Dear Bung-Nona, Berhubungan Seks Sama Pacar Itu Bukan Bukti Cinta!

Fenomena pasangan yang sudah melakukan hubungan suami-istri sebelum menikah bukan lagi jadi hal yang asing. Longgarnya pengawasan orang tua, kontrol diri, pergeseran pemikiran, hingga menjamurnya tempat hiburan yang menawarkan “kesempatan” jadi penyebab makin maraknya fenomena ini.

Apakah kamu dan pasangan juga berkeinginan untuk melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan? Merasa sudah siap dan rela memberikan tubuh dan jiwamu seutuhnya padanya? Berpikir bahwa dengan melakukan hubungan seksual bisa membutuhkan cinta kalian sepenuhnya?

Hmmm…bukannya ingin memberitahumu apa yang seharusnya kamu lakukan. Apapun keputusanmu nanti, sebelum melakukan hubungan seksual dengan pacarmu, ada baiknya kamu baca artikel ini dulu.

1. Seks Memang Ekspresi Kasih Sayang, Tapi Dia Bukan Satu-Satunya Bukti Cinta

Harusnya seks bukan jadi satu-satunya bukti cinta

Harusnya seks bukan jadi satu-satunya bukti cinta via mileswag00.tumblr.com

Tanda cinta paling dalam bukan hanya dibuktikan lewat kesepakatan untuk membiarkan penis pria memasuki vagina wanita. Cinta juga tidak selamanya harus ditunjukkan lewat rengkuhan dan lenguh nikmat yang dibagi dalam kamar. Harus diakui, hubungan seksual memang tidak bisa dipisahkan dari proses mencintai antara sesama manusia. Tapi ia bukan komponen mutlak yang harus ada dalam setiap hubungan cinta.

Seks tidak berperan seperti kartu garansi yang bisa membuat sebuah hubungan cinta langgeng. Ia memang bisa melekatkan hubungan antara 2 orang manusia, tapi tidak ada yang menjamin bahwa cintamu dan pasangan bisa bertahan setelah kalian sepakat untuk melakukan hubungan seks pra-nikah.

Masih banyak pembuktian cinta lain yang bisa dilakukan kok selain hubungan seksual. Mendukung impian pasanganmu, menjadi partner berbagi, menyemangatinya dalam mengejar cita-cita misalnya. Bukankah hal-hal itu lebih bermakna dibanding sekedar setuju untuk berhubungan seksual dengannya?

2. Kamu dan Pacarmu Juga Nggak Jadi Lebih Keren Hanya Karena Pernah Tidur Bersama

Pernah tidur bersama tidak serta merta membuatmu lebih keren

Pernah tidur bersama tidak serta merta membuatmu lebih keren via www.homevixcom.com

Ngobrol soal aktivitas seksual dengan pacar sudah bukan lagi jadi hal yang asing dalam pergaulan sehari-hari. Entah didasari apa, banyak anak muda yang “berlomba” untuk memamerkan pengalaman seksualnya dengan pasangan. Biar dianggap tidak ketinggalan dan banyak pengalaman, mungkin.

Saat ini kamu dan teman-teman seumuran bisa merasa lebih “keren” jika sudah pernah merasakan pengalaman berhubungan seksual. Saking inginnya diakui, demi bisa mendapat cap “keren” dan “dewasa” tidak jarang kalian bahkan saling mengarang cerita. Membesarkan pengalaman yang belum tentu nyata.

Tapi ketahuilah, kelak saat kamu sudah dewasa dan secara rutin melakoni aktivitas seksual dengan pasangan yang legal — berbagai cerita yang kamu bagi selama muda itu tidak akan lagi relevan. Kamu akan tahu bahwa hubungan seksual tidak perlu diumbar ke khalayak ramai. Hanya kamu dan pasanganlah yang berhak tahu detil dari kehidupan kalian yang paling intim kalian.

3. Mau Dirayu Sedahsyat Apapun, Otoritas Atas Tubuh Harusnya Tetap Terletak di Tanganmu

Harusnya otoritas atas tubuh tetap berada di tanganmu

Harusnya otoritas atas tubuh tetap berada di tanganmu via www.finchandfawn.com

Berdalih gak bisa menolak rayuan pacar sehingga mau diajak berhubungan seksual olehnya? Hmm…yakin nih itu bukan alasanmu saja?

Ingatlah bahwa kamu selalu punya daya untuk menolak ajakan pacar yang ingin membawamu ke ranjang. Kenapa? Karena yang akan dia jamah itu tubuhmu. Kamulah yang seharusnya punya kendali atas apa yang akan terjadi padanya. Saat kamu memutuskan untuk menolak dan berani berkata “Tidak”, saat itu pulalah otoritasmu pada tubuh yang kamu miliki mencapai titik absolutnya.

Tidak ada orang lain yang berhak melakukan apapun pada tubuhmu tanpa mendapatkan persetujuan dari pemiliknya. Kamu memang mempercayakan hatimu padanya, tapi ini bukan berarti kuasa atas tubuhmu juga berada di tangannya. Selalu ingat dan yakinilah bahwa komando tertinggi yang bisa dipatuhi tubuhmu hanya boleh datang dari mulutmu. Cinta tidak sepatutnya membuatmu kehilangan kendali atas tubuhmu sendiri.

