Pacaran yang visioner bukanlah sekadar memadu kisah kasih klise. Seharusnya, momen ini disikapi sebagai kesempatan fantastis untuk belajar bermain peran kekeluargaan. Itu baru visioner; berpikir ke depan dengan teliti dan tepat sasaran. Pasalnya begini. Rumah tangga itu rumit, apalagi soal keuangan. Salah-salah, bisa menimbulkan masalah. Bayangkan saja, semasa pacaran tidak pernah sama sekali menyentuh soal-soal keuangan karena dianggap sensitif, lalu mendadak dihadapkan pada pembagian peran yang mengagetkan saat membangun rumah tangga.

Kejutan macam itulah yang membuat kebanyakan pasangan kerap tergelincir di awal pernikahan. Nah, untuk itu belajarlah soal bagi peran soal keuangan semenjak pacaran. Sebab strategi macam itu dapat dijadikan patokan kesiapan menyambut pernikahan. Lalu bagaimana strategi itu? Nah kira-kira beginilah kisi-kisinya.

 

1. Kamu siap nikah kalau setiap makan bayarnya patungan. Ini salah satu tanda sederhana atas keinginan untuk menanggung biaya dalam kebersamaan.

nah gini kan adil via www.salaminzaghi.com

Memang sepele, makan bayar patungan. Tapi tak berarti juga harus makan satu porsi terus dibagi dua. Patungan di sinilah adalah menanggung bersama biayanya, berdua. Misalkan habisnya agak banyak karena pacarmu yang makannya lebih banyak, ya bukan berarti dia yang harus bayar lebih banyak juga. Tagihannya tanggung berdua tak peduli seberapa banyak makanan yang dilahap masing-masing. Jika telah melakukannya, maka setidaknya kalian telah belajar bagaimana hidup sepenanggungan.

Selain itu, tidak ada yang namanya traktir mentraktir. Masing-masing harus sadar bahwa ini adalah kesederhanaan menuju kebersamaan. Tak usahlah memperlihatkan betapa pedulinya satu dengan yang lain. Justru ketika bayar bersama menjadi kebiasaan, maka kepedulian bukan lagi menjadi barang langka yang patut dikejar-kejar.

2. Atau ada kesepakatan ringan. Misalnya, kamu yang bayar bensin, dia yang bayar makan.

Advertisement

Bisa juga berbagi peran dengan melihat kemungkinan pengeluaran. Tak usah rumit-rumit, yang sederhana saja. Misalnya, hari ini kamu yang bayar bensin, dia yang traktir makan. Besoknya lagi gantian, dibalik. Ini merupakan latihan sederhana menaruh diri dalam peran yang sesuai. Kalau kamu adanya cuma buat beli bensin, ya udah isi tangki motormu, biar pacarmu yang menanggung makan. Begitu juga sebaliknya.

Ini salah satu bentuk kerjasama yang berangkat dari perkara sepele yang kerap diremehkan. Padahal kalau dibiasakan, hasilnya akan luar biasa. Tiada lagi gengsi di antara kalian berdua dan sikap saling pengertian akan semakin berkembang. Untuk itu, kalian lebih siap naik ke podium pelaminan.

3. Nah, kalau kondangan, isi amplopnya juga bagi dua. Ini bisa ngirit sekaligus mengurangi pengeluaran makan. 

Selamat ya!

Ada juga saat-saat di mana kalian berdua sama sekali tak punya uang untuk makan. Ini lumayan seru dan bikin deg-deg’an. Mau minta orangtua udah enggak sanggup lagi. Nah kebetulan, temen ada yang nikahan. Momentum macam ini adalah kesempatan berharga yang tak sopan untuk dilewatkan. Untuk itu, kalian berusaha mengumpulkan recehan demi dapat memberi amplopan. Tak usah sungkan, bekerjasamalah dengan pacarmu untuk membuat amplop sedikit lebih tebal.

Selain ngirit, strategi ini juga cukup ampuh untuk memperpanjang usus agar tak selalu berteriak kelaparan. Uang yang masih tersisa bisa buat makan dan isi bensin esok hari. Syukur-syukur kalau bisa nabung, supaya kalian bisa berada di podium dengan senyum mengembang, entah kapan.

4. Ini juga berlaku kalau mau kasih hadiah ke teman yang ulang tahun. Biaya kadonya dibagi sama rata atau dibuat sama-sama.

Ini kado kami!

Peristiwa lain yang patut dijadikan ajang melatih kerjasama adalah ulang tahun teman. Biasanya, kalau pacaran udah lama, temannya adalah temanmu juga. Nah untuk itu, kadonya satu aja, enggak perlu dua-dua’an. Inilah peluang untuk membuat; memutuskan; dan membungkus kado secara demokratis. Jadi enggak ada cerita tebeng menebeng. Misalnya karena dia adalah temanmu, maka pacarmu nebeng gitu aja. Cara begitu memang tak ada salahnya, hanya saja kurang mengena untuk pembelajaran kerjasama di segala lini saat masa pacaran.

