Memiliki pasangan bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, pasangan kita bisa menjadi orang yang paling kita cintai. Tapi tak menutup kemungkinan, dia bisa menjadi orang yang paling kita benci. Dia bisa menjadi orang yang paling menguatkan, namun bisa tiba-tiba berubah menjadi orang yang paling menginjak harga diri kita.

Tapi itulah yang namanya pasangan. Sesayang dan secinta apapun kita dengannya, kita harus menyediakan ruang kosong yang tersisa di hati. Karena kita juga masih perlu menghargai diri sendiri. Nantinya ketika dia memilih sementara menepi, setidaknya masih ada pegangan agar tak jatuh terjembab pada jurang penyesalan.

Sebaliknya saat sebenci apapun kita pada pasangan, tetap harus ada keikhlasan yang tersisa. Keikhlasan untuk menerima sifat dia yang sangat bertolak belakang dengan kita. Keikhlasan ini juga sebagai komitmen yang harus mati-matian kita pertahankan, mau tetap bertahan dan menerima kekurangan yang sudah mulai terlihat.

Meski berdua terlihat sempurna, bukan berarti kita dan pasangan adalah dua orang yang selalu sejalan. Perdebatan yang tak jarang terjadi adalah bukti bahwa pasangan memang harus saling kompromi

meski sempurna, tapi tak selalu sejalan via www.logancoleblog.com

Sebagian besar dari kita mungkin masih ingat, kapan pertama kali bertemu dengan sosoknya. Juga masih ingat bagaimana rasanya pertama kali dada berdesir aneh saat menjabat tangannya. Saling bertukar nama, lalu cerita. Waktu demi waktu, makin banyak momen yang dibagi bersamanya. Hingga julukan pasangan sempurna sering disematkan pada kita dan pasangan.

Advertisement

Saat melihat senyumnya memang semua terasa sempurna. Begitu pula saat pelukan hangatnya merengkuh tubuh kita yang sedang ringkih karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Panah cupid memang tak salah sasaran, kita dan dia menjadi pasangan paling bahagia.

Namun kesempurnaan itu sebenarnya tak pernah ada. Meski berdua terlihat sempurna, kita dan pasangan bukanlah dua pribadi yang selalu sejalan. Nyatanya hubungan ini tak jarang diisi dengan perdebatan yang melelahkan. Sesekali bersitegang mempertahankan argumen, masing-masing merasa paling benar, dan ujung-ujungnya saling menyalahkan. Harusnya dari sini membuat kita sadar, bahwa tak ada hubungan yang akan selamanya tenang. Gejolak justru menunjukkan bahwa hubungan ini memang nyata. Seiring argumen yang saling dipertahankan, membuat kita dan pasangan memang harus mau untuk berkompromi.

Untuk beberapa hal dalam dirinya, ada yang kita benci setengah mati. Hingga sesekali tanpa berpikir panjang ingin segera mengakhiri

terkadang dia membuat kita benci setengah mati via www.logancoleblog.com

Pertengkaran dan perdebatan yang terjadi tak jarang memancing rasa benci kita pada pasangan. Saat adu mulut terjadi, dia kadang kelewat gigih mempertahankan argumen hingga memaksa kita untuk menurutinya. Namun sayangnya, kita juga sering memiliki ego yang kelewat tinggi hingga tak pernah mau mengalah.

Ego yang saling bertabrakan dan masing-masing merasa paling benar membuat kita kadang benci setengah mati dengannya. Rasanya membuat kita kembali berpikir, mengapa dulu kita memilih untuk menjalani hari bersamanya. Kadang kita juga menjadi terlalu gegabah, sesumbar untuk segera mengakiri saja. Ada masa ketika kita benar-benar merasa bahwa kita memilih orang yang salah. Itu adalah ketika emosi masih merajai pikiran.

Tapi atas apa yang selama ini telah terjadi, semakin memperlihatkan bahwa tidak akan ada hubungan yang sempurna. Kita cuma butuh legawa, untuk bisa saling menerima

kita cuma butuh legawa via www.logancoleblog.com

Namun kalau dipikir lagi, pertengkaran dengan dia tak pernah benar-benar membuat hati kita memar dan hancur berantakan. Ada penyesalan yang mendesak masuk ke kalbu di akhir perdebatan.

Pertengkaran dengannya selalu jadi ajang intropeksi diri, agar kesalahan yang sama tak akan pernah terulang lagi. Kita toh akhirnya segera sadar, bahwa memang tak pernah ada pasangan yang benar-benar sempurna. Satu-satunya yang harus kita saling lakukan adalah mau saling menerima.

Legawa adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan rumitnya hubungan dua anak manusia. Tapi meski begitu, kita cuma butuh satu hal ini. Untuk bersama dengan orang yang memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan kita, perlu kelegaan dan keikhlasan hati yang luar biasa. Setiap harinya kita perlu makin melebarkan hati. Agar ada tempat tersisa untuk keikhlasan yang tak boleh berbatas.

Legawa untuk memaafkan, legawa untuk menerima kritik, dan juga legawa untuk menurunkan ego meski kita tahu tak sepenuhnya salah.

Mempertahankan hubungan bukan soal mencari siapa yang paling benar dan yang paling salah. Namun bagaimana sikap kita untuk tak besar kepala meski dalam posisi yang benar dan tak merasa dipojokkan ketika memang melakukan kesalahan. Kita memang harus mulai pandai menempatkan diri. Bersama dia yang tersayang, harusnya rasa sabar semakin besar. Bukankah kesabaran seharusnya memang tak ada batasnya?

Jadi sudahkah kamu mencoba untuk legawa menerima pasangan?