4. Kamu Tidak Berhutang Apapun Pada Pacar yang Kamu Cintai Itu

Kamu tidak berhutang apapun pada pacar yang kamu cintai

Kamu tidak berhutang apapun pada pacar yang kamu cintai via soo-cute.tumblr.com

Kamu: “Duh, nyesel nih gue. Kok ya gue mau ya diajak tidur sama si Andi. Takut hamil gue.” 

Teman: “Lah, udah tau bakal nyesel. Kok lo mau diajak tidur sama dia?”

Kamu: “Iya, habisnya dia baik banget sama gue selama ini. Mana enak gue kalau nolak?”

Rasa tidak enak pada pasangan yang telah mendampingi dan banyak membantu bisa jadi alasan seseorang menyetujui ajakan untuk berhubungan seksual. Kasih sayang yang diterima selama ini sering diibaratkan sebagai hutang budi yang harus dibayar, sedang hubungan seksual adalah cicilan yang bisa jadi pelunasnya. Coba deh pikirkan lagi, apakah benar kamu dan pasangan memang sedang saling “berhutang”?

Bukankah hubungan cinta sepatutnya dijalin atas kesepakatan bersama? Saat ia memberikan kasih sayangnya padamu, ia juga akan menerima kasih sayang yang minimal sama besarnya darimu. Walau kamu cuek dan tidak ekspresif sekalipun, kehadiranmu tetap akan mengisi lubang kosong di hatinya.

Jangan pernah merasa berhutang pada pasangan sehingga seolah kamu harus membayarnya dengan hubungan seksual. Jika dia memang benar mencintaimu, dia tidak akan berlaku seperti tukang kredit yang terus mengejarmu sampai cicilan terbayar. Pasangan yang baik tidak akan menghitung berapa banyak kasih sayang yang telah ia berikan, ia justru hanya akan berfokus untuk memberikan upaya terbaiknya demi membahagiakanmu.

5. Berhubungan Seks Sama Pacar Tanpa Melibatkan Hati Itu Omong Kosong

Seks tanpa melibatkan hati itu omong kosong

Seks tanpa melibatkan hati itu omong kosong via newgenerationforgod.org

Banyak anak muda tidak berpikir panjang sebelum memutuskan mau diajak berhubungan seksual. Merasa bahwa “bobo-bobo-unyu” sama pacar tidak akan mempengaruhi apapun dalam hidup mereka. Satu yang kerap terlupa, bagaimanapun hubungan seksual tetap akan memunculkan ikatan emosional yang kuat di antara para pelakunya.

“Kan gak pake hati, cuma mau seks-nya aja.”

Tidak segampang itu, Bung dan Nona! Saat kamu bersedia berhubungan seks dengan pasangan, tubuhmu akan mengeluarkan hormon yang membuatmu terikat pada pasangan. Sensasi yang diberikan seks pada otakmu juga bertindak selayak candu, ia bisa membuatmu haus ingin kembali merasakannya.

Maka paling tidak akan ada 2 dampak yang kamu terima bukan? Pertama, kamu akan terikat padanya; kamu pun akan terus menginginkan sensasi kenikmatan yang serupa. Tidak sedikit lho anak muda yang merasa terbebani setelah melakukan hubungan seksual dengan pacar. Mereka menyalahkan diri sendiri, kecewa, takut kehilangan pacar — hingga memutuskan melakukan tindakan irasional.

“Melakukan hubungan seks tanpa melibatkan hati itu hampir mustahil. Yang mungkin terjadi justru melakukan hubungan seksual tanpa berpikir panjang sebelumnya, alias tidak melibatkan otak.”

6. Kalau Dia Sungguh-Sungguh Peduli Padamu, Pacarmu Harusnya Gak Keberatan Kalau Kamu Menolak

Jika dia sungguh sayang, dia tidak akan keberatan saat kamu menolak

Jika dia sungguh sayang, dia tidak akan keberatan saat kamu menolak via www.finchandfawn.com

Seorang pasangan yang sungguh peduli tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendak hati paling jujur. Dia tidak akan memaksakan keinginan pribadinya padamu tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Bukan sayang namanya kalau yang dia kejar cuma tubuhmu dan kenikmatan pribadinya semata.

Ketika kamu merasa dia sudah bertindak “terlalu jauh” dan memintanya untuk berhenti, seorang pacar yang sungguh-sungguh menyayangimu akan menghargai keputusanmu dan segera menghentikan tindakannya. Jika dia terus merengek agar kamu mau membuka baju dan berhubungan seksual dengannya, justru kamu perlu curiga: “Apakah benar dia cinta? Atau hanya nafsu saja?”

Pada akhirnya, keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan hubungan seksual pra-nikah tetap kembali ke tanganmu. Hipwee yakin kamu sudah cukup dewasa untuk menimbang segala risiko yang mungkin muncul dari tindakanmu.

Hanya saja, ingat, berhubungan seks dengan pacar bukanlah satu-satunya bukti cinta yang bisa kamu tunjukkan padanya. Masih ada cara-cara lain yang bisa kamu lakoni demi membuktikan rasa cintamu.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat puisi dan penggemar bakwan kawi yang rasanya cuma kanji.

53 Comments

  1. Dyahhayu berkata:

    Siiiiip…………… 🙂

  2. Widodo AR berkata:

    Hipwee.com emang berguna untuk saya… Thanks Hipwee.com

  3. Francisca Zozol berkata:

    Hmmmm.. Buat gw sih, seks itu salah satu cara untuk have fun… Toh gak perlu dilakukan dgn pacar/pasangan legal.. Dengan siapapun bisa, asal memang kita yg menginginkannya. Kl udah pernah having sex dengan lebih ddari5 cowok, rasa “terikat” itu gak akan terlalu terasa lagi…
    Tapi free sex jg bukan untuk semua orang.. Itu cuma untuk orang2 yg gak terlalu religius lagi n bisa bertanggung jawab dgn semua hal yg udah dia lakukan.

  4. Wahai anak muda klo kamu menyesal telah melakukan hub badan dg pacar. Untuk menebusnya hanyalah: segera menikahinya.

  5. Mau religius / nggak, asal bisa & berani mempertanggungjawabkannya aja di hadapan Tuhan nanti… 😛

  6. jauhi lah sex kalau ingin jadi orang yng baik

  7. Wih,, bner bngit..
    bisa mmbantu nich sma ABG2 skrh…

  8. Zaka Ria berkata:

    Sungguh bermanfaat

  9. Masak iya melulu soal religius atau enggaknya? Dari segi kesehatannya juga buruk lho, emang gak dipikirin? Nikmat sih sekarang, tapi ntar?

    Ada sebuah cerita nih dari seorang dokter namanya dr. Posma Budianto Siahaan, Sp.PD, FINASIM

    ‘Dari Mata Keranjang, Turun ke Selangkangan, lalu Turun lagi ke Lutut Kaki’

    “Nyeri sekali, Dok. Lutut kanan saya sudah seminggu ini membengkak, demam, dan tidak enak badan.” Kata bapa-bapak 40 tahunan yang tampak dengkul kanannya berwarna kemerahan, teraba hangat dan membesar.

    “Ada riwayat terjatuh atau terbentur di dengkul, Pak?” Tanya saya.

    “Tidak, Dok. Tiba-tiba saja nyeri-nyeri beberapa hari yang lalu dan lama-kelamaan tambah membengkak dan nyerinya tambah.” Katanya.

    Ini sudah jelas ada radang sendi yang ‘septic’, maksudnya ada kumannya. Tetapi apa penyebabnya harus diperiksa dahulu dengan anamnesia (riwayat medis seseorang) yang mendetail sampai kehidupan perkwinan, aktivitas sexual, olah raga, pekerjaan berat, makanan yang banyak dikonsumsi dan lain-lain.

    Selanjutnya dilakukan aspirasi (penyedotan) cairan sendi oleh dokter bagian rematologi dan contoh cairannya dibiakkan di laboratorium selama 7 hari. Dari tes itu didapatkan hasil cairannya keruh, berbentuk nanah yang bau sekali serta kuman yang tumbuh adalah jenis gonorrhoe.

    “Wah, Pak. Ini kumannya biasanya kuman penyakit kelamin yang tidak diobati secara baik, lalu menyebar dari pembuluh darah ke sendi.” Kata saya setengah berbisik kepada si bapak supaya pasien lainnya dan istrinya tidak mendengar.

    “Iya, Dok. Memang saya ada diajak teman sesama petani karet ke ‘cewek nakal’ beberapa minggu lalu. Sempat kencing panas dan keruh sedikit, tetapi langsung saya obati dengan membeli obat antibiotik di apotik.” Dan hebatnya si bapak ini langsung diberi saja antibiotik oleh penjaga apotik setelah memberitahukan sakitnya kencing panas dan sedikit bernanah.

    “Sembuh?” Tanya saya.

    “Ya, sesekali masih sering ada bercak-bercak lengket di celana dalam dan gatal, tetapi tidak sepanas pertama kali.” Katanya.

    Nah, itulah akibatnya kalau makan antibiotik sembarangan setelah kencing nanah akibat mata keranjang. Nikmatnya mungkin hanya beberapa menit, namun berminggu kemudian dapat terjadi komplikasi sakit kencing nanah yang diobati ‘tanggung’ lalu menyebar ke sendi.

    Untuk kasus seperti ini perlu rawat inap karena antibiotiknya harus injeksi dan cairan sendi bernanah di lutut kanan itu harus dikeluarkan sebanyak mungkin.

    Jad kalau cinta dari mata turun ke hati maka di kasus ini penyakit datang dari mata yang berkeranjang, lalu ke selangkangan, dan berakhir di lutut kaki.

    courtesy: dr. Posma Budianto Siahaan, Sp.PD, FINASIM