rasa rikuh dan segan itu selalu ada bahkan untuk ngobrol lama di depan umum

Tetap rikuh berinteraksi di tempat umum (photo by Gerber Cana) via www.pexels.com

Enak ya kalau punya pacar teman sekantor? Kalian nggak perlu lagi repot-repot mencocokkan jadwal kencan, karena setiap hari sudah ketemuan. Tapi beda halnya bila pacarmu adalah bos. Dijamin deh, adegan-adegan manis dan mesra di TV itu nggak bisa bebas kamu lakukan. Saat kamu ngobrol lebih lama sedikit dengannya, atau mungkin makan siang bersama, yang lain akan mengawasi dan membicarakan. Ujung-ujungnya? Rikuh juga.

6. Nggak ada jaminan hierarki kekuasaan ini nggak terbawa sampai ke ranah hubungan. Jadi repot kan?

hierarki yang terbawa via www.manchestereveningnews.co.uk

Dunia kerja dan hubungan asmara sebenarnya dua hal yang jauh berbeda. Dunia kerja diatur dengan sistem hierarki berdasarkan posisi, sedangkan dalam hubungan asmara, semestinya relasinya setara. Namun, siapa yang menjamin kalau hierarki ini nggak terbawa sampai ke hubungan kalian? Mau nggak setuju, menolak sesuatu, atau apa pun yang kurang menyenangkan jadi segan karena bagaimanapun dia adalah atasan.

7. Di sisi yang lain, persamaan pekerjaan sehari-hari bisa jadi bahan diskusi dan obrolan yang berbobot. Kamu pun terpacu untuk mengembangkan diri

gampang memahami via finance.yahoo.com

Namun, di sisi lain, hal ini juga ada positifnya kok. Menggeluti bidang yang sama akan membuat kamu dan dia sama-sama nyambung ngobrol. Kalian pun akan lebih mudah memahami karena sama-sama mengerti apa yang dialami setiap hari. Jadi nggak ada curiga-curiga yang nggak perlu. Selain itu, hubungan itu juga bisa memacu untuk saling berusaha keras dan berprestasi. Entah si bos ataupun karyawan, pastinya sama-sama manusia biasa yang ingin terlihat “keren” di hadapan orang yang dicintainya, bukan?

Itu dia beberapa pertimbangan tentang menjalin hubungan dengan bos. Banyak sisi negatifnya, tapi ada juga sisi positifnya. Namun, perlu dipertimbangkan juga hal-hal lain seperti manajemen emosi sehingga bisa tetap profesional di kantor meski hubungan dengan dia sedang kurang enak. Pun bila nanti hubungan itu gagal, ada konsekuensi awkward-nya situasi di belakang ‘kan?

Jadi, menurutmu, yeay or nay?

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya