Putus cinta atau patah hati bukan lagi hal yang baru, tapi entah kenapa sampai sekarang masih saja jadi momok menakutkan untuk siapapun. Meski ada sebagian orang yang mencoba tegar dengan berdalih aku bahagia meski nggak sama kamu’. Ada juga yang lebih bijak, kalau dirinya sudah cukup bahagia melihat orang yang dia sayangi bahagia meski dengan orang lain. Rasanya memang patut untuk dijadikan contoh, memotivasi jiwa-jiwa yang dilanda resah karena hatinya pecah.

Tapi apa iya kalimat tegar nan bijaksana itu benar-benar diamini oleh hati dan pikiran. Mengingat hati dan pikiran yang gelisah seringnya sulit sekali didamaikan. Memang bahagia itu kamu yang buat, tapi ada kalanya dirimu sendiri nggak bisa menampik rasa sedih. Tapi lagi-lagi, atas alasan tertentu akhirnya kamu berujar bisa bahagia meski tanpanya. Padahal itu semua omong kosong belaka, sebab nyatanya hatimu masih sendu, pikiranmu masih semrawut. Akui saja, saat hatimu sedih, ungkapan bahagia tanpanya itu tak lebih kabut yang menutupi perasaanmu sendiri.

1. Bahagia ada karena keterikatan antara kamu dan dia. Kalau tak ada keterikatan lagi, bagaimana bisa kamu bahagia karenanya

Bahagiamu dulu memang tentangnya, tapi sekarang? via dylandsara.com

Kamu ingat sebelum perpisahan datang, kalian tertawa bersama-sama. Bahagia saat itu terlihat tak hanya milik kamu saja, tapi juga miliknya. Bahagia pun tak hanya tercipta dari dirimu saja, tapi juga darinya. Dulu bahagia bagimu sesederhana keberadaan sosoknya dan kebersamaan kalian. Tapi sekarang, saat sosok dan kebersamaan kalian tak ada, apa iya kamu masih bisa merasa bahagia? Bukankah bahagiamu kini harusnya sudah berubah? Dan bukankah perubahan itu butuh proses?

Kamu memang patut dan pasti bisa berbahagia meski tanpanya. Tapi sebelum sampai pada fase itu, kamu sendiri harus perlahan menghapus keterikatan antara bahagia dengan sosok serta kebersamaan kalian. Menghapus pun bukan hal mudah. Kamu perlu menyesuaikan diri dengan keadaan, entah sampai berapa lama. Alih-alih kukuh dengan ucapan “aku bahagia meski tanpa kamu” diumbar, lebih baik kamu berdiam. Toh kamu sendiri belum tahu, kelak alasan bahagiamu yang baru itu apa.

2. Nyatanya ‘aku bahagia’ itu sugesti, yang jadi tameng agar sedih tak datang terlalu sering

Advertisement

mencoba tertawa meski hati masih sedih via dylandsara.com

Kamu nggak hanya bilang ke dirimu sendiri, tapi juga orang lain kalau kamu bahagia tanpanya. Orang lain sudah pasti menganggap itu hal yang positif. Setidaknya membuat mereka tak lagi khawatir dengan kondisi perasaanmu. Tak salah juga ungkapanmu ini. Hanya saja orang perlu tahu, ungkapan “aku bahagia…” sebenarnya bukan sepenuhnya sikap yang murni membuatmu bahagia saat ini. Sebab bisa jadi, ucapan yang diulang-ulang olehmu ini sebuah sugesti belaka, untuk menghalau kesedihan datang seenaknya.

3. Meski ada kalimat ‘aku baik-baik saja’ yang jadi sugesti, saat lihat dia sama yang lain tetap saja perih di hati

sakit lihat kamu sama yang lain via dylandsara.com

Punya sugesti yang positif itu hal yang luar biasa baik. Bantu perasaan dan pikiranmu sedikit tenang karena tak diburu kesedihan, perlahan-lahan juga memberimu semangat untuk bangkit. Tapi sayangnya, kadang sugestimu ini kalah dengan kenyataan lain, seperti saat melihat dia sudah berbahagia dengan orang yang baru. Kamu tak bisa membohongi dirimu sendiri, perasaan tak rela itu muncul begitu saja. Dan mau sebijak apapun kamu, hatimu yang belum sembuh betul pasti sedikit merasakan rasa sakit lagi.

Bahagiamu masih tertahan oleh proses penyembuhan luka di hatimu ini.

4. Bisa jadi ‘aku bahagia’ pun sekadar gengsi, supaya orang tak melihat betapa terpuruknya kamu tanpa dia di sisimu lagi

gengsi lah kalau kelihatan terpuruk via elizabethwellsphoto.com

Namanya orang, kadang ada yang benar-benar berempati dengan keadaanmu, tapi kadang ada yang sebaliknya masa bodo bahkan pura-pura berempati. Atas dasar itu, kamu akhirnya menjadikan ungkapan “aku bahagia tanpa dirinya” itu wujud gengsi. Biar nggak ada orang yang sok kasihan dengan kesedihan dan keterpurukanmu. Biar orang pun tak lantas menyepelekan pribadimu. Biar orang tahu kamu bisa menjalani semua fase awal tanpa sosoknya.

5. Dulu memang kamu berbahagia karena sosoknya. Tapi sekarang saat dia tak ada, bahagiamu bukan lagi tentangnya

bukan lagi kamu sumber bahagiaku via dylandsara.com

Kalau dulu kamu pernah bahagia dengannya, anggap saja itu anugrah yang ada di masa lalu. Toh kenangan baik memang seharusnya tak perlu dihapus atau dihindari. Tapi biar itu tak selalu jadi beban, harusnya kamu punya prinsip baru. Bukan cuma ungkapan, “aku bahagia meski tanpa kamu,” tapi juga perlu kamu tambahi “sebab bahagia sekarang memang bukan lagi tentangnya lagi.”

Ada banyak hal lain yang bisa jadi alasan kamu bahagia. Tak melulu tentak sosok pasangan. Bisa jadi orang tua, saudara, teman, karir, hobi, bahkan dirimu sendiri. Intinya bahagiamu ini tak lagi terkait dengannya. Jangan sampai ada ucapan, kalau aku sudah cukup bahagia asalkan lihat dia bahagia meski dengan orang lain. Terlalu disayangkan kalau bahagiamu sesempit itu.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!