Lagipula, kalau kadonya dibuat bersama, maka kesan romantis akan menggema dari diri kalian berdua. Tuh, dari satu peristiwa aja udah dapat banyak hal. Hemat, belajar kerjasama, romantis, sekaligus dilihat agak pelit. Tapi tak apa, biarkanlah orang bicara apa, yang penting kalian berhasil belajar mengelola peran.

5. Soal mencari hiburan juga demikian. Dia yang bayari nonton, kamunya yang beli popcorn plus bayarin makan. Adil kan?

Sama-sama suka via citradindaa.blogspot.co.id

Nah, pembagian peran juga bisa berlangsung ketika kalian sedang dalam masa liburan ringan. Dia yang bayar tiket bioskop, kamunya yang beli popcorn. Nah, asik kan? Segalanya secara jadi milik bersama. Sebenarnya bisa aja sih tiket bioskopnya beli sendiri-sendiri terus beli popcornya patungan. Bebas. Itu terserah kesepakatan kalian berdua. Tak ada benar salah soal porsi mana yang pas dalam membagi beban biaya. Intinya adalah distribusi peran yang seimbang. Kalaupun dia sudah bayar tiket, ya berusahalah bagi dirimu untuk mengeluarkan biaya yang setara, tak perlu sama. Belikan dia popcorn dan soda, lalu ajak makan setelah girang menonton drama. Sungguh, ini sederhaa sekali, tapi jarang disadari sebagai permainan peran yang menyenangkan.

6. Ini sederhana sih. Kalau dia ulang tahun, jangan lupa kasih kado. Nah, habis itu langsung tagih traktir makan-makan.

Surprisenya di restaurant, sekalian makan via monca.tumblr.com

Mungkin inilah satu-satunya pembagian peran yang natural dalam pacaran. Sebab, kerap terjadi di luar arena pacaran, sehinga serasa seperti kebiasaan. Kamu memberikan dia surprise, dan jangan lupa minta traktir makan yang agak spesial. Ini bukan soal tagih menagih dan utang-piutang, melainkan belajar menjadi manusia yang pengertian.

Tak usahlah terlalu serius dengan mengaitkan aktivitas macam ini adalah sikap pelit dan itung-itungan. Bukan itu, intinya adalah membangun cinta yang responsif. Toh kalau dengan teman, dirimu bisa memberi surprise dan traktir sepuas diri, kenapa dengan pacar kamu selalu minta dilayani? Perilaku setara macam ini sebaiknya dipupuk sedari awal demi sebuah keseimbangan peran antara kamu dan dirinya, sehingga tak terjadi dominasi yang berat sebelah.

7. Kalau anniversary? Dia yang kasih hadiah, kamunya yang traktir makan. Atau bisa juga tak perlu hadiah-hadiah, cukup makan malam spesial dengan biaya patungan. 

Gini kan adil via monca.tumblr.com

Nah ini, di antara kalian berdua pasti ada permainan perayaan hari jadi. Masing-masing akan memberi hadiah yang spesial. Tak masalah, beri saja dia hadiah yang menurutmu menarik. Tapi setelah itu ajak makan enak dan tagihan akan dibagi dua dengan adil dan merata. Niscaya, perayaan hari jadi akan lebih berkesan. Atau bisa juga, misalnya : kalian berdua membeli barang yang kalian sukai dan ingini sejak lama dengan patungan, sekaligus jadi harta gono-gini. Kan lumayan tuh buat tabungan kalau-kalau putus di tengah jalan. Atau bisa juga, misalnya : salah satu dari kalian yang membeli kado buat berdua; dan yang satu membayar tagihan malam itu. Bebas. Mana saja boleh, asalkan diputuskan bersama dan dalam koridor kerjasama.

8. Jalan-jalan bareng ke luar kota. Misalnya, kamu yang bayar hotelnya, dia yang bayar tiket kereta plus biaya masuk area wisata.

Terakhir, ini yang paling menuntut skill pembagian yang adil. Satu hal seksi yang diingini setiap pasangan adalah travelling bersama. Nah bersyukur jika kamu mendapatkan kesempatan itu. Pembagian peran bisa dilakukan dengan menjabarkan pos anggaran yang patut diantisipasi. Bagilah pos itu dengan kemampuan masing-masing yang berimbang dan setara. Banyak skenario yang bisa digunakan dan kami yakin kamu tahu apa yang harus dilakukan. Kesepakatan apa saja bukanlah masalah asalkan diputuskan dengan kesadaran. Jangan sampai asal tunjuk, sebab sikap macam ini akan berpotensi menghadirkan kerusuhan di perjalanan.

Nah, itulah tanda-tanda pengelolaan keuangan di masa pacaran yang dapat membawamu pada kesiapan yang mumpuni untuk menggelar rumah tangga. Jangan mencari kesamaan yang radikal, cobalah buat pembagian peran yang seimbang. Ini bukan soal nominal, melainkan tempaan mental di masa-masa yang sungguh spesial.