[Eksklusif] Sayang, Inilah yang Harus Kau Tukar untuk Sebuah Pertemuan

demi sebuah pertemuan

Tahun 2011, kala itu aku harus berdampingan dengan musuh terbesarku. Sesuatu yang tidak bisa kuhindari dan di sisi lain juga tidak bisa kulawan walau sudah berusaha mati-matian. Mungkin sebetulnya bukan hanya aku, malah kurasa seorang preman kelas kakap pun akan kehabisan tenaga untuk melawannya, karena memang ini bukan sebuah hal yang bisa diatasi hanya dengan logika melainkan harus melibatkan perasaan.

Lagi-lagi, brengseknya, seberapa kuatpun kulampiaskan ini, tak akan pernah habis ia. Ia akan semakin tumbuh, berkembang, beranak pinak dan kadang mengganggu dalam lelap.

Sampai sini sudah bisa menebak sosok siapa yang kubicarakan ini?

Namanya rindu. Ia bisa menjelma jadi apa saja, seringkali jadi perasaan yang sulit dibicarakan dengan kata-kata tetapi bisa mempengaruhi tingkah laku.

Tahun 2011, sahabat baikku adalah hubungan jarak jauh yang walaupun tak seberapa tapi tetap saja tumbuh setiap kali pertemuan itu berakhir. Sempat kusebut ia sebagai hal yang brengsek, karena bagaimana tidak? Semakin rindu, semakin ingin bertemu, dan setelah bertemu, rindu ini tidak akan hilang, bahkan ia akan bertambah lagi.
Menahun kupelihara rindu, hanya sesekali kusampaikan pada pemiliknya. Ini bukan perihal siapa yang lebih berani bicara, tapi tentang betapa besar kepala ia nanti jika Ia akhirnya tau bahwa perasaan yang kurawat ini jauh lebih besar dari apapun yang ia duga-duga.

“Kamu gimana kabarnya, di sana?”

“Aku baik, hanya sibuk sekali. Sulit untuk bisa berangkat ke tempatmu.”

“Tak apa, aku hanya memastikan kamu baik-baik saja.”

“Kangen aku, nggak?”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

Not that millennial in digital era.